
Begitu Aksa selesai memarkir kendaraan, langsung disambut orang tua masing-masing.
"Akhirnya sampai juga kedua pengantinnya," seru Mama Ambar membalas uluran tangan kedua pengantin yang hendak cium tangan.
Kedatangan Aksa dan Ica memang sudah ditunggu sejak beberapa jam yang lalu. Mereka bahkan sempat khawatir karena kendaraan yang ditumpangi anak dan menantu mereka tidak ada di rumah saat sampai.
Sedangkan, posisi mobil mereka berada di belakang pengantin.
Perasaan lega dan bahagia terlihat nyata di wajah-wajah senja yang cemas tujuh lapisan bumi karena keterlambatan keduanya.
"Kirain langsung check in hotel," ledek Papa Dewa sambil nyengir menyalami putri dan menantunya.
Aksa dan Ica yang lelah, mengabaikan ledekan apapun yang keluar dari bibir kedua orang tua mereka.
"Kalian pasti capek. Istirahat sana, gih!" titah Mama Teri mengelus kepala anak dan menantunya.
Mama Teri menatap langit yang sebelumnya masih jingga kemerah-merahan berubah menjad gelap.
Wajah Mama Teri tampak paling lega diantara keempat orang tua tersebut. Entah apa yang ada di pikiran wanita empat puluhan itu.
"Mama memang paling pengertian." Ica melayangkan ciuman pipi kepada Mama Teri.
Seketika keempat orang tua yang ada di sana terkekeh.
"Yang lain lewat kayaknya," seru Mama Ambar melirik Teri dan Ica.
"Mama mau di kiss ama Ica." Ica dengan polosnya memeluk mama mertuanya.
"Terus kami dapat apa?" rajuk Papa Candra.
"Kalian berdua dapat ini saja!" Aksa memeluk papa dan papa mertuanya bersamaan di bagian leher.
Suasana bahagia begitu terasa, saat pengantin saling lempar candaan. Seolah mereka sudah lama saling kenal.
Hingga tiba Aksa dan Ica pamit istirahat karena sudah lelah.
Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga hati dan pikiran.
Di hari yang sama dengan akad nikah saja, sudah disuguhi suasana yang tidak bisa mereka pahami.
Sebuah tanda tanya besar yang tidak bisa mereka jawab dalam waktu singkat.
Berasa diantara alam mimpi dan dunia nyata. Ica sampai tidak bisa membedakan letak perbedaannya.
"Mas," panggil Ica setelah melepas semua aksesori yang menempel ditubuhnya. Lebih tepatnya aksesoris yang tersemat di gaun pengantin.
"Kenapa?" balas Aksa menoleh ke arah Ica.
Posisi keduanya sudah berdampingan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Perjalanan tadi ...."
"Iya, entahlah itu seperti sebuah de Javu," potong Aksa.
"Mas Aksa juga di sana?" tanya Ica meyakinkan hati bahwa ia tidak sendiri.
Aksa pun menceritakan apa saja yang mereka lakukan di lokasi misterius tersebut.
"Berarti yang tadi bukan mimpi?" Ica menganalisis sendiri pengamatannya.
__ADS_1
"Entahlah, aku gak bisa mengatakan itu nyata atau mimpi karena kita masih berada di dalam mobil saat bangun," urai Aksa panjang lebar.
Ica menghembuskan napas panjang mendengarnya.
Keraguan mulai muncul dibenaknya, yang semula beranggapan nyata mendengar ucapan Aksa semua kembali menjadi abu-abu.
"Sudahlah kita tidur aja. Capek banget," kata Aksa merebahkan tubuhnya ke ranjang ukurang king size milik Ica.
Tanpa bersuara, Ica menyusul Aksa rebahan.
Tanpa menunggu lama keduanya sudah berada di alam mimpi.
***
Ica menatap jam dinding di kamarnya masih menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit dini hari.
Sebuah tangan memeluk pinggangnya dengan erat.
Ica menoleh dan mendapati wajah tampan Aksa sedang tertidur nyenyak.
Mereka memang sudah terbiasa tidur berdua sebab pernikahan mereka kali ini yang kedua kalinya.
Sebelumnya mereka sudah menikah di bumi Majapahit. Dunia yang membuat keduanya saling menemukan jati diri di masa lalu.
Tenggorokannya yang kering, meronta-ronta ingin disiram.
Perlahan Ica menyingkirkan tangan Aksa, bangkit dan melangkah pelan menuju dapur.
Istri Aksa itu ingin mengisi gelasnya yang kosong dengan air.
Perlahan Ica membuka dan menutup pintu kamar agar tidak menimbulkan decitan khawatir suaminya terbangun.
Dengan memberanikan diri, Ica melangkah ke dapur. Mencari tahu apa yang terjadi di sana.
"Astaga, Mbak Mega, Bang Axel," seru Ica begitu ia tiba di dapur dan menemukan kedua kakak iparnya menikmati roll tart yang ada di kulkas dengan tenang.
Wajah Mega dan Axel mendadak cemas melihat kedatangan Ica.
"Kalian ngapain malam-malam, makan ini?" Ica menatap roll tart yang baru dipotong seper empat bagian.
"Makan," jawab Mega.
"Kan, ada nasi." Tunjuk Ica ke arah magic com.
Mega dan Axel hanya tersenyum kecil mendengar celotehan adik iparnya. Terkesan bahwa Ica itu polos dan sangat baik.
"Kami sudah terbiasa makan selain nasi kalo tengah malam gini," jawab Mega menatap balik Ica.
Rasa cemasnya hilang seketika karena pemilik rumah tidak mempermasalahkan mereka yang makan tengah malam.
Apalagi cake yang mereka makan milik Ica.
Wanita itu sepertinya penasaran dengan ekspresi datar Ica. Apakah adik iparnya itu benar-benar polos atau memang sengaja?
"Oh, ya udah kalo gitu. Abisin juga gak pa-pa, Mbak, Bang," seru Ica sambil tersenyum.
"Kamu sendiri mau apa?" tanya Axel.
"Ambil minum," Ica mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Cheeerrr," ucap Axel dan Mega.
Auto Ica tertawa lebar menyadari perbuatannya.
"Dasar kakak ipar sableng," seru Ica melangkah ke dispenser.
Mega dan Axel auto ngakak mendengar sebutan Ica.
"Kalian tadi siang kemana aja?" selidik Axel.
"Heeem, kita tungguin gak nyampe-nyampe," lanjut Mega dengan mulut penuh roll tart.
"Roll tartnya enak pake banget, Ca." Mega masih berusaha menghabiskan suapan terakhirnya.
"Abisin aja," seru Ica seraya duduk di depan kedua iparnya.
"Kita tadi mampir sebentar ke tempat teman." Ica berbohong demi kebaikannya dan Aksa.
Belum tentu juga mereka percaya dengan peristiwa yang mereka alami.
Ica mengangkat gelas menyiram tenggorokan keringnya dengan air.
"Oooh," balas Mega dan Axel bersamaan.
"Balik dulu ke kamar, Mas, Mbak," pamit Ica meninggalkan kedua iparnya sebelum diinterogasi lebih dalam.
Ica menemukan suaminya sudah membuka mata, saat kembali dari dapur.
"Darimana?" tanya Aksa.
"Ambil air," jawab Ica menunjukkan gelas yang sudah berisi air.
"Mas, aku tadi ketemu Mbak Mega dan Mas Axel di dapur," cerita Ica begitu sudah kembali merebahkan diri di kasur.
Aksa tertawa lebar mendengar cerita Ica.
"Mereka pasti sedang makan," tebak Aksa.
"Iya," sahut Ica.
Aksa dengan energik menceritakan kebiasaan kakak dan iparnya itu.
Ica mendengar sambil berO-O saja, tanpa banyak komentar karena ia sudah tahu kondisi riilnya.
"Yuk, tidur lagi!" ajak Aksa membawa Ica dalam dekapannya.
"Melakukan akad nikah dua kali dengan orang yang sama di alam yang berbeda, tapi rasa deg degnya gak jauh beda," kata Aksa mengecup kening Ica.
Ica hanya tersenyum lebar mendengarnya tanpa berani membayangkan apapun.
***
Ica menatap hamparan hijau bak permadani di depannya dengan ragu.
Kulit putihnya hanya dilapisi kain kemben khas zaman old, mengingatkannya pada penduduk saat berada di bumi Majapahit.
"Ndoro Ayu!"
***
__ADS_1
bersambung