
"Mas, pelaku penusukannya Mas Alit." Bisik Adistya
Narendra auto mendelik, tak percaya.
"Darimana kamu tahu kalo pelammmm....." Ucap Narendra
Adistya auto membekap mulut Narendra.
"Hussst... jangan berisik Mas." Kata Adistya sambil memberi kode telunjuk dia letakkan dibibirnya.
"Ini..." Jawab Adistya menyerahkan belati tersebut kembali ke Narendra.
" Kok bisa.?"Narendra masih belum yakin.
Adistya menarik tangan Narendra, meletakkannya di pangkal belati. Dimana lokasi tempat ukiran nama "Alit".
"Kamu raba, Mas." Titah Adistya.
"Ada yang timbul, Dis." Jawab Narendra.
"Baca." Adistya masih dalam mode memerintah.
Narendra menggeleng.
"Aku gak bisa baca aksoro beginian." Bisik Narendra lirih.
"Hii hi hiikk.." Auto Adistya ketawa lucu.
"Gak usah pake ketawa gitu. Gak lucu tau." Narendra mode nesu.( marah )
"Itu bacanya Alit. Siapa lagi di sini yang namanya Alit. Kalo bukan Kakang e Mas Narendra." Sahut Adistya lirih. Takut ada yang mendengar.
__ADS_1
Narendra membuang napas kasar, menahan amarahnya. Tangannya mengepal sangat kuat. Dan menggebrak meja kayu di depannya.
"Mas..." Adistya terperanjat menoleh memandang Narendra.
"Mas.. Mas Narendra udah janji gak marah." Bisik Adistya manja.
"Tapi Dis.." Bantah Narendra
"Husstt...." Adistya pidah ke sebelah Narendra.
"Cup..." Flash kiss sudah disiapkan Adistya sebelum mengatakan sesuatu.
Narendra terdiam sejenak, menyadari ada yang menyentuh bibirnya.
"Sudah berani nakal ya sekarang.. .." Balas Narendra, yang hanya di balas senyum manja oleh Adistya.
"Awas ya...aku balas nanti." Bisik Narendra.
"Aku tunggu..." Bisik Adistya menantang.
"Deal.." Sorak Narendra.
"Mas izinkan aku berbicara dengan Raden Alit." Adistya menatap penuh harap kepada Narendra.
"Gak bole.." Bantah Narendra.
"Mas..," Ucap Adistya lirih.
"Sebetulnya kisah cinta Mas Alit itu lebih rumit dari cinta kita. Mas Alit memiliki banyak wanita si sekelilingnya. Calon Permaisuri harus wafat mendahuluinya." Adistya menarik napas panjang.
"Raden Alit pasti sangat terpukul." Adistya mengenggam tangan Narendra.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakan padanya bahwa akan datang cinta kepadanya. Bukan dari aku. Karena aku bukan tipe wanita yang bisa berbagi milikku."
"Aku hanya ingin menjadi satu-satunya dari seorang pria. Tak ada wanita lain." Bisik Adistya kepada Narendra.
"Apa kamu tahu siapa wanitanya Mas Alit selanjutanya?" Kata Narendra sambil menyibakkan rambut Adistya ke belaka g telinga.
Menatap penuh cinta gadis di depannya itu.
"Seorang keturunan China seperti aku. Tan Eng Kian. Setelah itu ada juga Dewi Wandan Kuning." Kata Adistya menjelaskan seperti yang ia tahu.
Narendra masih menatap Adistya.
"Percayalah... Aku juga tidak ingin meperkeruh keadaan. Aku ingin pernikaha kita damai. Tanpa ada intimidasi dari Kakang e Mas Rendra." Adis balas menatap Narendra.
Tatapan keduanya bertemu. Jantung kedua berdegup. Baik Adistya maupun Narendra berusaha menguasai hati konflik jantung masing-masing.
Saling membuang muka. Dan melempar pandangan ke sembarang arah..
"Hep hee hee he..." Tawa Adis dan Narendra bersamaan.
"Kenapa?" Tanya Adistya.
"Lucu aja..Kayak anak kecil." Bisik Narendra.
"Haa ha haa..." Adistya lanjut tertawa tanpa beban namun masih dalam porsi wajar.
Narendra segera memeluk Adistya membenakan kepala gadis itu di dadanya.
"Mas, janji yaa...jangan jauh-jauh dari aku. Jangan ada perempuan lain selain. Cukup aku di hati kamu. Gak bole niru Romo atau KakangMas kamu itu." Bisik Adistya Manja, dengan mengeratkan pelukannya..
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1
Sabar ya..
next part again