Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Sederhana


__ADS_3

Adistya dan Narendra tiba di depan rumah yang akan mereka tinggali. Sebuah rumah bergaya jawa kuno.


Dindingnya menggunakan bahan kayu. Mempunya sebuah pintu besar di tengah dan jendela besar di kanan kirinya. Teras depan tidak seberapa luas, memiliki empat tiang penyangga dari kayu. Setiap penyangga memiliki ukiran unik dan indah khas Mojopahit. Ada dua kursi rotan terpasang di sana. Semua bahan bangunan memakai kayu jati terbaik di negeri ini.


Beberapa lentera terpasang di setiap sudut teras.


Bahkan di dalam ruangan mereka menemukan banyak arsitektur khas Mojopahit yang unik.


Pencahayaan malam hari, sudah disiapkan lentera seperti oblik besar.


Lantainya masih berupa tanah yang dirapikan.


Tidak ada gerbang atau pagar di depan halaman. Yang ada hanya sebuah pembatas dari bambu. Pembatas antara halaman dan


jalan.


Dikanan kirinya terdapat beberapa pohon besar dan tanaman perdu. Rumput liar tertata dengan rapi di halaman depan. Menambah kesan natural.


Awalnya mereka berencana tinggal bersama Baba dan Emak. Namun Kanjeng Ratu memberikan hadiah sepetak tanah dan sebuah rumah untuk mereka berlindung dan bertani. Dan di sinilah rumah yang dimaksud. Sangat sederhana, namun keduanya sangat menyukai.


Bahkan Kanjeng Rajasawardhana mengirim satu orang emban untuk menemani keduanya. Bahkan Mbok Bano juga diminta Baba dan Emak menjaga Adistya.


"Raden, dalem resik-resik papan sekedap." Pamit Mbok Ra emban kraton yang menemani Narendra.


( Raden, saya bersih-bersih rumah, sebentar. )

__ADS_1


"Dalem ten pawon rumiyen, Ndoro." Ucap Mbok Bano mengikuti Mbok Ra.


( Saya ke dapur dulu, Ndoro )


"Ndoro Ayu kale Ndoro Bagus ngaso mawon." Pinta Mbok Bano.


( Nona dan Tuan silahkan istirahat )


"Mbok, ora usah tandang dhisik. Aku karo Mas Rendra ora po_po kok. Kene loo caturan karo aku." Titah Adistya yang diiyakan Narendra.


( Mbok, tidah perlu repot-repot dulu. Aku karo Mas Rendra tidak apa-apa kok. Sini loo ngobrol sama aku. )


"Kene loo Mbok... Longgo-longgo dhisik." Narendra menimpali.


(Sini loo Mbok.. Duduk-duduk dulu. )


Bagi Mbok Bano permintaan Adistya tidaklah aneh, karena ia dan keluarganya selalu seperti itu tidak pernah memerintah. Malah para emban di rumah Baba sudah dianggap keluarga. Jadi yang ada saling membantu.


Sedangkan Mbok Ra yang mengabdi di Kraton nampak kelimpungan. Tak pernah diperlakukan seperti ini.


"Age... Ra.. Ndang ojo nganti Ndoro Ayu karo Ndoro Bagus duko." Ajak Mbok Bano sambil menyeret Mbok Ra yang masih bengong.


( Ayo Ra... cepat jangan sampai membuat Nona dan Tuan marah. )


Mbok Ra dan Mbok Bano dudu dihadapan Adistya dan Narendra.

__ADS_1


"Eh.., Mbok longgoh dengklek... lapo nang ngisor ngunu kuwi." Titah Narendra melihat kedua simboknya hendak duduk di tanah layaknya mereka sedang berada di kraton.


( Eh Mbok, duduk kursi. Kenapa di bawah.)


Mbok Ra dan Mbok Bano segera berpindah ke kursi yang kosong.


"Mbok..., awak e dewe iki wis ora nang kraton. Dadi ora usah gawe adat e kraton. Mengko nek wayah tandang gawe ora usah kesusu. Gak ono sing wadul. Nek kesel leren. Aku karo Adistya iso rewang. " Ucap Narendra ndawuhi Mbok-mboknya.


( Mbok, kita ini tidak tinggal di istana. Jadi tidak perlu pakai kebiasaan istana. Nanti kalo kerja ndak perlu kesusu. Tidak ada yang melapor. Kalo capek berhenti. Aku dan Adis bisa membantu. )


"Anggep ae iki omah dewe. Lha aku karo Adis anggepen koyok wayah e Simbok." Lanjut Narendra.


( Anggal saja ini rumah sendiri. Dan anggap aku dan Adis ini anaknya simbok. )


"Dalem Ndoro..." Kata Mbok Bano.


( Iya , Ndoro )


"Injih Raden, dalem ngertos..." Kata Mbok Ra mulai paham keinginana Radennya.


( Iya Raden, saya mengerti.. )


💠💠💠💠💠💠💠💠💠


Oblik itu lampu dengan bahan bakar minyak. memakai sumbu atau kain sebagai peresap minyak.

__ADS_1


Kasih likee yang banyak yaa


__ADS_2