
Akad nikah pun terucap dengan sempurna tanpa cela, dan akhirnya kini Bia sah menjadi istri seorang Brandon si wajah batu.
Semua tanggung jawab akan berpindah tugas pada Brandon, dan dia harus menyanggupi itu selama satu tahun ini.
"Cium kening istrimu, Brandon!" titah Bara yang duduk di samping adiknya itu. Suasana haru biru menyelimuti hatinya. "Pegang puncak kepalanya juga," tambahnya.
Brandon melakukan apa yang diperintahkan oleh Kakaknya. Dia mendekatkan duduknya pada Bia, wanita yang telah menjadi istrinya itu, menarik pelan kepala Bia dan mengecup dahi Bia, tidak lupa dia juga meletakkan tangannya di atas pucuk kepala istrinya sesuai perintah Bara. Setitik air mata jatuh membasahi pipi Bia, bukan karena rasa kebahagiaan, tapi karena tidak menyangka dia akan menikah dengan cara seperti itu.
"Selamat, kalian sudah resmi menjadi suami istri. Cepat-cepat berikan kami keponakan yang lucu dan menggemaskan, ya!" seru Belle, kemudian dia tergelatak kencang.
"Selamat membelah sesuatu!" seru Rey membuat Bia wajah Bia semakin merona. Tidak lama kemudian, karma langsung menimpanya, sebuah cubitan kecil namun pedih mendarat mulus di kulit perutnya.
"Jangan usil mengganggu mereka!" ucap Rena sambil merapatkan giginya.
"Maaf," ucap Rey, jika sudah berhadapan dengan Nyonya rumahnya, nyalinya pasti langsung menciut.
"Kalian pasti lelah, kan? Masuk dan beristirahatlah!" seru Bara pada sepasang pengantin baru itu.
"Nanti saja, Kak. Kami masih mau berkumpul bersama kalian," tolak Brandon.
"Bia!" panggil Wila, Bia menoleh pada Bibinya yang terlihat pucat meski sudah memakai riasan, tubuh Bibinya terlihat semakin ringkih, namun senyumanya tetap tulus seperti dulu.
"Bibi!" Bia memeluk tubuh Wila yang terasa semakin kurus, hal itu semakin menguatkan keyakinannya kalau Bibinya sedang tidak baik-baik saja.
"Bia, selamat! Jadilah istri yang baik dan bertanggung jawab terhadap suamimu. Terimalah semua kekurangannya juga, jangan jadikan tugasmu sebagai istri sebagai beban. Lakukanlah dengan hati yang ikhlas, keikhlasan itu akan membawamu pada kebahagiaan!" ucap Wila sambil menghapus air mata Bia yang mulai mengalir.
"Bibi, aku sayang Bibi...." seolah tidak mendengar nasihat Bibinya, Bia malah mengucapkan kata sayangnya dan memeluk Wila semakin erat.
"Bibi, jujurlah pada Bia, jangan sembunyi apapun!" pinta Bia dalam isakan tangisnya.
Mata Wila membulat sempurna. Dia mengguraikan pelukan mereka dan menatap lekat wajah Bia, berusaha mencari sesuatu dari sorotan matanya.
"Kamu bicara apa, Bia?" tanya Wila takut-takut, sebenarnya itu adalah sebuah pancingan. Jika Bia mengetahui sesuatu, gadis itu pasti akan langsung mengutarakannya.
"Bibi, jika ada sesuatu yang tidak bisa Bibi tanggung sendiri, berbagilah beban pikiran itu pada Bia, Bi!" jawaban Bia membuat Wila lega, ternyata Bia belum tahu perihal sesuatu yang sedang menimpanya saat ini.
"Bibi tidak apa, Bia. Bibi harus pulang sekarang, kamu baik-baik di sini, ya!" Wila menyentuh pundak Bia dan mengusapnya perlahan dan raut wajahnya ikut berubah sendu.
"Bibi tidak mau menginap di sini menemaniku?" pinta Bia manja seperti biasanya.
"Bia, sekarang kamu harus mengerti, kamu adalah seorang istri, maka lakukanlah tugasmu sebagai seorang istri, jangan lagi bertingkah seperti anak kecil kecuali saat kamu bermanja pada suamimu dan dia menyukai itu!" tukas Wila.
__ADS_1
"Bia mengerti, Bibi!" jawabnya dengan wajah tertunduk.
Wila melepaskan genggaman tangan Bia dan menghampiri Embun dan keluarga Wirastama yang lainnya. Dia berpamitan dengan mereka dan kembali pada Bia, mengusap lembut pipi keponakannya itu dan pergi meninggalkan Bia bersama keluarga barunya.
Setelah Wila sudah menghilang dari pandangannya pun, Bia masih berdiri di tempatnya, masih berharap Wila akan kembali dan membawanya pulang. Meskipun keluarga barunya sangat baik, tetap tidak mudah baginya untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru.
Hal itu tidak lepas dari pengamatan Embun. Embun mengerti, dia juga pernah berada diposisi yang sama dengan Bia, masuk ke rumah orang lain memang belum tentu bisa nyaman seperti di rumah kita sendiri.
"Bia, gantilah gaunmu, setelah itu bergabung bersama kami!" ucap Embun.
"Baik, Kak."
*****
"Bia, makan malam yang banyak. Jangan malu-malu, ya, anggap saja rumah orang!" cetus Brandon, berusaha berbicara banyak di depan anggota keluarganya.
"Hahaha, Iya Un ... Sayang! Biasanya juga malu-maluin kok, hehehe!" jawabnya gugup.
Hampir saja aku memanggilnya Uncle!
"Kalian tidak berencana membuat acara mewah?" tanya Bara disela-sela makan mereka.
Brandon dan Bia saling melempar pandang dan kompak menggeleng.
"Bulan madu?" tanya Brandon memastikan.
Bia susah payah menelan makanannya, dirinya baru sadar telah salah bicara, kegugupan memang bisa menghancurkan segalanya. Jadi, dia terpaksa mengikuti permainannya sendiri.
"Iya, Sayang! Kamu lupa dengan rencana bulan madu kita?" tanya Bia seolah-olah agenda bulan madu itu sudah terencana sejak lama.
"Mungkin saja aku lupa!" serunya datar.
"Setelah makan kalian langsung istirahat saja, kalian pasti lelah," ucap Hansel.
"Hansel!" suara bariton Bara mengejutkan pria lajang playboy itu.
"Kenapa, Dad? Apa aku salah bicara?" tanyanya tanpa mau disalahkan.
"Kau juga mau dinikahkan?" tanya Bara, menusuk Hansel dengan tatapan tajamnya. Tapi, putra nakalnya itu tidak merasa sakit dengan tatapan sang Daddy, dia merasa pisau yang dilayangkan Ayahnya berkarat.
"Kalau boleh, bulan depan aku juga mau menikah!" serunya riang.
__ADS_1
"Dengan Valeri?!"
"Apa? mana mungkin aku menikah dengan gadis itu!" protesnya cepat.
"Daddy hanya merestui kamu menikah dengan Valeri!" tukas Bara.
Valeri hanya menundukkan wajahnya, tak sekalipun dia berani menatap Hansel jika kejadiannya sudah seperti ini. Sedangkan Rena dan Rey terlihat biasa saja karena mereka menganggap itu hanyalah guyonan biasa.
Setiap mendapatkan ancaman seperti itu, Hansel langsung beralih dan mengadu pada Brandon, berharap Pamannya itu bersedia membantunya.
"Paman...?" rengeknya dengan wajah tersiksa.
"Aku sudah siap, kami masuk dulu," potong Brandon membawa Bia pergi dari meja makan.
"Aku sudah selesai!" ucap Gavin, Argha, dan Hansel bersamaan. Mereka kompak meninggalkan meja makan.
"Aku juga sudah!" sambung Daniel, Rey, dan Bara yang ikut menyusul putra-putra mereka.
"Mommy, kenapa mereka bisa kompak begitu?"!tanya Hilsa keheranan.
."Entahlah, kita lanjut makan saja!" sahut Belle juga tidak mengerti.
Di dalam kamar, sejak tadi Bia hanya duduk di tepian ranjang sambil *******-***** jemarinya. Meskipun Brandon pernah mengatakan tidak akan melakukan hal yang tidak dia sukai, tapi kegelisahan tetap menguasai hatinya.
Dia dikejutkan dengan Brandon yang tiba-tiba duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Brandon juga menjadi semakin berani dengan mendekatkan wajah mereka hingga deruan nafas mereka terasa.
"Uncle, apa yang kamu lakukan?" tanya Bia berbisik.
"Ssssttt!" Brandon menaruh telunjuknya di atas bibir Bia. "Panggil aku Sayang!" pintanya.
"A-apa? Ke-kenapa kau tidak menepati ja-janjimu?" sungguh Bia tidak terima.
"Karena kita sudah berakting sampai ke tahap ini, maka kita harus meneruskannya sampai mereka semua benar-benar yakin."
Bia sama sekali tidak mengerti dengan penuturan Brandon, keningnya berkerut dalam memberikan isyarat bahwa dia tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Bia.
-Bersambung-
Jangan lupa untuk berikan like, komentar, gift (hadiah), dan vote. Berikan juga bintang 5 ya guys karena itu sangat penting untuk author🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️