
Zain masih menatap buku kuno itu. Membuka pelan-pelan perhalaman.
Ya.. setelah berkali-kali dan bolak balik ke perpus akhirnya, Zain menguasai sedikit demi sedikit tulisan aksara jawa kuno itu.
**Namaku Dyah Adistya Shexien
Babaku dikenal dengan nama Wang Se
Emakku Dyah Ambika
Usiaku saat ini enam belas tahun.
Sejak kecil aku sangat di sayang Oleh Baba dan Emakku**
Zain membuka lembaran berikutnya
**Sejak kecil aku bermain dengan teman-teman sebayaku...
Aku suka bermain dengan mereka...
Mereka baik
Walaupun aku tidak sama dengan mereka.
Kata Baba mereka orang Jawa seperti Emak.
Sedangkan aku, mirip Baba.
Kalo pakaian mereka hanya sebuah jarik
Aku bahkan dapat pakaian serba tertutup dan panjang
Kata Baba itu pakaian khas Cina**
Zain membuka lembaran berikutnya
**Saat sembahyangpun aku tidak sama dengan mereka.
Temanku Menyembah para Dewa kata Baba mereka beragama Siwa.
Sedangkan aku sholat dan Tuhanku Allah**.
Zain beralih ke lembar berikutnya.
Usiaku kini tujuh belas tahun.
kosong tidak ada tulisan....
Di lembar selanjutnya
Aku sudah delapan belas tahun
Di lembar berikutnya lagi.
**Hari ini, aku pergi ke pasar sama Mbok Bano. Emban pengasuhku.
Saat pulang aku ketemu seorang pemuda, ganteng. Dia membantuku dan Mbok Bano**
Zain membuka lagi halaman selanjutnya.
__ADS_1
**Hari ini ada tamu spesial kata Baba
Seorang pemuda bersama banyak pengawal berkunjung.
Ternyata pemuda itu mau melamarku.
Setelah aku memandangnya ternyata dia pemuda yang menolongku kemarin.
Aku menerima pinangannya**.
Tiga bulan lagi kami menikah
Zain membuka lagi lembaran berikutnya.
Namanya Raden Narendra Arya Kusuma.
Aku baru mengetahui namanya tadi
satu lembaran hanya ada tulisan tersebut.
Zain membuka lembaran berikutnya.
**Raden Narendra mengajakkku ke istana.
Aku diperkenalkan kepada Kanjeng Prabu dan seorang Kakak laki-lakinya Raden Alit.
Aku tidak menyukai cara Raden Alit menatapku.
Aku ngeri melihatnya. Seolah dia ingin menyergapku dengan buas.
Aku kembali ke rumah setelah Kanjeng Prabu merestui kami**
Zain kembali membuka lembaran berikutnya.
Mengajakku melihat persiapan pernikahan kami.
Saat perjalanan
Aku begitu bahagia
Raden Narendra selalu tersenyum memandangku**
Zain membuka lembaran berikutnya
Aku mendengar suara teriakan.
Raden Narendra sudah berdarah-darah. Memegang dadanya.
Tangisku tumpah
Aku hanya berteriak...
Zain membuka kembali lembaran berikutnya.
Zain di suguhkan sebuah lukisan seorang pemuda sangat tampan. Khas seorang bangsawan Majapahit.
Zain saat pertama melihat mengabaikan lukisan tersebut.
Namun saat kedatangan Aksa di tempat kerjanya, Zain sempet terkaget.
__ADS_1
Di lembar berikutnya...
**hanya lukisan kembali...
Kali ini sebuah gundukan dengan batu nisan**
Zain mencerna lukisan itu adalah gambaran kematian. Tapi siapa?
Zain membuka halaman berikutnya :
**Lukisan seorang gadis
Ayu, cantik**
Deg.. itu jantung Zain yang berdetak kencang.
"Ica... " Gumam Zain waktu itu.
Dan kembali ia abaikan.
Lukisan seorang gadis mirip Ica. Gaunnya bercorak China.
Bukan... Dia bukan Ica...
Itu yang di gumamkan Zain berkali-kali.
Zain kembali membuka halaman berikutnya.
Lukisan keris
Hanya itu tak ada apa-apa lagi.
Zain membuka kembali...
Aku benci Raden Alit, dia menghancurkan semua mimpiku
Dia membunuh kekasihku
Selanjutnya kosong... Tak ada apapun...
Di lembar terakhir ....
Hanya sebuah lukisan seorang anak kecil.
Hadiah terindah dari Tuhan.
Jaga dia untukku Mbok...
Habis...
Zain mulai menyadari sesuatu...
saat Zain bertemu keduanya beberapa saat lalu.
Aksa dan Ica, mereka sepertinya diminta menyelesaikan masa lalu mereka.
Di dalam, kotak itu juga ada dua cincin permata.
Bahkan malam sebelum ia memberangkatkan Aksa dan Ica, Zain memimpikan cara menggunakan permata tersebut.
__ADS_1
Flashback Off...