Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Bingung


__ADS_3

Aksa baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan yang baru, sebelum melangkah menuju halaman sebelum menemui MBok Ra dan Mbok Bano. Dua wanita paruh baya yang banyak membantu kehidupannya dan Ica. Baik saat berada di kraton maupun setelah pindah rumah. Lebih tepatnya Narendra dan Adistya.


Ada kerinduan yang amat kepada keduanya. Meskipun, Aksa tidak pernah tahu bagaimana masa kecil Narendra, tetapi ia sangat paham bagaimana rasanya tidak memiliki ibu sejak kecil.


Sesayang-sayangnya sang Premeswari kepada Narendra, tetap saja tidak bisa selayaknya ibu kandung. Ratu juga memiliki putra kandung yang ia sayangi.


Perasaan peka seorang wanita sebagai ibu memang bisa saja tidak saling membedakan. Namun, bagi seorang anak tetap saja ia menginginkan ibunya sendiri tanpa berbagi dengan saudara tiri atau lainnya.


Kehadirannya dan Ica hanyalah sebagai pengganti atau entah apa? Sampai saat ini ia belum bisa memastikan apa tujuan sang penguasa semesta menyeret masuk ke masa yang tidak seharusnya ia berada.


Aksa hanya tahu, yang sangat ingin tahu menguak misteri masa lalu adalah Ica. Wanita yang kini sah menjadi istrinya itu akhirnya merasa puas dengan terkuaknya tabir nenek moyangnya.


Ica sekarang sudah tahu silsilah masa lalu yang membuatnya berbeda dari saudara dan kedua orang tuanya.


Istri tercintanya itu memiliki darah seorang Tiong Hoa dari buyut-buyutnya.


Nenek moyang yang mungkin saja kakek neneknya juga tidak tahu. Sehingga, Kedua kakek nenek Ica tidak banyak memberitahu tentang silsialh keluarga mereka.


Ica yang tidak sengaja masuk ke masa lalu itu bukan saja membuka tabir masa lalunya sendiri, tetapi juga Aksa. Bersama Ica, Aksa akhirnya tahu bahwa dirinya di masa lalu adalah seorang pangeran yang tidak diinginkan kehadirannya.


Aksa terlahir dari rahim seorang istri selir sang Prabu. Aksa yang di masa lalu bernama Narendra menjadi putra kesayangan sang Prabu, tetapi kakak tiri yang mengincar tahta sangat membencinya.


Kakak tiri yang berusaha mencelakakan dan menjatuhkan dirinya setiap saat. Yang terparah saat sang kakak tiri berusaha merebut gadis yang digadang-gadang menjadi calon istrinya.


Siapa juga yang menyangka demi cita-citanya tersebut, Raden Alit sampai melukai Adistya dengan kejam. Beruntung gadis tersebut bisa selamat.


Melalui Ica juga garis nasibnya berubah.


Di masa Majapahit sebelumnya, Narendra harus tewas di tangan Raden Alit karena menyelamatkan Adistya. Adistya yang saat itu tengah mengandung akhirnya diusir dan membesarkan putra semata wayangnya seorang diri.


Setelah kehadiran Ica, garis takdir seolah berubah dengan mudahnya. Ica yang notabene berasal dari masa lalu berusaha membantu Narendra dan Raden Alit untuk akur.


Ica berusaha menetralisir persaingan kedua pria muda itu mendapatkan hatinya. Ica juga yang banyak membantu perselisihan dalam pemerintahan saat Raden Alit akan naik tahta.


Gadis yang di masanya adalah seorang pecinta sejarah memang tidak kesulitan membaca situasi. Satu-satunya kesulitan yang harus ia hadapi adalah kekuasaan itu sendiri.


Narendra yang sangat mencintai Adistya, terus mendukung apapun keputusan sang putri.

__ADS_1


Iya, secara garis keturunan Adistya adalah seorang putri karena menikah dengan Narendra. Salah seorang pangeran kebanggaan majapahit. Namun, mereka berdua memilih mundur dari hinggar bingar kehidupan istana.


Keduanya memilih menjadi rakyat biasa demi menyelamatkan kerajaan.


Kedua orang tua Narendra dan Adistya yang tidak tega, akhirnya mengirimkan emban yang selama ini merawat keduanya sejak bayi. Mbok Ra dan Mbok Bano.


"Ndoro ...," panggil suara seornag pemuda berusia belasan yang terengah-engah karena berlari ke arahnya.


"Ada apa, Dim?" tanya Aksa dengan bingung menghentikan langkahnya menoleh ke belakang.


"Saya temani, Ndoro," balas Dimas masih dengan tersenggal-senggal.


"Iya, tapi atur napas dulu!" kata Aksa sambil tersenyum.


"Kamu tuh, gak pernah berubah," lanjut Aksa.


"Mbok ya, duduk-duduk sana loh, kan, enak," ucap Aksa.


"Mana berani saya duduk-duduk manis, sementara Ndoro Bagus kerja. Keliling liat sapi dan kambingnya," jawab Dimas dengan enteng.


Aksa terkekeh mendengar pengakuan pemuda tersebut.


Pria yang berstatus pengantin baru itu, tampak tercengang menyaksikan pertumbuhan binatang ternaknya.


"Padahal baru beberapa hari aku kembali ke dunia nyata, ternak-ternak Kang Alit sudah sebesar ini," gumam Aksa lirih.


"Ndoro ini sudah lima bulan, ya jelas saja pertumbuhan mereka sebesar ini," sela Dimas yang mendeb=ngar gumaman Aksa.


Aksa menoleh ke arah Dimas sambil tersenyum dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya waktu di sini lebih cepat dari duniaku," batin Aksa.


Untuk menghindari kecurigaan Dimas, Aksa kembali fokus pada binatang ternak.


"Yang merawat sapi dan kambing ini siapa, ya?" gumam Aksa.


"Mbok Ra atau MBok Bano?" Aksa masih bergumam lirih mengelus kepala sapi dan kambing bergantian.

__ADS_1


"Loh, yang merawat ya, Ndoro sendiri. Emak mana bisa? Emak bisanya masak dan bersih-bersih," saahut Dimas tanpa diminta tatapannya terlihat keheranan dengan ucapan Ndoronya yang membingungkan.


"Kita ke dapur aja, yuk!" ajak Aksa kembali mengaburkan kecurigaan Dimas.


Segera Aksa negluyur meninggalkan Dimas yang masih menutup pintu kandang.


"Mbook," panggil Aksa begitu masuk dapur dan mendapati dua wanita paruh baya sedang sibuk menyiapkan makanan.


"Ndro Bagus," seru keduanya gelagapan karena tiba-tiba dipeluk Aksa.


"Ndoro ini kenapa?" tanya Mbok Ra melepaskan pelukan Aksa.


"Kangen," balas Aksa melepas pelukan emban yang merawatnya.


"Kangen gimana? Wong saben dino ketemu. Ojo gawen-gawen," timpal Mbok Ra mencubit pinggang Aksa yang ia anggap Narendra.


Aksa hanya meringis mendapat cubitan dari emban yang sudah seperti ibu baginya itu.


"Sudah di depan saja! Temani Ndoro Ayu. Biar kita selesaikan masaknya," usir Mbok Bano yang sejak tadi ikut tersenyum menyaksikan tingkah majikannya.


"Siap, Mbok!" balas Aksa.


"Omongan opo toh, iku!" timpal Mbok Ra yang masih bingung dengan tingkah Ndoronya.


"Lapo kuwi Ndoro Bagus aneh, yo, Yu?" tanya Mbok Ra pada Mbok Bano setelah Aksa meninggalkan area dapur.


"Emboh talah," jawab Mbok Bano cuek.


"Kaet maeng, Mak. Ndoro Bagus rodo aneh pancen. Mosok takon sapi karo cempe kuwi sopo sing ngeramu?" sahut Dimas yang juga masuk ke dapur menyusul Aksa, tetapi ia bertahan menemani kedua Mbok yang seperti neneknya sendiri.


"Lha yo," seru Mbok Bano.


Aksa yang sengaja bersembunyi tidak jauh dari dapur tersenyum jahil mendengar ghibahan mereka.


"Hayyooo! Ngapain!"


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2