Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Upacara Penobatan


__ADS_3

Adistya masih setia di temani Mbok Bano.


Mereka masih duduk di bawah pohon rindang.


Mbok Bano juga masih dalam mode bengong, setelah mendengar pertanyaan Ndoro ayunya.


Flashback


Sekitar seminggu yang lalu di alun-alun tengah kota


Dua orang pemuda berwajah tampan sedang berhadapan. Masing-masing dengan gagah duduk eksklusif di atas kuda.


Dari pakaian yang mereka kenakan, bisa dikatakan mereka berdua bukanlah berasal dari golongan rakyat biasa.


Aku tahu yang kalian pikirkan.


Siapa lagi coba?


Yuupzz mereka adalah Raden Alit dan Raden Narendra.


Yang berkuda putih mengenakan kain warna hijau menutup celananya itulah Raden Narendra sedangkan yang berkuda coklat itulah Raden Alit.


Kedua bukan tidak sengaja di sana.


Kedua sengaja bersepakat bertemu di alun-alun.


"Kak..., untuk kali ini biarkan aku." Narendra sengaja menggunakan aksen melayu menghindari menarik perhatian masyarakat.

__ADS_1


"Tidak.... kenapa sih harus kamu ..." Bantah Raden Alit.


"Kak... sekali ini saja... setelah itu kami akan keluar dari Bumi Mojopahit." Pinta Narendra.


"Jangan sentuh dia Kak..." Ancam Narendra sembari memacu kudanya menjauhi alun-alun. Sementara wajah Rase Alit nampak kesal ditinggalkan begitu saja oleh Narendra.


Narendra memacu lebih kencang dan berakhir di depan rumah Adistya.


Setelah memelukul sebuah lonceng.


Seseorang membukakan gerbang besar tersebut, Mbok Bano. Pengasuh Adistya.


Melihat kehadiran pemuda calon menantu keluarga Ndoronya, Mbok Bano langsung membawa mengantar Narendra menemui Adistya.


"Mas...." Sapa Adistya kaget karena tak biasanya Narendra datang mendadak begini.


"Alhamdulillah, sehat. Mas Rendra sendiri bagaimana?" Adistya balik nanya.


"Aku juga sehat." Narendra tersenyum memandang Adistya.


"Kenapa Mas? Ada yang salah dengan penampilanku." Adistya nampak gugup dipandang intens calon suaminya.


"Kamu cantik." Goda Narendra.


"Kalo aku tampan, jadi laki dong." Adistya berkelakar untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Aku mampir sebentar, hanya untuk mengatakan. Sing ati-ati karo Kang Mas Raden Alit. Nek pancen kudu papasan karo Kangmas Alit, ojo sampai mandeng wong kuwi." ( Hati-hati dengan Raden Alit. Kalo terpaksa bertemu jangan menatap Rase Alit. ) Titah Narendra

__ADS_1


"Lha. kengeng nopo to, Raden?" ( Lha, kenapa, Raden? ) Tanya Adistya.


"Dis, Kangmas Alit kuwi serokoh. Arep njaluk sampeyan dados selir e Raden Alit." ( Dis Kangmas Raden Alit iku serakah. Dia ingin kamu jadi selirnya.) Adistya tampak terkejut mendengarnya penjelasan Narendra.


"Mboten Kangmas... kulo mboten remen.." ( Tidak Mas, saya tidak suka... )Adistya nampak ketakutan.


"Dis, kowe percoyo Kangmasmu iki to?" ( Dis, kamu oercaya sama Kangmasmu ini, kan?) Adistya mengangguk membalas pertanyaan Narendra.


"Jangan sampai kalian bertemu. Minggu depan ada upacara penobatan Prabu Brawijaya II. Kalo kamu diminta Baba sama Emak datang. Kamu harus selalu dekat sama aku. Hari pernikahan kita sudah semakin dekat." Titah Narendra.


"Injih Kangmas. Dalem ngertos." Janji Adistya


Back to Mbok Bank dan Adistya


Mbok menguping pembicaraan mereka berdua. Karena itu Mbok Bano berusaha menyelamatkan Ndoro Ayunya dari Rase Alit.


Hanya saja Mbok Bano masih bingung, kenapa malah Ndoro Ayunya lupa. Pesan yang pernah di sampaikan calon suaminya itu.


Tapi Mbok Bank maklum, ia masih ingat bahwa Ndot Ayunya pernah lupa tentang Emak dan Bacanya. Apalagi ini pesan calon suaminya.


Mbok Bano membawa Ndoro Ayunya menjauh dari area upacara penobatan, karena tadi dia sempet papasan dengan Rase Narendra dan memintanya membawa Adistya jauh dari istana.


Mbok Banopun menuruti permintaan calon suami Ndoro ayu yang sudah diasuhnya sejak bayi itu.


💠💠💠💠💠💠


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2