Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Mengenali Diri


__ADS_3

Aksa konsentrasi menguping pembicaraan ketiga abdinya dari balik pintu pemisah antara dapur dan ruang makan.


Sesekali senyumnya tersimpul lebar mendengar obrolan setengah kocak dari Mbok Ra, Mbok Bano dan Dimas. Terselip rasa kasihan juga mendengar kebingungan mereka tentang dirinya.


Namun, siapa juga yang ingin tiba-tiba terdampar di masa lampau. Ia juga ingin menikmati hidup normal layaknya manusia lain.


Namun, ia diberi kelebihan lain yang harus dinikmati dan disyukuri.


Andai bukan karena keinginan menemani Ica, ia mungkin tidak akan bertemu orang-orang yang pernah berjasa di masa lalunya dan berpetualang di negeri orang.


"Haiyoo, lagi ngapain?" Sebuah suara tiba-tiba menghentakkan kenyamanannya menguping.


"Hehehhee." Cengir Aksa menyadari pemilik suara tersebut.


"Kamu sendiri ngapain ke sini?" tanya Aksa mengalihkan perhatian Adistya yang menatapnya curiga.


"Ndak ngapa-ngapain, sengaja mau ke belakang nyari Kang Mas. Ternyata orangnya sedang asyik nguping pembicaraan orang lain," ucap Adistya setengah meledek.


Aksa terkekeh mendengar ledekan istri dari masa lalunya itu. Andai tidak menyadari berada di ruang waktu yang berbeda pasti ia sudah memperlakukan Adistya layaknya memperlakukan Ica.


Kesadaran membuatnya bertahan tidak melampaui batas dengan Adistya.


"Mau ke depan?" ajak Aksa mengulurkan tangannya.


Adistya menatap sejenak pria yang dikira suaminya itu.


"Oke," jawab Adistya dengan wajah dipenuhi tanda tanya bahkan Aksa bisa membaca kebingungan Adistya.


Namun, pria itu tidak mau tahu tetap saja ia menggandenga Adistya ke ruang depan.


"Bikin apa?" tanya Aksa begitu melihat beberapa kudapan di meja depan.


"Nogosari sama singkong goreng," balas Adistya tenang.


Aksa yakin wanita yang ia gendeng ini jantungnya sedang berdisco cantik.  Aksa bisa menebak dari tangan Adistya yang gemetar dan berkeringat dingin.


Dalam hati ia sungguh ingin tertawa lepas, tetapi tentu saja tidak mungkin karena akan melukai hati wanita yang ia sayangi di masa lalu.


"Siapa yang bikin?" tanya Aksa agar Adistya tidak canggung dengan ulahnya.


"Mbok Ra, sih," jawab Adistya sambil tersenyum kecil menoleh ke arah Aksa.


Aksa yang sadar diberi senyuman membalas dengan senyum yang lebih sweet. Auto melelehlah hati Adistya.

__ADS_1


"Kang Mas, mau dibukain nogosarinya?" tanya Adistya begitu Aksa membawanya duduk di kursi rotan berukuran panjang bersebelahan dengannya.


"Boleh," balas aksa tanpa ragu.


Walaupun, sebelumnya ia belum pernah mencicipi makanan dibungkus daun tersebut. Demi mengenyangkan perutnya yang sudah meronta dan rasa penasaran dengan kudapan ala zaman kuno.


"Apakah rasanya sama dengan panganan di zamanku?" batin Aksa menatap nogosari yang disuguhkan.


Di masanya memang ada nogosari, tetapi ia tidak pernah mau memakannya saat disuguhi panganan  tradisional itu.


"Tapi tanganku bole dilepasin, dong?" ucap Adistya lirih bahkan terdengar sangat ragu-ragu.


"Oh, eh, iya sampai lupa saking nyamannya menggandeng tangan orang cantik," goda Aksa melepas gandengannya.


Adistya tersipu mendengar gombalan suaminya.


"Andai yang dihadapanku Ica, pasti sudah ngebales dengan modusan lebih tajam. Sayangnya, dia Adistya - wanita lugu yang berwajah mirip Ica." Aksa sedikit kecewa dan mulai merindukan kehadiran sosok istrinya yang entah saat ini sedang berkelana di negera mana atau malah sedang di dunianya sendiri.


"Ini, Kang!" Adistya menyodorkan nogosari yang sudah terbuka dari daun pisang pembungkusnya."


"Makasih," seru Aksa ambil tersenyum.


Adistya mengangguk sopan menanggapi ucapan suaminya dan kembali menunduk tanpa ada keberanian menatap Aksa.


Wanita cantik itu sesekali melirik Aksa yang menikmati panganan berisi pisang yang dibalut tepung dan beberapa bahan lain sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus.


"Tidak biasanya ia bersikap romantis kayak gini. Wajahnya juga jarang menunjukkan senyum begini. Lebih terlihat tampan yang sekarang daripada kemarin-kemarin," kata Adistya masih dalam hati.


Mana berani ia mengatakan isi hatinya kepada pria yang menikahinya itu. Terlebih Narendra bak pahlawan baginya.


Mereka menikah awalnya memang dijodohkan. Tanpa ia tahu pria yang dijodohkan dengannya adalah seseorang yang dikenalnya.


Bak gayung bersambut. Adistya yang lama memendam rasa cinta pada pangeran Majapahit itu akhirnya dipertemukan.


Mereka menikah mendadak sesuai keinginan calon suaminya dan Adistya hanya pasrah saja saat itu. Bahkan ia tidak cukup mengingat bagaimana kakak tiri suaminya bisa menerima keputusan Narendra sebab setahu Adistya mereka selalu bersaing dalam hal apapun. Termasuk saat Narendra berniat melamarnya sang pewaris tahta itu tidak mau kalah.


Seingat Adistya, Raden Alit juga mendatangi Babanya untuk melamar. Namun, Baba tidak bisa menerima karena putrinya sudah dikhitbah Narendra.


Semakin murkalah sang pangeran mendengar ada penduduk biasa menolak keinginannya. Ia bahkan sempat ketakutan karena sumpah serapah sang pangeran.


Ingatannya terhenti di sini, yang Adistya ingat adalah ijab qabul dan kepindahannya ke rumah mungil hadiah sang Prabu.


"Dis, aku mau nogosarinya lagi. Pisangnya empuk," pinta Aksa membuat Adistya semakin terhenyak.

__ADS_1


"Kang Mas tumben hanya memanggil namaku tanpa embel-embel diajeng?" batin Adistya, tetapi tetap melaksanakan permintaan suaminya.


"Niki Kang Mas!" Adistya meletakkan kudapan yang diminta Aksa di sebuah piring kecil dari tembikar.


"Terima kasih, cantik," goda Aksa sekali lagi, ia ingin sekali melihat reaksi Adistya mendengar ucapan-ucapan gombalnya.


Tentu saja istri Narendra itu hanya menunduk tersipu. Aksa kembali tersenyum melihat wajah malu-malu Adistya membuat pria itu gemas. Namun, kembali ia menahan diri mengingat di sampingnya bukan Ica.


Adistya yang mendengar rayuan suaminya kembali merasa aneh karena Narendra selama ini jarang mengeluarkan jurus gombalan maut.


"Dia suamiku bukan, sih?" batin Adistya.


Rasa penasaran membuat misteri tersendiri bagi Adistya.


"Tapi mana ada genderuwo seganteng ini?" Adistya goyah dengan penampilan sempurna Aksa yang berbeda dengan Narendra secara kepribadian.


Wajah boleh sama bak pinang dibelah dua, tetapi karakter mereka berbeda.


Masih dalam penasaran tingkat dewa, Adistya tersenyum licik membalas godaan pria yang ia anggap suaminya itu sebab ia belum tahu siapa di sampingnya?


"Kang Mas, aku boleh minta sesuatu?" ucap Adistya masih dengan menunduk tidak ingin menampakkan wajah penasarannya.


"Boleh, apa? Selama aku bisa pasti dikabulkan permintaan bidadariku ini," balas Aksa masih dalam mode gombal.


Adistya hampir saja melting dibuatnya, andai ia tidak ingat sedang menjalankan misi menjawab teka teki Narendra.


"Kang Mas, aku ingin pakai jarik yang Kakang belikan waktu itu?" rengek Adistya mengenggam jari Aksa.


Pria itu sedikit terhenyak dengan keagresifan Adistya.


"Yang mana?" tanya Aksa mencerna permintaan putri Baba Wang ini.


"Yang Kakang belikan waktu itu." Senyum Adistya membuat hati Aksa sedikit kacau.


"Gawat nih," batin Aksa.


"Mana aku tahu, barang mana aja yang dibelikan Narendra?" Aksa semakin galau.


Dalam hati ia mulai menyesali gombalan dan rayuan modusnya pada istri Narendra itu. Ia menyadari ada sifat nekat Ica melekat pada Adistya.


"Bagaimana kalau kita cari di kamar sekarang?" Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibir Aksa saking galaunya memikirkan cara memenuhi permintaan Adistya.


***

__ADS_1


Kira-kira cara apa yang akan dipakai Aksa?


Senyum-senyumlah sendiri.


__ADS_2