Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Kotak


__ADS_3

Zain, masih menatap jilidan buku kuno dari benang yang kertasnya berwarna kuning hampir tak terlihat tulisannya.


Zain membaca covernya, Tulisan Jawa kuno. Jika dibaca bunyinya, Adistya.


Tujuh tahun lalu...


Saat itu ia masih kelas delapan.


Zain membantu ayahnya bersih-bersih rak buku. Mata Zain tertuju pada sebuah kotak dari kayu berukir sangat elegen.


"Ayah ini apa?" Tanya Zain penasaran.


Ayah meminta kotak ditangan Zain. Pelan-pelan ayah membukanya.


"Ayah belum pernah membuka isinya. Tapi inj dulu ayah dapat dari Kakek ayah." Jawab Ayah.


"Ambil dan simpananlah..." Kata Ayah.


Zain begitu girang diberi kotak itu.


Belum sempat Zain menanyakan banyak tentang kotak itu. Ayah meninggalkannya selama-lamanya.


Zain begitu terpukul. Akhirnya Zain mencari sendiri tentang keberadaan kotak kuno tersebut.


Dimulai dari bahannya.


Setelah mencari dari berbagai sumber dan bertanya ke sana kemari. Akhirnya Zain tahu kotak itu terbuka dari kayu jati. Ukirannya seperti pahatan era majapahit, Zain mengetahui ini ketika berkunjung ke museum bersama Ica waktu itu.

__ADS_1


Bahkan Zain bisa memperkirakan kotak itu berasal dari abad ke-15. Zain pun ber WOW saja waktu. Saat menyadari ada benda bersejarah di rumahnya.


Tapi rasa penasarannya belum habis. Zain membuka kotak kuno tersebut.


Dan Zain kembali takjub, isinya ternyata buku. Bisa jadi buku tersebut juga berasal dari zaman yang sama.


Dengan sangat berhati-hati Zain mengeluarkan buku tersebut. Berat. Begitu kesan pertamanya.


Zain membolak balik buku dengan kertas berwarna kuning tersebut.


Dengan sangat hati-hati, ia membuka buku tersebut. Tulisannya Jawa Kuno.


Hatinya mencelos kala itu. kecewa. Gak bisa baca.


Tapi bukanlah Zain jika ia dengan mudahnha berputus asa.


"Ca, ikut gak? aku mau ke perpus?" Ajak Zain


"Mau dong..." Jawab Ica antusias.


"Naik onthel ya.." Pinta Zain.


"Naik angkot aja deh, Zain. Aku yang bayar ntar..." Suara Ica memelas.


Ica kasihan aja sama Zain tiap hari selalu memboncengnya kemanapun.


"Ya udah deh.. sepeda titipin parkiran aja... yang di deketnya pasar itu looo..." Kata Ica.

__ADS_1


"Kok, kamu tau? Hayooo...." Ledek Zain.


"Lhaa kan ada tulisannya gedee buanget Zain, PENITIPAN SEPEDA." Bantah Ica.


Zain hanya tersenyum memandang sahabatnya itu.


Tak bisa ia pungkiri, Ica begitu cantik. Tidak hanya wajahnya tapi hatinya sangat baik.


Ica tidak pernah menyombongkan keluarga keluarganya. Bahkan Ica terkesan sangat sederhana. Makanpun tak pernah pilih-pilih. Jika Zain membandingkan dengan beberapa teman wanita di kelasnya. Ica adalah yang terbaik.


Yang lain hanya menutupi kekurangannya di sana sini agar tak nampak. Sedangkan Ica. Ia apa adanya.


Dikelaspun terkenal cuek dan pendiam. Sampai Zain yang mengajaknya bercakap-cakap terlebih dahulu.


Hingga membuatnya sangat nyaman saat bersama Ica. Ica tak pernah protes saat diajaknya jalan pakai onthel bahkan makan dipinggir jalanpun Ica gak pernah mempermasalahkan.


Kini Zain sudah bersama Ica di dalam angkot.


"Kenapa Zain? Senyum-senyum gitu?" Tanya Ica curiga.


"Gak pa_pa." Jawab Zain masih tersenyum memandang Ica. Untung saja di dalam angkot hanya ada lima orang termasuk dirinya dan Ica.


"Ca, seandainya kamu udah punya pacar. Masih mau gak nemenin aku jalan-jalan kayak gini." Gumam Zain sambil berpindah ke samping Ica.


"Ya, aku cari pacarnya yang juga bisa nerima kamu Zain. Kalo dia gak bisa nerima kamu, mending gak usah pacaran."


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2