
Smart fortwo passion Aksa terus membelah jalanan Desa Bejijong Kecamatan Trowulan. Menuju Petilasan Siti Hinggil.
Setelah memarkirkan kendaraannya di tempat yang teduh. Aksa segera menuju ke meja loket. Mengisi buku tamu dan memasukkan selembar uang donasi.
Sejak pertama kali memasuki area Siti Hinggil, Aksa merasakan hawa sejuk. Di sekitar area banyak pepohonan besar yang membuatmu rindang. Sehingga membuat suasana nampak asri.
Belum lagi sekeliling petilasan yang masih berupa persawahan.Menambah keelokan lokasi.
Ica sudah berkali-kali menjepretkan kamera ponselnya dimana-mana. Baik yang berswaphoto ataupun berdua dengan Aksa.
Di pintu masuk ada dua gapura kuno. Semakim ke dalam ada punden dan bangunan yang ditinggikan.
Siti Hinggil sendiri merupakan bahasa jawa. Siti artinya tanah dan hinggil artinya tinggi. Jadi Siti Hinggil artinya tanah yang tinggi atau tanah yang agung. Bisa dikatakan demikian karena Siti Hinggil dipercaya sebagi petilasan pendiri kerajaan Majapahit.
Yupzz tempat semedinya Raden Wijaya.
Berbagai ornamen khas jawa dan Majapahit menambah kekhasan tersendiri petilasan tersebut.
Di dalam area petilasan juga terdapat makam yang dipercaya sebagai makam Raden Wijaya pendiri sekaligus Raja pertama Majapahit.
Selain Raden Wijaya, ada juga makan Kanjeng Ratu Gayatri, Permaisuri Raden Wijaya. Berstatus Garwo Padmi. Makam Dara Petak yang merupakan istri kedua Raden Wijaya serta Dara Jingga istri ketiga Raden Wijaya. Keduanya berstatus sebagai Garwo selir.
Selain keempatnya ada lagi makam Ki Sapu Jagad dan Ki Sapu Angin. Yang dipercaya sebagai ajudan Raden Wijaya. Karena lokasi makamnya berada di luar komplek bangunan utama.
Ica mengajak Aksa berkeliling sambil menceritakan tentang Siti Hinggil.
"Mas Aksa... kepala Ica pusing..."
Brug
Ica udah jatuh aja ke tanah.
__ADS_1
\=====================================
Ica berada di sebuah perkampungan dengan bentuk rumah dari gedeg ( bambu yang dianyam ) beratapkan genting tanah liat.
Ica mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.
Mencoba menerka, ada dimana dia sekarang.
Karena dia belum pernah berkunjung ke perkampungan ataupun dusun seperti ini.
Apalagi kondisi semakin gelap. Tiap rumah mulai menyalakan penerangan di rumahnya masing-masing. Bukan penerangan listrik, tapi lampu tempel.Oblek. Begitu sebutannya.
Ica semakin jauh berjalan. Entah dia sendiri juga tidak tahu mau kemana. Hanya berjalan-jalan saja. Menikmati malam yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Mungkin jika ada Mbah Oppi atau Mbah Yun dia bisa bertanya, nama Dusun tersebut.
Ica jadi teringat cerita-cerita dari Mbah Oppi, Mbah Yun tentang zaman dulu. Ketika belum ada listrik.
Ica kembali menghubungkan cerita Mbaknya dengan suasana malam ini. Ada yang beda.
Ica kembali berpikir.
Ica duduk di sebuah bangunan mirip pos ronda dari kayu.
Ica masih duduk sambil mengamati perkampungan tersebut. Rasa penasarannya lebih besar dibandingkan rasa takutnya.
Dan ketika Ica memandangi dirinya. Ica tersadar pakaian yang ia kenakan bukanlah celana jeans dan kaos denim lagi.
Ica yang sekarang mengenakan pakaian khas ala jawa tempo dulu. Berkain kemben, Namun masih tertutup dengan kain panjang tipis. Ada beberapa perhiasan di leher, tangan dan telinga.
Ica meraba-raba perhiasan yang menempel di tubuhnya. Bukan perhiasan biasa. Ica bisa merasakan harga perhiasan yang ia kenakan sangat mahal. Tekstur dan warnanya beda dengan perhiasan di pasaran.
"Berat." Gumamnya
__ADS_1
"Antingnya seperti ada permatanya." Ica meraba anting di telinganya yang terasa lebih berat dari yang biasa ia kenakan.
Ica menyandarkan tubuhnya, menyelonjorkan kakinya yang mulai kesemutan dan yerasa pegal, berharap ada seseorang lewat agar bisa ia tanya.
Tapi harapan tinggallah harapan. Sampai hampir dua jam tidak ada satu orangnya yang terlihat lewat.
"Apa mereka sekarang sudah tertidur?" Kata Ica kepo.
Ica hampir memejamkan matanya, saat seseorang berteriak, "Ndoro... Ndoro Adistya...."
"Aku seperti pernah tahu nama itu, tapi siapa ya?" Ica menoleh kanan kiri mencari sosok yang namanya diteriaki sama seorang wanita yang dia perkiraan berusia lima puluhan tahun.
Wanita yang berteriak-teriak itu, berhenti dihadapan Ica sambil terengah-engah.
"Ndoro... dalem keliling peken keliling dusun mboten nemok aken Ndoro. Lha kok Ndoro ten mriki, to piyambakan."
( Nona.. saya keliling pasar, keliling kampung tidak bisa menemukan Nona. Ternyata Nona di sini sendirian. ) Mata Ica melebar Mulutnya membulat membentuk huruf "O" spontan. Ternyata Ibu itu mencari dirinya.
\=====================================
To be continue yaa....
ada apa dengan Ica???
makasii yaa.. buat dukungan teman-teman...
terus dukung ya...
like, komen, vote dan rate nya selalu aku tunggu
makin cinta deh sama kalian
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍