
Narendra dan Adistya sedang duduk di depan teras rumahnya. Menikmati udara sore yang begitu sejuk. Ditambah dengan langit yang dipenuhi mega kemerah-merahan menambah keelokannya.
"Mas..., Kita harus segera balik." Kata Adistya penuh harap
"Pasti... karena kehidupan kita tidak di sini." Balas Narendra
"Tapi apa yang diinginkan Zain, hanya sebatas sini saja?" Tanya Narendra galau.
"Entahlah." Adistya nampak mulai bimbang.
Keduanya saling menatap dalam. Saling membuang napas dengan kasar. Kali ini mereka mencoba berdamai dengan taqdirnya di bumi mojopahit.
"Dan kamu, Dis. Apa yang kamu inginkan sudah terjawab?" Tanya Narendra seolah menyelidik keinginan istrinya itu.
Adistya hanya menunduk, "Belum Mas, masih ada yang perlu aku ketahui tentang asal usulku." Gumamnya dalam hati.
"Mas, aku ambill singkong dan ubi yang tadi dimasak sama Mbok Ra." Pamit Adistya sambil masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban 'iya" suaminya.
Setelah Adistya masuk, Mbok Bano datang bersama seorang anak laki-laki.
"Mbok sopo kuwi?" Tanya Narendra.
(Mbok siapa itu?)
"Wayah kulo Den." Jawab Mbok Bano.
( Cucu saya, Den )
"Oh.. Rene yo Le.. sopo jenengmu Cah Bagus?" Sapa Narendra kepada anak lelaki itu. ( Ob, sini Nak. Siapa namamu?)
"Dimas, Ndoro..." Jawab anak itu.
( Dimas, Ndoro )
"Apik tenan jenengmu, Le.." Komen Narendra.
( Bagus sekali namamu)
"Mbok jarno Dimas nang kene." Pinta Narendra. ( Mbok, biarkan Dimas di sini )
Adistya keluar membawa Kendi , gelas dan beberapa kudapan.
"Mas, monggo.. Eh, sopo iki?" Wajah Adistya nampak terkejut memandang sosok anaka laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun tengah bercengkrama dengan suaminya.
( Mas silahkan. Eh, siapa ini?)
"Oh.. iki Dimas. Putu e Mbok Bano." Jelas Narendra.
( Oh, ini Dimas. Cucunya Mbok Bano. )
Adistya menatap anak laki-laki itu tak berkedip. Wajahnya mengingatkan dia pada seseorang. Tapi entah siapa, Adistya belum bisa mengingat memorinya sepenuhnya.
"Mas.... ageh ndang di dahar. Selak adem loo." Pinta Adistya.
( Mas, segera dimakan. Keburu dingin nanti.)
Narendra menatap Adistya dengan senyum tamvannya. Membuat Adistya sedikit tersipu.
"Jangan aneh-aneh ada anak kecil di sini." Bisik Adistya.
"Kalo gitu dikamar boleh ya..." Goda Narendra. Membuat Adistya salah tingkah. Menyembunyikan Semburat blusing pipinya.
Narendra mengambil piring tembaga berisi singkong dan ubi rebus dengan santai.
"Dim.. age di maem. Dientekno.." Ajak Narendra yang sudah nyaman dengan Dimas.
( Dim.., ayo dimakan. Dihabiskan. )
__ADS_1
Adistya hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya, yang kadang diluar dugaannya.
"Matur nuwun, Ndoro." Dimas berusaha menolak, tapi beberapa kali ia menelan salivanya seperti menahan sesuatu.
( Terima kasih, Ndoro. )
Karena sebelum maksa ikut emaknya ke ikut ke rumah Ndoronya, ia sudah diwanti-wanti Emaknya.
"Eleng yo Lee.. ojo cerongohan. Ndoro Bagus karo Ndoro Ayu kuwi wong e apik. Kowe nek melu emak dijogo toto kromone. ojo gawe isin emak." Begitu yang diingat Dimas.
( Ingat ya Nak, tidak bole ceroboh. Tuan dan Nyonya itu orang baik. Kamu kalau ikut dijaga tata kramanya. Jangan buat Emak malu. )
"Mboten, Ndoro.. Dalem dereng kaliren." Sahut Dimas penuh takut.
( Tidak Ndoro, saya belum laper )
Narendra tertawa terkekeh mendengar jawabam Dimas, begitupun Adistya.
"Wis Dim, di pangan wae. Ora usah wedi karo emakmu." Katak Adistya seakan tahu apa yang dipikirkan bocah sepuluh tahun itu.
( Sudahlah Dim, dimakan saja. Tidak udah takut sama Emakmu.)
Dimas memandang Ndoro Ayunya dengan takjub.
"Ayu tenan... " Batin Dimas.
( Cantik sekali )
"Wis ndang di jupuk Dim." Kata Adistya lembut.
( Segera diambil, Dim.)
"Saestu ta niki, Ndoro.." Dimas masih ragu.
( Benarkah, Ndoro )
"Iyo, Dim.. wis ndang. Sikat.." Ajak Narendra antusias.
Dengan sedikit ragu, Dimas mengambil sepotong singkong rebus dari piring. Lalu menggigitnya pelan-pelan.
Begitupun Narendra dan Adistya, mereka bertiga kembali bercengkrama dengan akrab sambil menikmati singkong dan ubi rebus.
"Enak kaspene?" Tanya Narendra.
( Enak singkongnya?)
"Eco Ndoro." Jawab Dimas.
( Enak, Ndoro )
Adistya menatap kembali wajah Dimas. Samar-samar dia teringat sesuatu.
"Kang, nek tak sawang-sawang wajah e Dimas kuwi loo mirip koyok cilik ane Zain." Bisik Adistya membuat Narendra menatap Dimas dengan seksama.
( Mas, kalo saya perhatikan wajah Dimas mirio seperti wajah Zain waktu kecil )
Walaupun Narendra / Aksa tidak pernah mengenal masa kecil Zain tapi dengan menatap seksama wajah Dimas terlihat kemiripan keduanya.
Narendra dan Adistya saling menatap.
"Dim... Dimas.. " Panggil Narendra, auto Dimas menoleh ke arah Ndoronya.
"Dalem Ndoro." Jawab Dimas gelagapan takut melakukan kesalahan.
( Iya Ndoro)
"Dim.. mulai saiki ojo uluk aku Ndoro yoo. Kowe nyeluk aku Kakang lha nek karo Ndoro ayu nyeluk Mbakyu yoo.." Titah Narendra.
__ADS_1
( Dim, mulai sekaramg kamu tidak bole memanggilku dengan Ndoro. Kamu harus mamanggilku Kakang. Dan kalau sama Ndoro Ayu kamu harus memanggilnya Mbakyu. )
"Mboten Ndoro..." Mbok Bano tiba-tiba keluar menyanggah permintaan Narendra.
( Tidak Ndoro )
"loo opo o, Mbok?" Narendra terkaget-kaget mendengar suara Mbok Bano yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
( Kenapa, Mbok?)
"Toh, aku karo Adistya ora duwe adhi. Wis jarke to Mbok. Dimas tak enggep e koyok adhiku dewe. Mengko nak Adistya duwe anak yoo ben dikancani karo Dimas." Jelas Narendra.
( Kan aku dan Adistya tidak punya adik. Biarkan Mbok. Dimas sudah tak anggap seprti adikku sendiri. Nanti kalo Adistya punya anak biar ditemani Dimas.)
"Dim, kowe gelem too, mengko ngancani anak e Mbakyu karo Kakangmu." Pinta Narendra.
( Dim, kamu mau kan, menjaga anak dari kakak sama Mbakmu ini?)
"Nggeh purun, Ndoro." Jawab Dimas antusias.
( Ya mau,Ndoro.)
"Kok Ndoro to Dim. Kakang karo Mbakyu." Narendra kembali membetulkan.
( Kok Ndoro sih Dim. Kakang dan Mbakyu.)
"Oh.. injih.. Kakang.. Mbakyu..." Kata Dimas sedikit gemetar khawatir Emaknya marah.
( Oh iya.. Kakang. Mbakyu..)
"Nah.. yoo ngunu. Wis sak jok e saiki, kowe Dim. Wis dianggep adhi karo Kakang Rendra lan Mbakyu Adistya. Ojo sungkan nek arep njaluk opo-opo." Kata Narendra senang.
( Nah, begitu. Mulai sekarang kamu sudah dianggap adik sama Kakang Rendra dan Mbakyu Adistya. Jangan malu minta apapun.")
"Mbok.. jarke anak e melu aku nang kene." Pinta Narendra, membuat Mbok Bano semakin bingung.
( Mbok, biarkan anak ini ikut kita di sini.)
"Wis to Mbok...ora usa bingung." Kata Adistya melihat Mbok Bano kelimpungan. Seolah mencari alasan agar Dimas tidak menganggu kehidupan Ndoronya..
( Sudahlah Mbok, tidak usah bingung. )
"Ndoro... " Ucap Mbok Bano cemas.
"Opo, Mbok. Ora usah wedi Mbok. Bapak emak e Dimas nyang endi se Mbok?" Tanya Narendra iseng.
( Apa,Mbok. Tidak udah takut. Bapak ibunya Dimas kemana, Mbok?)
"Sampun sedo, Ndoro." Jawab Mbok Bano.
( Sudah meninggal, Ndoro.)
Mendengar jawaban Mbok Bano membuat hati Narendra dan Adistya semakin terhenyak.
"Yo wis ben Dimas nyang kene wae. Melu rewang yo ora po_po. Dim, kowe iso mreman nang sawah to?" Seru Narendra sambil menatap Dimas.
( Ya sudah biar Dimas disini saja. Bantu-bantu di sini. Dim, kamu bisa mengerjakan sawah?)
"Saged Kang." Jawab Dimas santun.
( Bisa Kang )
"Mulai sesok baturi Kakangmu nyang sawah yoo." Titah Narendra.
( Mulai besok bantu kakangmu di sawah ya..)
💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
__ADS_1
haiyyaaa... ..
Sebentar lagi mereka balik gak yaa ke dunianya..