
Aksa mengemudikan honda jazz Ica dengan kecepatan sedang. Tujuan mereka adalah mencari lokasi Zain jaga.
Lokasi awal yang akan mereka datangi adalah candi tikus. Saat Aksa memasuki area pelataran candi, ia melihat beberapa pegawai sedang sibuk membersihkan lokasi.
"Mas, Zain sekarang jaga dimana ya?" Tanya Aksa sopan.
"Zain jaga di pendopo." Jawab cowok itu dengan tatapan penuh selidik.
"Lhoo Mas Aksa.." Sapa seorang cowok lagi dari belakang kantor.
"Mas Eko... apa kabar?" Jawab Aksa.
"Baik. Cari Zain ya?" Tanya Eko.
"Iya Mas.."
"Ooh.. si Zain di Pendopo Mas. Beberapa minggu ini ia tukar lokasi terus sama teman-teman." Ucap Eko
"Makasii yaa Mas Eko. Saya akan ke sana sekarang." Kata Aksa.
"Mas Aksa sendirian?" Eko menatap Aksa penuh selidik apalagi melihat kendaraan yang dikemudikan Aksa.
"Sama Ica, yuuk aah Mas Eko. Saya cari Zain dulu." Sungut Aksa sambil berlalu dari hadapan Eko.
"Salam ke Mbak Ica yaa Mas..." Teriak Eko yang hanya dibalas jempol oleh Aksa.
Aksa langsung masuk ke jok kemudi.
"Zain ada di pendopo." Ucap Aksa sambil memundurka kendaraannya keluar area Candi Tikus.
"Sepertinya Zain sengaja, nungguin kita di sana Mas." Gumam Ica sambil menatap Aksa yang masih mengemudi.
Aksa menatap Ica sekilas, tersenyum lalu fokus ke depan lagi.
"Bisa jadi." Ucap Aksa sedikit terlambat.
Mobil Jazz Ica sudah memasuki area parkir Pendopo Agung. Aksa memilih memarkirkan kendaraannya dibawah pohon beringin besar yang ada di pelataran.
Keduanya segera keluar dari mobil. Setelah kunci otomatis mobil Ica berbunyi, Ica dan Aksa masuk ke kantor, menemui Zain.
"Zain..." Teriak Ica begitu keduanya menapaki tangga gerbang masuk pendopo agung dan melihat pemuda itu sedang menyapu halaman kantor.
"Caaa...." Balas Zain ikut berteriak untung masih pagi jadi suara mereka berdua tidak mengganggu pengunjung yang hadir.
Sedangkan Aksa hanya terdiam melihat kedua sahabat itu saling menyapa dengan caranya.
Ica setengah berlari ke arah Zain diikuti Aksa yang mengikuti langkah Ica.
Ica dan Aksa menghentikan langkahnya tepat dihadapan Zain.
__ADS_1
Ica melakukan tos khas keduanya. Sebagai ganti pelukan. Keduanya menyatukan telapak tangannya, ditautkan lalu diputar terakhir saling menepukkan tangannya hingga berbunyi plak.
Sedangkan dengan Aksa, Zain hanya mengepalkan jarinya lalu mengadu jotos sekali sebagai tanda persahabatannya.
"Aku kira kalian lupa jalan pulang." Oceh Zain sambil terkekeh. Ia tak peduli perasaan kedua sahabatnya itu yang sedang panik.
"Zain jelaskan ke kita berdua. Apa setelah ini semuanya akan berakhir. Dan apa yang kamu lakukan selama tidak ada kita berdu" Tanya Aksa bertubi-tubi.
"Ck..ckck..ck... kalian ini nanya atau interogasi? Tuh pertanyaan juga banyak buanget." Zain hanya geleng-geleng kepada mendengar dirinya diberondong banyak pertanyaa. oleh Aksa.
"Hee.. hee..." Ica hanya terkekeh mendengarnya.
"Zain, asal kamu tahu kita berdua sudah panik gak ketulungan tahu gak sih. Dan kamu malah dengan santainya seperti tidak melakukan apa-apa." Oceh Aksa.
"Sontoloyo... Aku tiap hari disini nungguin kalian tahu gak? Sampai aku bela-belain tukar lokasi hanya buat nunggu kalian pulang. Ternyata kalian nyasar dimana pulangnya?" Balas Zain yang membuat Aksa dan Ica speechless.
"Aiis.. sudahlah. Mending kalian sarapan dulu. Aku yakin kalian berdua pada belum makan, kan?" Titah Zain sambil menunjukkan perut ke Aksa.
"Jangan kabur kamu Zain." Ancam Aksa.
"Ya Alloh anak ini. Kalo aku kabur gaji aku di potong sapa yang mau ganti. Dodol banget siih.." Zain menoyor kepala Aksa pelan.
"Haa haa haaa... Habis kamu aneh banget. Kita malah di suruh sarapan."
" Aku tahu kebiasaan kalian, kalo panik gini pasti lupa makan. Meskipun cewek ini jago makan. Udah makanlah dulu. Di depan udah banyak warung buka."
"Zain, pinjem motor." Pinta Aksa dengan memelas.
( Hadeeh.. orang laki tidak modal.)
"Ngomong kowe Zain. Dorong ngerti rasane gibengku yooo." Aksa menerima kunci motor Zain sambil menggenggam jarinya siap melalukan bogem.
(Ngomong apa kamu Zain. Belum pernah tahu rasanya tinjuku ya...)
"Udah ah Mas Aksa, Zain malu udah mulai banyak pengunjung. Lagian kamu tuh Zain hobi banget ngisengin Mas Aksa." Lerai Ica sambil menarik tangan Aksa menuju motor Zain yang berjejer rapi di lokasi parkir karyawan.
"Haa haa haaa...." Zain hanya tertawa puas mendengar Aksa hampir marah kepadanya.
💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
"Udah Mas, omongan Zain jangan dimasukkan ke dalam hati. Niatnya zain tadi pasti bercanda." Ica menenangkan Aksa yang masih pasang muka serem.
"Mas Aksa mau makan apa?" Tanya Ica kembali.
Aksa menarik napas dari hidung kuat-kuat lalu menghembuskannya dari mulut perlahan. Sampai emosinya benar-benar netral.
"Aku pesan makanan samain aja kayak kamu, Ca." Kata Aksa setelah bisa tersenyum kembali sambil menatap Ica.
"Bu, nasi pecel dua yaa...minum ya teh hangat dua." Ucap Ica kepada ibu penjual di warung.
__ADS_1
"Iya Ce.. Cece tunggu sebentar ya.." Ibu itu segera menyiapkan pesanan Ica.
Ica mengembangkan senyumnya mendengar panggilan yang disematkan kepadanya. Sudah lama rasanya tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Cece.
"Kok senyum-senyum sendiri, sayang?" Tanya Aksa begitu Ica kembali ke mejanya sambil tersenyum.
"Akhirnya aku bisa kembali ke dunia kita, Mas. Sudah ada yang manggil aku Cece. Disana panggilannya aneh." Ucap Ica masih dengan senyumnya.
"Waktu di sana, panggilan yang mereka sematkan sesuai kasta kita, Ca. Aku, Raden Alit dan Kanjeng Prabu berada di kasta ksatria. Mbok Bano, Mbok Ra mereka berada di kasta Sudra. Sedangkan keluarga kamu termasuk kaum Candala. Karena perkawinan Emak dan Baba yang berasal dari negara asing. Dan setelah aku keluar istana kastaku turun menjadi kasta waisya. Dan kasta tertinggi dari golongan kami adalah kasta Brahma. Mereka adalah para pemuka agama Hindu." Jelas Aksa panjang lebar.
"Iyaa.. juga ya Mas. Tapi kok mereka betah ya?" Akhirnya Ica melontarkan pertanyaan aneh yanh membuat Aksa geli.
"Ca, mereka hidup pada zamannya. Sedangkan kita hidup di zaman kita. Tentu saja mereka harus menghadapinya."
"Mas Aksa tu tidak, setelah masuknya islam akhirnya kasta ini berangsur hilang."
"Silahkan Mas. Silahkan Ce..." Ibu penjual warung itu menyajikan pesanan ica di mejanya.
"Makasi ya Bu." Ucap Ica.
"Makan dulu, Ca.Nanti kita lanjutkan ceritanya." Kata Aksa yang mulai menikmati suapan nasi pecelnya.
"Bu, kok ono wong Cino arep sego pecel yoo?" Ucap seseorang.
( Bu, kok ada orang China mau nasi pecel ya?)
"Husst.. omonganmu, Tum." Jawab yang lainnya.
( Husst.. bicaramu, Tum.)
"Lhoo enggeh Bu, biasane tiyang ngoten niku dahar e lak roti. Kados seng ten tivi-tivi niku loo." Suara yang pertama.
(Lhoo iya Bu,biasanya orang seperti itu makannya roti. Seperti yang di tivi-tivi itu loo.)
"Iku lak nang tivi, Tum." Balas suara kedua.
( Itu kan di tivi, Tum.)
Ica dan Aksa menguping pembicaraan dua orang dari dalam warung yang membicarakan Ica. Dan sepertinya mulai sekarang ia harus membiasakan diri dengan omongan orang tentang Ica.
Bersambung....
Zain belum cerita kan...
💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Terima kasih yaa semua
Atas dukungannya..
__ADS_1
i love you all
😘😘😘😘