
Honda jazz abu-abu milik Icha membelah jalanan Trowulan. Masih pagi. Masih dingin. Mungkin jika di Surabaya Icha masih berlindung dibawah selimut di dalam kamarnya. Karena sedang di Mojokerto gak mungkin pagi-pagi Icha tidur lagi setelah sholat subuh. Bisa-bisa ceramah agama ala Da'i kondang yang ia terima. 😂😂😂
"Cha.. makan di situ yuuuk...." Kata Aksa sambil menunjuk ke sebuah warung.
"Yang mana saja lah mas..." Sahut Icha
"Sa... kamu tuh ya... percuma nanya sama tuh cewek. Dia tuh makan apa saja dan dimana saja pasti di iya in. Gak tau tuuh cewek apaan." Sambung Zain yang ada di sebelah Aksa. Icha hanya memonyongnya bibirnya sebel.
"Haa haa ha... kalo kayak gitu kamu lucu deeh Cha.." Kata Aksa sambil membelokkn mobil Jazz Icha ke arah warung yang di tunjuknya. Icha semakin memonyongkan bibirnya.
Mobil berhenti di depan warung namun tak sampai menutup pintu masuknya.
Ketiganya langsung turun tanpa diperintah.
"Wah... brengkesan nggeh niki Buk?" ( "Wah... brengkesan ya ini Bu? )Tanya Icha begitu duduk di bangku ala lesehan.
*Brengkesan adalah makanan sejenis seperti pepes. Dibungkus daun. Khas Jawa Timur. Isinya bisa ikan apa saja atau kadang tahu atau tempe*
"Iya... " Jawab Ibu pemilik warung itu.
"Kamu mau makan apa Cha?" Tanya Aksa
"Ini aja deh Mas.." Jawab Icha sambil menunjuk brengkesan yang tadi.
"Cha... aku berani taruhan abis ini, seisi warung pasti kamu borong... " Oceh Zain.
"Zain... Gak usah ngomong kayak gitulah. Kan aku malu..." Ucap Icha sambil menutup matanya dengan kedua tangannya pura-pura malu padahal dia ketawa kecil.
"Kamu punya malu juga, Cha?" Sambung Zain
"Anjirr .... Aku gak punya malu. tapi masih punya ********. Puas ... wekk." Jawab Icha sambil senyum lebar dan melet2in lidahnya.
Aksa yang melihat perilaku dua sahabat itu hanya geleng-geleng kepala.
Dan benar saja, dari brengkesan merambat ke bothokan*) lalu ayam goreng dan terakhir lele goreng.
Zain yang hafal kelakuan Icha hanya senyum-senyum. Sedangkan Aksa yang baru kali ini menemukan cewek model kayak Icha, banyak makan tanpa mikir berat badan. Hanya mampu ber wow wow dan geleng-geleng kepala.
*) Bothokan adalah makanan yg di bungkus daun isinya kelapa, tahu, tempe, udang, kadang ada yang dikasih lamtoro ( petai kecil ), jamur atau sekarang bisa di modif dengan aneka jenis bahan makanan.
__ADS_1
Haa haa haa.... bukan maksud Thor bikin laper lo yaa...
Tapi beneran enak banget 😅
Pelataran Candi Bajang Ratu masih sepi ketika mereka masuk. ( Hee hee hee.. tapi kan memang wisata model edukasi lebih sering sepi ketimbang ramai. kalau sangat ramai biasanya karena ada kunjungan dari sekolah )
Karena ada Zain dan Aksa yang menemani Icha. Tiket masuk gratis. ( Padahal Ica memang gak pernah bayar 😀😀😀 , cukup sebut nama Zain. Maka fasilitas free akan datang kepadanya )
( Maapken Icha ya Pak Bupati Mojokerto taK bermaksud mengurangi pemasukan Kota Bapak kok. Tapi kan Icha terlalu sering bolak-balik sampai petugasnya hafal )
Zain masuk ke kantor, membiarkan Aksa dan Icha mengelilingi Area Candi berdua.
"Mas Aksa udah pernah denger cerita tentang Bajang Ratu?" Tanya Icha sambil berjalan menuju Situs Candi.
"Belum sih." Jawab Aksa.
"Zain pernah bercerita ke Icha. Kalo Bajang Ratu itu kependekan dari bakal jabang ratu." Jelas Icha.
Oh ya, ini catatan dari author. Ratu dalam bahasa Jawa artinya raja atau penguasa. Dan bukan terikat dengan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan kalau raja disebut Ratu. Semisal nee, ada soal. "Ratu ing Alengka arane....( Dasamuka)"
back to Aksa N Icha
Aksa hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Icha.
"Fotoin Icha dong Mas... di sini." Pinta Icha.
Tanpa menjawab Aksa menyahut kamera ponsel Icha.
Bunyi klik-klik menandai gambar sudah diabadikan.
"Zain curang ... dia banyak cerita ke kamu. Ke aku dia gak pernah cerita." Omel Aksa.
"Mas... Aksa. cerita yang aku sampaikan itu kan cerita dari mulut ke mulut coba saja cek di buku pasti tidak ada. Tentu saja Zain tidak berani cerita. Karena belum ada literaturnya." Jawab Icha.
"Coba Mas Aksa perhatikan. Diantara dua gapura Bajang Ratu ini. Ada dua patokan seperti makam di tengahnya." Tunjuk Icha.
__ADS_1
Aksa melihat ke arah jarum jam dua belas seperti yang di tunjuk Icha. Mendekat. Agar bisa melihat dari jarak yang lebih dekat.
Tentu saja, mereka saat ini tidak bisa mendekat karena ada peringatan tidak boleh naik.
Aksa memperhatikan dua patokan yang dimaksud Icha. Mirip dengan batu nisan.
"Berarti bisa jadi jenazah bayi tersebut dikubur di sini ya Cha?" Seru Aksa dengan tatapan masih ke dua patokan tersebut.
"Yuupzzz...." Sahut Icha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedangkan Zain di dalam kantor.
"Kok masih disini Zain?" Tanya Eko temanmu.
"Bosen Ko... Biarkan mereka berdua saja." Jawab Zain.
"Kamu gak lagi jeles kan Zain?" Tanya Eko lagi.
"What??? Jeles??? Ogaah..." Sahut Zain dengan cepat dan tertawa lebar.
"Ko..Eko... Icha tuh sama aku cuma berteman. Kita berteman sejak kecil. Lagian aku udah punya calon istri." Seru Zain.
Eko yang mendengar itu ikut tertawa.
"Kirain ....Icha sama kamu tuh..." Belum sempat Eka melanjutkan kalimatnya. Aksa tiba-tiba datang dengan membopong tubuh Icha.
"Tolong... Icha... tiba-tiba pingsan." Kata Aksa panik.
"Cepat ... cepat taruh sini..." Seru Zain lebih panik.
"Zain.. Icha.. kenapa?" Tanya Aksa
"Harusnya aku yang nanya. Icha habis kamu apain?" Zain semakin panik.
Minta kayu putih dioleskan ke hidung Icha. Sepatu Icha sudah dilepas. Tapi Icha belum ada tanda-tanda siuman.
Suasana kantor berubah ramai dan ribut karena Icha. Tapi tak mengurangi pelayanan mereka kepada pengunjung yang lain.
__ADS_1
Mereka tak mau kepanikan mereka mengganggu kunjungan dari pengunjung lainnya. Mereka tetap membuat suasana nyaman untuk pengunjung.