Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Mimpi Aksa


__ADS_3

Ica terbangun dengan wajah dipenuhi buliran peluh yang menetes dari dahinya.


Napasnya yang tersenggal-senggal.


Dipandangnya sekeliling. Dicermatinya perabot dan apapun yang ia ingat.


Wajahnya mendadak lega, mendapati dirinya terbangun di kamar pribadinya.


Segera ia usap buliran keringat yang masih menetes tanpa henti.


Reflek Ica menoleh ke samping kanan, kembali wajahnya semakin lega. Suami tercintanya masih terlelap dalam mimpi yang tidak ia tahu berada di dunia belahan sebelah mana.


"Akhirnya," gumam Ica dengan nada terbata-bata.


"Aku bisa kembali ke duniaku," ucap Ica masih dalam hati.


"Sampai kapan aku terus berada dalam bayang-bayang Adistya. Sudah cukup aku tahu sekarang." Ica terlihat sangat lelah.


Entah apa yang barusan ia alami, mimpi ataukah nyata? Ica belum berani mengambil keputusan.


Baginya saat ini, bisa kembali ke dunia sesungguhnya dimana ia berada adalah yang paling diinginkan.


Cukup sudah petualangan bersama Aksa selama beberapa waktu ke dunia lampau.


Dunia yang tidak ia tahu dimana awalnya.


Ica meraih gelas di nakas. Tenggorokannya terasa haus dan kering. Ingin rasanya ia membangunkan Aksa dan menceritakan pengalaman yang baru dialami. Namun, ia tahan sampai pagi agar tidak mengganggu suaminya.


Segelas besar habis dalam sekali teguk saking hausnya atau saking leganya setelah mengalami kepanikan luar biasa.


Mana bisa ia tidur di samping lelaki yang bukan suaminya. Meskipun, pada prinsipnya mereka sama.


Bagi Ica, mereka tetap dua orang yang tidak sama. Narendra hidup di masanya dan Aksa ada di zamannya saat ini.


Mereka dua pribadi yang berbeda. Tak semua yang Aksa miliki ada pada Narendra. Begitupun sebaliknya.


Aksa memiliki pribadi yang hamble dan ramah. Sedangkan Narendra sosok yang tegas dan ramah.


Didikan istana yang ketat menjadikan Narendra memiliki karakter pemimpin seperti ayahanda prabunya.


Berbeda dengan Aksa yang terkesan slengekan dan tidak serius.


Ica kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, mencoba memejamkan mata, mengingat saat ini masih pukul tiga pagi.

__ADS_1


***


Aksa melangkah dengan ragu menuju sebuah bangunan sederhana yang sangat ia kenal.


Tetesan air dari langit yang semakin deras membuatnya terpaksa untuk berlari mempercepat langkah menghindari basah.


Pria muda itu segera mengetuk pintu begitu tiba di teras.


Perlahan ia mengatur napas sebelum mengucap salam.


Pintu terbuka lebar begitu ia selesai mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Kang Mas," balas seorang wanita cantik dengan senyum lembutnya.


Sesaat Aksa terkesan dengan wanita yang menyambutnya.


Pria muda itu begitu bahagia ada seseorang menunggu kedatangannya setelah seharia. bekerja.


Rasa lelah dan capek seharian rasanya terbayar lunas oleh senyum khas tersebut.


Aksa segera masuk dan duduk di kursi kayu yang dipenuhi ukiran indah.


"Kang Mas, badannya mbok yo di lap riyen." Wanita datang membawa kain lebar membersihkan tubuh Aksa dari air hujan yang tadi mengenai tubuhnya.


Wanita itu tampak mematung memperhatikan Aksa yang merebut ugasnya.


"Aku letakkan dimana kain ini?" tanya Aksa berdiri hendak mengembalikan kain yang digunakan sebagai handuk tersebut.


"Mboten udah Kang Mas. Dalem mawon ingkang jemur." Wanita ituv


menunduk tanpa berani menatap Aksa.


Mendadak Aksa merasa aneh dengan wanita di hadapannya.


Ia yang sadar saat ini berada di dunia lain dimana Narendra dan Adistya hidup, mencoba menggabungkan kepingan puzzle yang ia lewatkan.


Sebelum kembali ke dunia sekarang, ia merasa sudah memperbaiki hubungan kedua insan tersebut.


Lalu, dimana ia melewatkan adegan mereka.


"Baiklah," ucap Aksa yang saat ini berada di posisi Narendra.


Aksa menyerahkan kain lebar tersebut kembali pada Adistya.

__ADS_1


Wanita yang menjadi istrinya di masa lalu.


"Berarti dia Adistya yang asli. Lalu dimana Ica?" batin Aksa penasaran.


***


Langit masih dihiasi mendung yang menggantung dengan warna abu-abu kehitaman.


Aroma khas setelah hujan masih tercium dengan tajam.


Aksa yang merasa sudah lebih segar, bangkit dan berjalan mengitari rumah. Ia ingin memeriksa kondisi rumah yang pernah memberi kenangan indah padanya.


"Kang Mas, badge ten pundi?" tanya Adistya cemas dan panik.


"Gak nyang endi-endi. Mung arep muteri omah. Mbok menawi Ono sing gak bener," jawab Aksa sambil tersenyum.


Adistya yang mendengar merasa janggal dengan kegiatan suaminya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Namun, wanita itu seolah enggan membantah.


Ia lebih memilih diam dan Kembali ke dapur daripada berdebat dengan suaminya.


Aksa pun melanjutkan aktifitasnya karena merasa Adistya tidak keberatan.


Sepanjang perjalanan mengelilingi rumah, selalu ada saja kenangan yang ia ingat tentang Ica.


Semua yang pernah mereka lalukan saat tersesat.


Di halaman depan, Aksa masih bisa menyaksikan dua pohon mangga dan sebatang pohon pepaya tumbuh semakin tinggi dN berbuah lebat.


Di sisi kanan, Aksa menyaksikan aneka tanaman toga yang ia tahu hasil tanaman Istrinya, Ica.


Sedangkan di sisi kiri, Aksa memperhatikan beberapa tanaman umbi-umbian yang sekaligus bertugas sebagai pagar.


Di halaman belakang masih ada dua ekor ternak hadiah dari Kakak tirinya.


Aksa tersenyum bahagia melihat peninggalannya masih dirawat dengan baik.


"Siapa yang merawat, ya? Apa Mbok Ra atau Mbok Bano?


"""


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2