
Narendra masih bersimpuh di ranjangnya. Menatap Adistya yang tergolek lemah. Emban yang mengasuhnya sejak kecil, hanya bisa tersenyum kecut. Menghadapi kenyataan Ndoro Bagusnya begitu terpukul.
"Dis... aku tidak paham pengobatan tradisional model gini... Tapi aku selalu optimis, kamu bisa siuman." Gumam Narendra sedih.
"Seandainya kita bisa balik ke zaman kita. Di sana banyak dokter terbaik yang bisa membuatmu membuka mata." Narendra semakin sedih.
"Den, pasrahaken datheng Sang Hyang Widi. Gusti Pengeran mboten sare. Ndoro Ayu tiyang e kuat. Raden nggeh ngoten kudu kuat. Ndoro Ayu sampun ngorbananken awake damel Raden. Cobi Ndoro Ayu mboten wonten, Raden ingkang disunuduk. Welas asih e Ndoro Ayu pun sak mestine Raden regani. Raden mboten pareng paringi tatu male datheng Ndoro Ayu.." Sang emban menasehati Narendra selayaknya ibu.
( Den, serahkan semua kepada Tuhan. Gusti Alloh tidak tidur. Nona itu orangnya kuat. Raden ya sama harus kuat. Nona sudah berkorban untuk Raden. Coba tidak ada Nona, Raden yang tertusuk. Cinta Nona ke Raden harus Raden hargai. Jangan sampai membuat Nona terluka lagi.... )
Narendra menyandarkan kepalanya ke paha emban yang sudah mengasuhnya sejak kecil bahkan sudah menganggapnga sebagai ibu.
Karena hanya emban inilah yang selalu menemaninya siang malam atas perintah Romonya tentu saja.
"Mbok... atiku loro tenan karo wong sing wani nggawe tatune Adistya." Umpat Narendra
( Mbok... hatiku sakit sekali dengan pelakunya )
"Den, panjenengan sampun matur kalian tiyang sepahe Ndoro Ayu?" Ujar si Emban tenang, mengalihkan topik Narendra.
( Den, orang tua Nona apa sudah dikabari? )
"Wis Mbok, maeng si Jono karo Paijo tak utus tindak nyang omah e Adistya." Ujar Narendra.
( Sudah Mbok, aku tadi meminta Jono dan Paijo ke rumah Adistya )
"Mbok, kowe iso ngganteni bobok e Adistya?" Tanya Narendra.
__ADS_1
( Mbok, kamu bisa menggantikan salep dan pernah Adistya )
"Saged Raden" Jawab Emban.
( Bisa, Raden )
"Yen ngunu, ben isuk, awan karo bengi. Aku di baturi yoo Mbok.." Pinta Narendra masih dengan suara memelas.
( Kalau begitu, tiap pagi, siang dan malam. Aku dibantu, ya Mbok.)
Sepasang suami istri, nampak berjalan tergopoh-gopoh menuju bilik Narendra. Dua orang prajurit dari tadi mengawalnya dengan cemas.
Yups... keduanya adalah Baba dan Emak Adistya. Bersama Jono dan Paijo.
"Assalamu'alaikum... " Sapa Baba Wang Se. Baba Adistya
Narendrapun bangkit memberi salam kepada kedua orang tua Adistya.
Narendra mengajak kedua ke ranjang dimana Adistya istirahat. Baba dan Emak melihat putrinya seakan tertidur dengan menahan perih di bahunya.
"Den, pripun kedadiyane?" Tanya Baba dengan tegar. Sedangkan Emak sangat terpukul melihat putri kesayangannya terletak tak berdaya.
( Den, bagaimana kejadiannya )
Tak terdengar suara cerewet dan manjanya. Emak duduk di tepi ranjang. Mengelus rambut Adistya.
"Nduk.. ndang tangi. Iki Emak... Kowe sesok jare arep akad. Emak karo Baba wis nyiapke kabeh ane. Ndang melek yoo Nduk." Butiran kristal mengalir deras tanpa bisa Emak bendung lagi.
__ADS_1
( Nak, cepet bangun. Ini Emak.. Kamu besok akan menikah. Emak sama Baba sudah menyiapkan semuanya. Segera buka mata ya, Nak )
"Mak... Emak kudu kuat, kudu ikhlas. Pasrah marang Gusti Alloh." Tutur Baba.
( Mak, Emak harus kuat, harus ikhlas. Pasrah dengan Gusti Allah )
"Emak sampun pasrah Ba, nanging ningali Adis ingkang kados ngeten. Emak mesak aken Ba. " Kata Emak.
( Emak sudah pasrah Ba, tapi melihat Adis seperti ini. Membuat Emak kasihan. )
Baba mengelus rambut istrinya.
💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠
**Perasaan seorang ibu sangatlah halus dan peka. Apalagi jika menyangkut anaknya.
Begitupun yang dirasakan Emak Adistya. Dyah Ambika.
Kita lanjut di part berikutnya ya**...
❤ jadi fave , klik jempolnya 👍🏻, tulis komentar 📝, kasi vote 💯 seikhlasnya dan sebanyak-banyaknya dan klik rate di ⭐5
always it
Tengkyu all
I love You so much 😍 😘 💕
__ADS_1