
"Mas dia.." Ica dan Aksa bertatapan.
"Dewi Wandan Kuning." Ucap keduanya berbarengan.
Ara melangkah perlahan ke arah Aksa dan Ica yang masih pasang muka terkejutnya. Zain mengamit lengan Ara yang sudah mendekat ke arahnya.
"Sa.. Ca.. ini Ara." Zain mengenalkan Ara pada kedua sahabatnya.
Aksa dan Ica masih dalam posisi tertegun dengan pemandangan di depannya.
"Haii.. Aksaa.. Icaa..." Zain menjentikkan tangannya di depan Aksa dan Ica agar keduanya tersadar.
"Iya Zain.." Ica langsung menghadiahkan senyumnya kepada Ara seraya menyingkirkan tangan Zain. Begitu Zain menyadarkannya.
"Hai Ara.. maaf ya.. rumah kita hanya sepetak. Masuk yuuk.." Sambung Ica.
"Kalian kenapa? Aneh banget?" Tanya Zain.
Aksa dan Ica saling berpandangan.
"Gak ada apa-apa." Jawab Aksa dan Ica kompak.
"Ciyeee udah kompak aja kalian."
"Tapi harusnya sih gitu, jangan cuma kompak di kasur doang." Goda Zain sambil mencolek pinggang Aksa.
Keempatnya langsung masuk dan duduk di karpet di dalam rumah kos-an Aksa tanpa diinstruksi.
"Zain... elo mau bogem atau tinju." Protes Aksa.
"Idiih... jutek banget Bang jadi cowok." Ledek Zain.
"Zain, kamu belum tau kan rasanya dicium sama kakinya Aksa yaa.." Aksa pasang muka jutek tuuh.
Ica tertawa ngakak mendengar keributan kekasih dan sahabatnya itu. Sedangkan Ara yang baru pertama bertemu Aksa dan Ica hanya bisa terbengong.
"Aku gak mau tahu dan gak peduli kalo sampai terjadi apa-apa sama kalian berdua. Mending sekarang aku beli sarapan." Oceh Ica menghadapi kedua lelaki di depannya itu.
"Kalian belum makan kan?" Tanya Ica kembali.
"Tau aja kamu Ca. Beli yang enak yaa..." Celoteh Zain.
Ara yang mendengar hanya tersipu melihat Zain yang sepertinya gak ada jaimnya di depan pasangan ini.
"Suka-suka akulah. Aku yang beli. Mas, bagi duit buat makan." Kata Ica manja sambil memeluk Aksa yang ada di sampingnya.
"Widiiih.. kalian bener-bener yaa... Ra tutup mata kamu, mereka berdua ini bucinnya kebangeten dan gak tau tempat." Oceh Zain sambil menutup mata Ara.
Mendengar ocehan Zain, Aksa malah langsung nyosor aja di bibir Ica. Meski hanya sekilas.
"Kalian tega banget bikin mata bidadariku ini terkontaminasi. Untung udah aku tutup matanya." Komentar Zain.
"Sengaja.. weekk.." Ucap Aksa.
Aksa mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan diberikan kepada Ica. Ica menerima pemberian Aksa sambil memberikan kiss bye via bibir.
"Kalian berdua beneran. nyesel deh pagi-pagi nyampe sini. Malah dapet suguhan banyak adegan dewasa." Komen Zain.
"Bodo amat. Yuuk Ra, kamu ikut aku. Atau mau disini jadi saksi kunci percintaan mereka." Ucap Ica sambil menunjuk ke arah Zain dan Aksa.
"Ca.. sinting kamu.." teriak Zain
"Bodo amat.." jawab Ica cuek.
__ADS_1
"Sa... bini kamu tuhh.." Protes Zain.
Aksa malah ngakak parah ngeliat Ica godain Zain gak jelas kayak tadi.
"Aku gak ikut-ikut. Yuuk ah Zain, kita mau lanjut dimana?" Aksa malah meledek Zain dengan memberikan kiss bye ke Zain bahkan suaranya dibikin seseksi mungkin.
"Ayoo Ra... " Ajak Ica.
"Ntar kamu ketularan mereka looo..." Ica gak sabar untuk hengkang dari hadapan Zain dan Aksa.
Karena abis ini pasti aksi Tom N Jerry bakal berlanjut.
Ara yang sebenarnya bingung akhirnya memilih ikut Ica.
"Mas , aku ikut Mbak Ica yaa.." Pamit Ara yang hanya dibalas anggukan oleh Zain.
Setelah Ica dan Ara keluar.
Aksa tertawa ngakak gak jelas menatap Zain.
"Sa..gak lucu aaah.." Gerutu Zain.
"Muka kamu tuuh Zain yang lucu." Ledek Aksa lagi.
"Saa.. stopp.. aku mau cerita. Kamu mau denger gak? Mumpung agak ada Ica." Ucap Zain serius.
Aksa menghentikan aksinya, ia fokus menatap Zain.
"Ica, dulu pernah aku tanya." Zain memulai kisahnya.
Aksa mengambil posisi sendeku. Posisi nyaman dengen meletakkan kepala di atas kedua tangan di lipat keatas. Harusnya posisi ini tangan di atas meja. Tapi Aksa malah meletakkan tangannya di atas paha.
Mirip posisi cibi-cibi gitu deeh...
"Dulu pas zaman smp, aku pernah nanya Ica kriteria pacarnya. Tahu gak dia jawab apaan?" Ucap Zain menatap Aksa.
"Gak tahulah.." Gumam Aksa dengan santuynya.
"Dia jawab, cowok itu juga harus nerima aku...."
"Whaat???" Potong Aksa sambil menjerit tuuh sampai melepaskan posisi ternyamannya.
"Iyaaa.....kriteris dia cuman satu, dia harus nerima aku."
"Terus aku sebagai suaminya Ica harus nerima kamu jadi apa neee?" Tanya Aksa dengan gaya sok menggodanya.
"Jadi istri kedua kamu. Wleeekk.."
"Zaiiin... Gak jelas. Masak gue harus tarung dengan sesama lontong. Edaan."
" Wkwkwkkkk... emang enak. Yaa kamu terima sebagai sahabatnya Ica lah." Akhirnya Zain mengalah ia seriuskan obrolan paginya.
"Zain... tanpa kamu mintapun. Kamu udah jadi bagian dari kita. Aku sama Ica harusnya banyak terima kasih sama kamu. Sekian tahun kamu jaga Ica dengan baik. Andai saja sahabat Ica bukan kamu, aku gak tau bagaimana nasib Ica sekarang." Aksa menepuk-nepuk bahu Zain.
"Sa....makasii yaa.. Kamu jaga Ica baik-baik." Kata Zain dengan mimik memohon.
"Pasti.."
"Kamu orang tua kamu ke sini?"
"Belum tau Zain."
Aksa menarik napas panjang, sepertinya masih ada beban yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Sa..kita ini laki-laki, jangan mudah menyerah. Aku yakin kamu bisa."
"Tugas aku, Zain."
"Aku bantuin. Kamu masih butuh yang mana lagi."
"Candi Brahu,Zain."
"Okay... kita ke sana."
"Kita cari informasi sebanyak kamu mau. Aku siap jadi guide.." Kata Zain mantap.
"Zain.. makasiih yaa..." Aksa langsung memeluk Zain sebagai ucapan terima kasihnya.
"hemm Heeemm... kayaknya kita mengganggu nee Ra." Suara deheman dari Ica memaksa Zain dan Aksa melepaskan pelukannya.
"Ngagetin aja.. Masuk tuuh salam. Bukannya berdehem." Omel Zain.
"Assalamu'alaiakum..." Ica mengulangi masuknya.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Zain dan Aksa kompak.
"Kayaknya Ica sudah jadi istri idaman nee..." Goda Zain sambil melirik Aksa.
"Ya iyalah... Ica.." Balas Ica sambil duduk.
"Ra, kamu gak diapa-apain kan sama cewek silluman itu." Zain menunjuk ke arah Ica yang berjalan ke arah dapur tak mempedulikan ucapan Zain.
"Enak aja ngatain Ica siluman. Ica itu incessnya aku tau. Emang kamu zombie." Aksa membalas ucapan Zain.
"Diiih.. pangeran yang ngebales neee...." Seloroh Zain.
Ica datang membawa sendok dan empat buah gelas berisi teh hangat.
"Udah, jangan pacaran melulu.Nee.. makan dulu. Isi perutnya karena bercinta itu juga butuh tenaga. Apalagi ngebucin tenaga harus lebih ekstra." Ica membagi nasi bungkus dan sendok ke masing-masing temannya.
"Gak nyangka, sahabat aku luwaarr biasa..." Goda Zain.
Ara hanya menatap ketiga orang di depannya dengan takjub.
"Makan aja Ra, gak usah ngeliatin kita kayak gitu. Ntar ketularan kita gak tanggungjawab loo yaa.... Efek dan akibat tanggung sendiri." Oceh Ica melirik Ara yang masih bengong.
Zain hanya tersenyum mendengar ucapan Ica.
"Udah makan yuuk....keburu gak enak nasi bungkusnya." Ajak Aksa.
"Ca.. habis ini kita Brahu yaa..."
***********
**Candi Brahu , di next episode yaa...
Prend terus support yaa...
kasil like
komen
vote
Rate
Maaf yaa kalo kelamaan up nya dua hari kemarin sempet ngedrop bodinya**.
__ADS_1