
"Mas Rendra..." Bisik Adistya menjelang malam sebelum keduanya memejamkan mata.
"Apa?" Jawab Narendra lembut.
"Mas, ayo kita segera balik. Aku gak mau bikin Zain panik. Karena kita terlalu lama di sini." Pinta Adistya.
"Apa urusan kita sudah selesai, Dis?" Tanya Narendra.
"Harusnya sudah." Bisik Adistya.
"Coba kita ingat kembali." Adistya mencoba mengingat kembali perjalanannya diawal hingga tiba di negeri yang tak dikenalnya itu.
Menemukan dirinya dimasa lalu. Dan akhirnya terjawablah sudah pertanyaannya. Tentang moyangnya yang berwajah oriental.
Kegagahan Babanya yang tiada tandingannya. Suaminya yang ternyata seorang keturunan Raja. Dan kelak jika Adistya hamil, keturunan merekalah dirinya.
Dan Rumah sederhana yang mereka tempati saat ini. Memiliki kemiripan dengan rumah Mbah Oppinya. Satu-satunya rumah berarsitektur jawa kuno.
Adistya bahkan menyadari tentang Zain. Sahabatnya itu terlahir memang untuk melindunginya. Bahkan anak Adistya dan Narendra kelak akan selalu dalam penjagaan Dimas dan keturunannya.
Adistya memejamkan kedua matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Dis...." Panggil Narendra, membuat Adistya menoleh.
"Ayo kita coba kembali ke masa kita. Aku akan meyakini bahwa misi kita sudah selesai. Kita kembalikan kehidupan di sini kepada Adistya dan Narendra sebenarnya." Kata Narendra bijak.
"Terima kasih sudah menemani aku sejauh ini. Aku berharap kita bisa menjadi Ica dan Aksa seperti Adistya dan Narendra di sini. Aku akan kembali melamarmu di hadapan kedua orang tuamu." Bisik Narendra sambil memeluk Adistya yang tersenyum manis kepadanya.
"Aku akan menunggu saat itu." Bisik Adistya.
Narendra dan Adistya mengeluarkan permata yang pernah Zain berikan kepadanya. Menyatukan kedua batu tersebut. Ternyata batu hijau tersebut hanya mengeluarkan sinar kehijauannya tanpa merubah apapun.
Narendra melepas penyatuan batu hijau tersebut sambil menggeleng.
"Sepertinya tidak bisa, dan mungkin masih ada yang harus kita selesaikan disini." Bisik Narendra.
Adistya kembali tertunduk.
"Sayang, kamu tidak sendiri disini. Ada aku, ada Dimas. Kita hadapi bersama." Bisik Narendra memeluk istrinya.
"Simpanlah permata itu." Bisik Narendra.
Adistya mengembalikan permatanya.
💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Di negeri yang jauh dari mereka berdua. Tepatnya di negeri Keling. Negeri dimana Raden Alit menjadi Raja kecil disana.
Raden Alit sedang menyiapkan pesta. Seminggu lagi ia akan menikahi seorang Putri China. Tan Eng Kian. Putri seorang saudagar China Tan Go Hwat.
Raden Alit mengingat perkataan Adistya yang pernah mengatakan kepadanya bahwa kelak ia akan menikahi seorang putri China. Dan ternyata benar adanya. Ucapan Adistya sudah merubah segalanya tentang seorang Raden Alit.
Raden Alitpun menyiapkan sebuah kotak hadiah untuk adik iparnya itu sebagai ucapan terima kasihnya.
"Serahkan langsung hadiah ini kepada Raden Narendra dan Istrinya." Titah Raden Alit kepada prajurit kepercayaannya. Sebelum mereka berangkat menuju kediaman Narendra dan Adistya.
"Dalem Paduka." Kata Prajurit tersebut dengan tegas.
💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Seminggu sudah berlalu, Narendra dan Adistya masih berada di bumi Mojopahit.
Kali ini mereka sedang bercengkrama dengan Mbok Bano, Mbok Ra dan Dimas setelah seharian bekerja.
"Mbok Ra, kowe duwe anak ora?" Tanya Narendra.
( Mbok Ra, kamu punya anak atau tidak?)
"Dalem, mboten nggada, Raden." Jawab Mbok Ra ragu.
( Saya tidak punya Raden.)
"Haa haa... ndang simah mbok." Balas Adistya dengan melucu.
__ADS_1
( Segera menikah, Mbok.)
" mboten ndoro ayu." Mbok Ra masih ragu menjawab.
( Tidak Ndoro Ayu )
" Mbok Ra nate simah, ndoro nanging ditinggal kaliyan garwone. mangkane sampe sakniki dereng purun sima male." Akhirnya Mbok Bano menjawab teka teki pernikahan Mbok Ra.
( Mbok Ra, sudah pernah menikah Ndoro tapi ditinggal suaminya. Karena itu sampai sekarang belum mau menikah lagi. )
" Oh ngunu to ceritane." Adistya ikut prihatin.
( oohh begitu ceritanya. )
"Ndoro ten teras kok kados e rame nggeh. Kulo medhal sekedap." Seru Mbok Ra yaang mendengar ada keramaian.
( Tuan di teras kok sepertinya ramai? Saya keluar sebentar.)
"Iyo Mbok." Jawab Narendra.
( Iyo Mbok )
Mbok Ra kembali ke dalam, memanggil ndoronya.
"Ndoro wonten utusane Kanjeng Raden Alit."
( Ndoro ada perwakikan dari Kanjeng Raden Alit )
Narendra dan Adistya saling berpandangan mendengar perkataan Mbok Ra. Mereka berdua bergegas keluar.
Diluar nampak rombongan prajurit berjajar dengan rapi. Melihat Narendra dan Adistya keluar, seorang prajurit menghadap kepada keduanya sambil berlutut.
"Kanjeng, dalem ndugi Keling." Sapa Prajurit tersebut.
( Kanajeng, Saya dari Keling )
"Ono kabar opo soko Kakangku?" Tanya Narendra sambil mempersilahkan tamunya masuk ke dalam ruang tamu.
( Ada kabar apa dari Kakakku )
( Kanjeng Raden Alit sehat. Saya diperintahkan ke sini untuk memberikan hadiah kepada Kanjeng. Kanjeng berterima kasih kepada Tuan berdua. Kanjeng Raden Alit akan segera melangsungkan pernikahannya dengan putri Cina.)
"Masya Allah, Alhamdulillah. Aku melu seneng krungu kabar kuwi." Wajah Narendra dan Adistya nampak ikut bahagia mendengar kabar dari prajurit Keling tersebut.
( Masya Allah, Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengar kabar itu.)
Prajurit tersebut segera memerintahkan anak buahnya menurunkan sebuah peti kepada Nadendra dan istrinya.
Mereka berdua sungguh tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebanyak itu.
Sebelum prajurit itu kembali ke Keling. Narendra menulis surat untuk Kakangnya. Sebagai ucapan terima kasih dan selamat atas pernikahannya.
********
Narendra dan Adistya menatap peti pemberian Raden Alit. Mata mereka tak berkedip menatap benda keramat itu.
Mbok Ra , Mbok Bano dan Dhimas menatap kedua Tuannya itu sampai terkekeh.
"Ndoro, dibuka mawon kotak e."
"Mbok, aku gak ngipi to Mbok?"
"Kakang Alit ngipi opo yoo sampai ngirimi awak dewe kotak ngene."
"Mbok buka en, Mbok."
Mendapat titah yang aneh dari kedua Ndoronya, Mbok Ra dan Mbok Bano saling menatap tidak berani bergerak. Karena benda kotak tersebut adalah milik tuannya. Sebagai seorang abdi tentu saja keduanya tidak berano dengan seenaknya membuka walauoun sudah ada titah.
"Mbok Ra... ndang buka en Mbok kotak e." Titah ulang Narendra.
Setelah Narendra mentitahkannya kembali, barulah Mbok Ra membuka peti tersebut.
Perlahan Mbok Ra membuka pengaitnya.
__ADS_1
"Duh Gusti..." Mbok Ra langsung menutup kedua matanya yang silau.
Begitupun Mbok Bano dan Dimas. Keduanya mengikuti Mbok Ra yang sudah menutup kedua matanya efek cahaya yang menyilaukan mata mereka.
Narendra dan Adistya mendekati peti tersebut.
"Mas untuk apa Kang Alit mengirimkan hadiah sebanyak ini?"
"Entahlah."
Narendra mengeluarkan benda yang menyilaukan mata tersebut.
Batang lempengan-lempengan berbentuk balok berwarna kekuningan, tersusun rapi di dalam peti. Narendra masih mengeluarkannya perlahan. Mulutnya ikut komat kamit. Sepertinya ia menghitung benda tersebut.
"Mas, ini emas batangan." Bisik Adistya.
"Iya , aku tau Dis. Tapi kenapa Kang Alit memberikannya sangat banyak kepada kita."
"Lha kan dari tadi aku sudah nanya kayak gitu. Gimana to kamu ini."
"Haa haa haa..." Narendra hanya tertawa mendengar ucapan Adistya.
Sedangkan ketiga abdinya masih terdiam dan terbengong menyaksikan tuannya mengeluarkan isis dari peti tersebut.
"Terus Mas Rendra ngapain coba kayak gini?"
"Aku ngitung jumlahnya Adis, sayang."
"Perlu aku bantuin?"
"Boleh..."
Tanpa nanya dua kali Adistya langsung membantu suaminya.
"Mas, di aku ada dua puluh."
"Di aku ada tiga puluh lima."
"Jadi totalnya lima puluh lima?"
"Mas banyak sekali ini."
"Mbok Ra iki kowe tak hadiahi siji. Mbok Bano siji terus Dhimas siji. Disimpen digawe celengan." Kata Narendra yang membuat wajah abdinya berbinar bahagia.
( Mbok Ra ini buat kamu saya kasi satu. Mbok Bano satu. Terus Dimas Satu. Disimpan untun tabungan )
"Matur Nuwun, Ndoro." ( Terima kasih, Ndoro )
"Matur Nuwun Kakang." ( Terima kasih, Mas )
"Matur Nuwun, Raden." ( Terima kasih, Raden )
Ucap ketiganya bareng.
"Iyoo podo-podo." Balas Narendra.
( Iya sama-sama )
"Eh. Mbok Ra, Mbok Bano. Aku nitip kotak e iki yooo... Mbok menawi awak dewe lali elengke yo Mbok." Narendra segera menyimpan peti itu ke sebuah ruangan rahasia diikuti Adistya dan ketiga abdinya.
( Eh, Mbok Ra, Mbok Bano. Aku nitip peti ini. Seumpama kita lupa ingatkan ya Mbok.)
"Le.. kowe jogo en omah iki sing tenan yooo..." Bisik Narendra kepada Dimas sebelum keluar dari ruangan rahasianya.
( Nak, kamu jaga rumah ini yang benar yaaa...)
"Injih Kakang." Jawan Dimas ragu dan bingung. Kenapa Kakangnya mengatakan ini.
( Iya Mas.)
**********
**Cakil dari aku :
__ADS_1
Negara Keling ini pada masa pemerintahan Majapahit adalah kerajaan Daha. Salah satu wilayah yang masuk bagian kerajaaan Majapahit.
Dalam sebuah kisah disebutkan Negara Keling berada di sebelah timur laut Kedhiri dan di baratdaya Surabaya**.