Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Dalam Perjalanan


__ADS_3

Kendaraan yang dinaiki Ica dan Aksa bergerak menjauh dari masjid. Sedangkan kedua keluarga sengaja memperlambat kecepatan karena memberi kesempatan kepada Ica dan Aksa untuk berduaan.


Zain dan Ara, sudah Pamit pulang sejak dua jam yang lalu. Lebih tepatnya setelah semua tamu pulang.


"Mas," panggil Ica lirih.


"Aku takut," bisik Ica.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Aksa.


"Tadi aku melihat, ada bayangan putih berdiri di pojokan halaman masjid," gumam Icha.


"Ngapain dia?" tanya Aksa sambil tetap fokus mengemudi.


"Orang itu menatap tajam ke arahku." Icha terlihat galau.


"Abaikan. Mungkin dia hanya ingin berkenalan." Aksa melirik sekilas wajah istrinya.


Pemuda berparas tampan itu mengelus lembut rambut Icha dengan harapan istrinya bisa lebih tenang.


Icha menghembuskan napas berat tanpa sanggup mengeluarkan kalimat apapun karena bisa saja yang dikatakan Aksa benar.


Bayangan yang ia lihat tidak bermaksud apapun.


"Senyum, dong," seru Aksa memaksa Icha menarik simetris kedua sudut bibirnya.


"Kita ingat yang indah-indah saja," bisik Aksa.


"Cha, masih ingat pernikahan kita di kraton?" ucap Aksa sembari mengingatkan Icha bagaimana prosesi adat yang mereka jalani.


"Masih," jawab Icha girang.


Entah mengapa tiba-tiba ada rasa bahagia saat Aksa mengingatkan kejadian sebelum mereka kembali ke masa sekarang.


Senyum Aksa tak urung mengembang mendengar suara riang Icha yang sudah kembali seperti sebelumnya.


"Aku jadi kangen sama Baba Wang dan Emak di sana," tutur Icha membayangkan wajah kedua orang tuanya di zaman Majapahit.


"Kapan kita bisa kembali bertemu mereka ya, Mas," gumam Icha lirih.


"Entahlah. Toh, semua kejadian sudah kamu luruskan." Aksa kembali mengulurkan tangan kiri membelai kepala Icha.


"Benar. Bisa jadi pernikahan kita adalah hari terakhir kita di sana. Mungkin juga Adistya dan Narendra yang asli sudah kembali ke rumah yang kita tempati sebelumnya." Icha mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


Kendaraan Aksa melaju semakin menjauh dari keramaian.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Icha menyadari arah yang ditempuh Aksa bukan menuju rumahnya.


"Pulang, kembali ke rumah kamu," jawab Aksa dengan tenang seakan tidak terjadi apapun.


"Tapi ini bukan jalan ke rumahku," ucap Icha panik.


"Kita harus putar balik!" sambung Icha menoleh ke belakang mencoba mengenali jalan yang mereka lalui.

__ADS_1


Kabut tebal putih menutupi pandangan Icha.


"Mas, kita ada dimana?" Icha memegang tangan Aksa rapat.


Gadis itu mulai kebingungan.


Aksa yang belum paham maksud Icha , menatap dari spion kanannya.


Asap tebal menyelimuti jalanan di belakang kendaraannya, sehingga tidak terlihat apapun.


"Tenang, Cha. Kita cari jalan bersama-sama," kata Aksa berusaha tenang karena jika ia ikut panik yang ada istrinya lebih ketakutan.


Aksa sadar istrinya bukan wanita sembarangan. Situasi yang mereka hadapi saat ini pun bukan situasi biasa.


"Kita ikuti saja jalan ini. Entah sampai mana ujungnya. Pasti ada sesuatu yang harus kita lewati. Sama seperti saat ini berada di kraton," ucap Aksa tanpa melepas setirnya.


Pemuda itu memang tidak ada pilihan lain, kecuali melanjutkan perjalanan dengan kondisi saat ini.


"Bantu aku dengan doa, ya!" gumam Aksa lirih.


Bibir Aksa yang sejak tadi komat Kamit baca berbagai doa, disusul Icha melakukan hal sama


Kecepatan sedang yang dipilih Aksa, memudahkan dirinya untuk mengenali keadaan sekitar.


"Sedikit berbeda saat pertama aku ke Surabaya," batin Aksa yang mulai mengenali kejanggalan di kanan kiri jalan.


Jika kemarin, ia dihadapkan dengan bangunan pencakar langit dengan jalanan lebar dan beberapa pagar besi pembatas rel.


Tidak ada pagar besi pembatas. Yang ada pekarangan luas dengan pagar kayu atau batadengan berbagai bentuk menurut perekonomian masing-masing pemiliknya.


Di mata Aksa tidak ada cela, semua tampak indah dan mempesona.


Tap!


Kendaraan Aksa tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Ada apa ini, Mas?" tanya Icha dengan kepanikan lebih tinggi.


"Entahlah. Mas Juga belum tahu." Aksa menatap Icha dengan wajah tenang.


"Aku periksa dulu, ya!" seru Aksa yang diangguki Icha.


Aksa gegas keluar setelah mendapat izin istrinya. Pertama yang ia perhatikan keadaan keempat roda, ternyata keempatnya tidak terjadi masalah apapun.


Aksa beralih ke mesin karena ia sudah tahu kondisi bensin sudah full.


Perlahan Aksa membuka kap penutup mesin, hanya untuk melihat keadaannya sebab ia bukan pemuda yang sangat mahir menservice kendaraan.


Aksa mendapati kendaraan yang ia naiki mesinnya baik-baik saja. Tidak ada yang salah baik di radiator dan lain-lainnya.


Aksa mulai menghembuskan napas panjang.


Perasaannya mendadak menjadi tidak enak.

__ADS_1


Diintipnya Icha yang menatap penuh harap.


"Cha, kita keluar dan cari tahu dimana lokasi kita sekarang!" ajak Aksa membuka pintu mobil tepat di sisi penumpang.


Aksa sempat menghubungi kedua orang tuanya, tetapi tidak ada sambungan di ponselnya.


Icha dengan berat hati turun dan menggenggam erat lengan Aksa.


"Aku kira semua sudah selesai, ternyata masih ada yang menyesatkan kita kembali,* bisik Icha merapatkan tangannya tanpa memberi jarak secenti pun pada lengan Aksa.


Pemuda itu tidak menolak sekalipun, ia hanya tersenyum dan ikut mengeratkan pelukan mereka.


Aksa yakin Icha saat ini bingung dan takut, sama seperti saat ia pertama kali berpetualang ke negeri Majapahit.


"Mas, kamu gak malu, kan? Aku peluk begini?" tanya Icha sambil berbisik


"Enggak. Sudah halal, kan," ledek Aksa berusaha melucu. Bahkan sesekali ia mengecup pipi Icha pelan.


Icha memukul lengan Aksa sambil tersenyum kecil.


Pemuda hanya meringis, meskipun pukulan Icha tidak terasa sakit sama sekali.


"Tak apalah sesekali memanfaatkan keadaan sambil romantisan." Aksa terus saja menggoda Icha agar panik dan takut istrinya menghilang.


"Modus," balas Icha.


Keduanya berjalan perlahan seraya menoleh ke kanan dan kiri.


"Hahaa, yuk! Kita ke sana!" Tunjuk Aksa menunjuk ke sebuah gubuk yang terlihat lumayan besar untuk beristirahat sejenak sembari mencari tahu lokasi mereka saat ini.


Harapan Aksa dan Icha, ada penduduk yang keluar atau sekedar berjalan-jalan sebab sejak tadi ia hanya melihat pemukiman sepi-sepi saja.


"Aaah," seru Icha lega begitu duduk di atas gubuk yang berbentuk panggung tersebut.


"Kira-kira ini kampung apa,y ya?" tanya Aksa lirih menatap Google map di ponselnya.


Ada rasa bingung juga karena ponselnya sejak tadi hanya loading saja tanpa tahu penyebabnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Icha mendekati Aksa yang duduk tak jauh darinya.


"Kayaknya gak ada sinyal," jawab Aksa menunjukkan ponselnya yang loading.


Icha yang penasaran, mengeluarkan ponselnya juga


"Sama." Icha menunjukkan monitor ponselnya


"Lalu ...."


"Apa ini?" ucap Aksa dan Icha bersamaan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2