
Hari masih terlalu pagi. Suara ayam berkokok terdengar di setiap sudut istana.
Para emban sudah bangun dan sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Adistya yang masih tidur, terjaga. Seseorang memeluknya dengan tenang.
Flashback on
Semalaman bumi mojopahit dilanda hujan. Hawa dingin menyelimuti kota.
Adistya yang bersandar diranjang, terus menggigil kedinginan. Emban sudah menyediakan kain untuk selimut. Tapi tak mampu menahan hawa dingin yang menyerang.
Narendra yang melihat kondisi Adistya menjadi tidak tega. Segera ia mendekat ke ranjang Adistya.
"Dis.." Panggil Narendra.
"Iya, Mas..." Suara Adsitya gemetaran menahan dingin.
Narendra meraih tangan Adistya, menggenggamnya.
"Masih dingin?" Tanya Narendra.
Adistya hanya menatap pemuda di depannya. Sejak Narendra menggenggam tangannya, hawa dingin ditubuhnya memang mulai berkurang.
Tangan Narendra yang hangat, menggenggAm erat jemarinya. Menyalurkan kehangatan ke tubuh Adistya.
"Masih dingin?" Ulang Narendra, sesaat manik mata keduanya saling berpapan, menebarkan bibit debaran di jantung masing-masing.
Adistya hanya menggeleng.
Narendra mendekatkan tubuhnya. Meraih bahu Adistya. Membenamkan kepalanya ke dada bidangnya.
Nyaman.
Begitu yang Adistya rasakan.
Narendra mengeratkan pelukannya.
Hangat.
"Masih dingin?" Narendra bertanya.
"Hangat." Bisik Adistya.
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan menjagamu." Ucap Narendra sambil membaringkan tubuh Adistya.
Setelah Adistya berbaring, Narendra mengikutinya berbaring di sebelah Adistya. Memposisikan tubuhnya miring. Mengembangkan tangannya Membawa Kepala Adistya ke atas lengannya dan satu tangannya memeluk Tubuh Adistya.
"Tidurlah.." Titah Narendra
"Tapi, Mas..."
"Sudahlah nurut saja. Aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh. Aku hanya tidak ingin calon istriku kedingininan. Ayoo pejamkan mata kamu." Titah Narendra tanpa bisa dibantah Adistya.
Flashback off
π π π π π π π π π
Dan ternyata pagi ini, Narendra masih di sampingnya. Dan masih dalam mode peluk.
Adistya bermaksud bangun, pelan-pelan melepaskan pelukan Narendra.
Baru saja Adistya duduk di tepi ranjang hendak berdiri. Sebuah tangan menariknya kembali ke atas ranjang.
"Aaawwhhh.." Teriak Adistya kaget.
"Dis... tidur dulu... peluk dulu sekali lagi.." Gumam Narendra tanpa membuka mata. Rupanya cowok ini udah bangun bersamaan Adistya dengan Adistya membuka mata. Namun berpura-pura tidur kembali. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Adistya. Ternyata bangun, maka iapun menyeret paksa Adistya untuk tidur kembali.
"Bentar aja.. aku mau peluk kamu sebentar saja." Bisik Narendra yang sudah mendapati tubuh Adistya dalam pelukannya.
Narendra kembali memeluk Adistya.
"Dis, minggu depan kita menikah." Bisik Narendra.
"Harusnya sekarang kita sudah jadi suami istri, Mas." Balas Adistya dengan berbisik.
"Maafkan aku ya Mas... Karena aku terluka pernikahan kita mundur." Bisik Adistya kemudian.
"Terima kasih, Dis... Kamu sudah menyelamatkan aku. Jika bukan kamu, aku sekarang sudah tidak ada lagi." Bisik Narendra.
Sesekali, ia mencium rambut Adistya yang begitu harum meski menggunakan sampo ala zaman dulu.
π π π π π π π π π π
Adistya sudah lebih membaik. Kini ia sudah diperbolehkan sekedar jalan-jalan di sekitar.
Selesai membersihkan diri, Adistya berjakan keluar paviliyun Narendra.
__ADS_1
Udara dingin pagi tak menghalangi Adistya menyaksikan matahari menampakkan sinarnya.
Adistya berkali-kali menghirup udara pagi kuat-kuat. Kabut pagi tak menghalanginya untuk beraktifitas.
Sesekali ia merentangkan kedua tangannya. Menggerakkan tubuhnya miring kanan miring kiri. Senyumnya terus mengembang.
Seakan sudah berabad-abad ia tak merasakan sejuknya pagi.
Beberapa emban yang lalu lalang tersenyum melihat calon Ndoro Ayunya yang lincah itu.
Narendra mengawasi Adistya dari balik paviliyunnya.
Setelah Adistya duduk di teras paviliyun barulah Narendra menghampiri gadis itu.
"Dis, seger banget..." Sapa Narendra
"Eh, Mas..." Adistya menoleh tersenyum malu melihat kehadiran Narendra.
"Dyah Adistya Shexien.." Auto Adistya menoleh mendengar nama lengkapnya di panggil.
"Iya Mas..." Sahut Adistya.
π΅π΅πΆπΆπΆπΆ
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tidur di sampingku
Narendra menyenandungkan lagu melamarmu sambil jongkok di depan Adistya. Mengulurkan sebuah cincin perak bermata zamrud..
π π π π π π π π π π
**Note :
Narendra bisa nyanyiin lagu melamarku, karena Narendra yang di situ tuuh.. adalah sosok Aksa.
Pangeran masa depannya Ica
πππππ
Makasii yaa....udah dukung**
__ADS_1