
Aksa masih memandang aneh wajah Icha.
Icha sendiri masih sibuk menghilangkan pusingnya.
"Cha , kita makan ya..." Pinta Aksa.
Icha masih terdiam, memandang Aksa.
"Mas, aku pengen makan ayam goreng yang super cryspy ..." Kata Icha.
Aksa mengangguk, sambil garuk-garuk.
"Giliran denger makan aja langsung nyambung... " Gerutu Aksa melihat kelakuan Icha yang super aneh beberapa.
"Ntar kan dia cerita. Mending sekarang kamu turutin aja tuh anak." Kata Zain yang udah paham karakter Icha.
Aksa menuruti permintaan Zain, dengan sigap mereka langsung menuju resto cepat saji yang jaraknya lumayan jauh dari trowulan. Karena setau Aksa resto itu hanya ada di Kota. Maka meski jauh, Aksa tetap menurutinya demi seorang Icha.
Di resto...
Meja penuh dengan ayam super crunchy, kentang goreng, beef burger , lemon tea dan cola.
Aksa membiarkan Icha memesan apapun yang dimintanya. Sedangkan dia sendiri hanya memesan panas spesial dan lemon tea.
"Mas... Mas Aksa percaya reinkarnasi gak?" Tanya Icha masih dengan mulut penuh makanan.
"Enggak..." Sahut Aksa cepat.
"Ooh.. " Jawab Ica tanpa menoleh sedikitpun.
Setelah itu Icha dan Aksa sama-sama terdiam tak ada yang bersuara. keduanya sibuk dengan makanan di depannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perjalanan pulang....
"Cha.. kamu udah enakan." Tanya Aksa
"Udah Mas." Jawab Icha
"Mas, kamu pernah gak ngerasain sesuatu yang aneh saat ketemu aku atau mungkin waktu lain gitu." Tanya Icha.
"Aneh gimana Cha?" Tanya ulang Aksa
"Ya...yang gak kayak biasanya gitu." Icha seperti kesulitan menjelaskan.
"Awwhh..." Tiba-tiba Aksa berteriak.
"Mas..Mas Aksa kenapa?" Tanya Icha panik.
Napas Aksa memburu. Wajahnya pucat.
"Mas... berhenti. Biar Icha aja yang bawa mobilnya." Pinta Icha.
Aksapun menepikan Smart fortwo passionnya. Ica segera berpindah ke jok kemudi menggantikan Aksa.
__ADS_1
Ica memegang dahi Aksa, keringat dingin meluncur sukses di dahi Aksa membuat Ica semakin cemas.
Ica segera membawa Aksa kembali ke kosannya yang berada di sekitaran Trowulan tak jauh dari Pendopo Agung.
Dibantu tetangga Aksa, Ica akhirnya memindahkan temannya itu ke kamar kos annya.
Setelah mendapat izin dari tuan rumah untuk merawat Aksa sampai Zain datang. Ica pun mengkompres dahi Aksa. Memberi obat.
"Mas... Mas Aksa ngerasain apa?" Tanya Ica
"Dingin Ca.." Jawab Aksa.
Ica mengkerutkan dahinya. Padahal cuaca sekarang sedang panas. Batin Ica.
"Aneh..." Batin Ica.
"Ca... aku tadi sepintas lihat seorang pemuda naik kuda. Gagah banget. Aku hampir menabraknya." Kata Aksa masih dengan mode kedinginan.
Ica menyimak cerita Aksa.
"Tadi itu nyata banget Ca..., dia seperti marah." Lanjut Aksa.
Ica menggenggam talapak tangan Aksa. Menenangkannya.
"Mas... Mas Aksa. Lihat Ica." Kata Ica.
"Tarik napas Mas, keluarin pelan-pelan dari mulut." Ica masih menggenggam jemari Aksa.
Aksa masih belum bisa tenang. Aksa masih panik.
Ica memeluk Aksa.
"Nyaman..." Bisik Aksa pelan.
"Mas Aksa peluk Ica aja dulu....sampai tenang." Bisik Ica.
Entah sudah berapa lama keduanya berpelukan dengan Aksa membenamkan kepalanya di ceruk leher Ica. Begitu sebaliknya dengan Ica.
"Mas, Mas Aksa tenang ya... " Begitu yang terus di dengungkan Ica.
"Ooh.. jadi begini kelakuan kalian ya... " Suara Zain membuyarkan pelukan keduanya.
"Bagus... jadi sekarang aku balik aja ya..." lanjut Zain.
"Eh, jangan... Kamu di sini lah..jagain Mas Aksa." Seru Ica.
"Kenapa dia?" Tanya Zain melihat Aksa pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
"Aku gak tau pastinya. Tapi Mas Aksa seperti syok..." Jawab Ica.
Zain mendekat ke Aksa. Memeriksa keningnya. Dingin. Normal.
"Ca..., Apa perlu Aksa di bawa ke rumah sakit?" Tanya Zain.
"Kita lihat dulu kalo sampai enam jam ke depan masih belum ada perubahan kita bawa ke rumah sakit." Kata Ica
__ADS_1
"Tadi udah aku kasi obat kok Zain." Lanjutnya.
Keduanya duduk di samping kanan kiri ranjang Aksa.
Jangan bayangkan kos an Aksa sangat nyaman dan luas.
Kamar kos an yang disewa Aksa hanya sebuah bilik berukuran 3 x 4 meter persegi. Dengan dinding yang semi permanen. Beratap genteng tanah liat tanpa plafon.Tak ada AC apalagi kipas angin. Yang ada AC alami 🤭🤭🤭🤭 Angin Cendela.
Yupzz satu-satunya sirkulasi hanya cendela besar di sisi kanan ranjang dan di dekat pintu.
Kondisi Aksa masih belum berubah. Masih terlihat cemas.
"Zain, izinin aku peluk dia ya..." Pinta Ica.
"Enggak..." Kata Zain.
"Zain, Mas Aksa saat ini butuh sesuatu yang bisa membuatnya nyaman." Rengek Ica.
"Biar aku yang peluk dia kalo gitu." Putus Zain seakan tidak rela Ica asal memberikan pelukan ke cowok di depannya itu.
Zain dengan menahan rasa jijiknya karena harus memeluk sesama jenisnya.
Zain merangkul Aksa.
"Aaaaawwwhh... panas.." Pekik Zain.
"Kenapa Zain?" Ica menangkap tubuh Aksa yang di dorong keras Zain.
"Untung gak natap kayu, Zain." Seru Ica panik.
"Panas banget badannya Aksa, Ca.." Kata Ica.
"Panas gimana Zain?" Ica memeriksa suhu tubuh Aksa. Termometer di letakkan di ketiaknya.
Sebentar kemudian, bunyi tut tut menandakan term selesai melakukan tugasnya. Ica mengambil dan melihat suhunya.
"Zain, normal... masih 36 derajat." ucap Ica.
"Ya udah kamu aja yang peluk dia, tenangkan cowok edan ini." Untuk Zain yang gak ikhlas sahabatnya memeluk cowok yang bukan muhrimnya.
Ica hanya tersenyum kecil melihat sedikit kemarahan campur kepanikan dari wajah Zain.
Ica beranjak naik ke ranjang Aksa, mensejajarkan posisinya dengan Aksa. Ica memeluk Aksa dari samping. Seakan membiarkan Aksa bermanja di dadanya.
Zain hanya memandangi keduanya dengan tatapan aneh.
"Ca.. dia baik-baik saja kan?" Gumamnya lirih
"Iya..Mas Aksa baik-baik saja."
"Kok tadi pas aku pegang badannya panas banget ya..."
"Kamu gak ikhlas kali Zain" Omel Ica asal nyeplos saja.
Zain kembali berpikir keras... Memandang Ica dan Aksa bergantian berkali-kali. Diulang kembali.
__ADS_1
Dan Zain mengingatnya.....