
"Iya deeh.. apaaan syaratnya?" Kata Ica
"Kiss me and hug me.." pinta Aksa.
"Geniit..." Komen Ica.
"Mau gak?" Aksa membuat pilihan.
Ica pura-pura berpikir.
"Mau gak yaa?"
"Enaknya mau gak ya?"
Ica memegang keningnya.
"Hmm... mau deehh.."
Tak urung, Ica akhirnya menenggelamkan tubuhnya dibawah hangatnya pelukan Aksa.
Aksa langsung membalas pelukan Ica.
Flash kiss.. Ica daratkan ke bibir lelakinya.
Aksa kembali membalas ciuman ringan Ica. Perlahan dan lembut.
Aksa melepas bibirnya. Berpindah ke pipi kanan dan kiri Ica lalu kening.
"Udah.. cerita dulu.." Pinta Ica.
"Tapi pelukannya gak lepas ya.." Ucap Aksa.
"Iya.."
"Janji.."
"Janji.."
"Begini, dari kisah lain disebutkan..." Aksa berhenti sejenak.
Aksa menyandarkan. tubuhnya ke sisi ranjang, karena mereka berdua masih duduk di karpet bawah.
"Ketika Raden Patah datang menemui Ayahandanya. Raden Alit tidak pernah mengusirnya apalagi sampai Raden Patah menyerang Mojopahit. Itu tak pernah terjadi."
"By the way, sebelumnya kamu harus tahu. Bahwa Tan Eng Kian tidak terlalu menjadi istri Raden Alit. Saat hamil, Raden Alit memberikannya kepada Arya Damar."
"Haa??" Ica melongo sambil menutup mulutnya.
"Mas cerita dari awal deh.. "Pinta Ica.
Meskipun Ica suka apapun yang berhubungan dengan nenek moyangnya itu tapi tidak semua ia ketahui.
Aksa menarik napas panjang.
"Ca, agak perlu kasih tau tentang awal kisah cinta Raden Alit kan?" Tanya Aksa
Ica menggangguk.
__ADS_1
"Kita mulai, setelah Putri Cina mengandung." Ucap Aksa.
"Saat kehamilannya yang ketiga bulan Raden Alit mengungsikan Tan Eng Kian atau Siu Ban Ci ke Palembang. Di sana ia dititipkan ke Arya Damar. Yang waktu itu menjabat sebagai Adipati Palembang.
Waktu itu Palembang masih berada di dalam wilayah kekuasaan Majapahit.
Brawijaya V berpesan kepada Arya Damar, bahwa ia bole menikahi Tan Eng Kian tapi tidak diizinkan menyentuhnya sampai anaknya lahir.
Akhirnya anak Brawijaya V lahir dan diberi nama Raden Hasan.
Raden Hasan belajar ilmu islam di tanah Palembang.
Ketika dewasa Raden Hasan mencari keberadaan ayah kandungnya yang ternyata waktu itu ia sudah menjadi Maharaja Majapahit.
Brawijaya V sangat bahagia dengan kedatangan putranya. Ia pun memberi hadiah kepada Raden Hasan dengan menjadikannya adipati di Demak Bintoro.
Raden Hasan melihat bahwa kekuasaan Majapahit sudah tidak sebaik dulu. Apalagi sepeninggal Brawijaya V , Majapahit semakin kacau.
Akhirnya dengan dukungan Dewan Majelis Walisongo , Raden Hasan berhasil memisahkan diri dari Majapahit dan memproklamirkan Kadipaten Demak menjadi Kesultanan Demak Bintoro. Dengan raja pertamanya Raden Hasan yang dikenal dengan sebutan Raden Patah.
Sebetulnya gelarnya Raden Fattah tapi karrena lidah orang Jawa yang suka keplicuk akhirnya nama Fattah malah menjadi patah. Haa ha haa.." Aksa sedikit terkekeh sampai di sini.
"Setelah Kesultanan Demak berkuasa, beberapa wilayah Majapahit berangsur mendukung Demak. Meskipun Demak berbentuk negara islam. Kesultanan Demak memberi kebebasan kepada penduduknya untuk memilih keyakinan. Sama seperti yang dilakukan pendahulunya di Majapahit."
"Ca...kamu masih ingatkan? Brawijaya V yang notanene Hindu menikah dengan Putri Campa yang beragama islam, kemudian menikah lagi dengan Tan Eng Kian yang beragama islam pula." Suara Aksa melandai.
"So, sebetulnya keberagaman agama di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman dulu kala. Bahkan mereka bisa hidup berdampingan dengan tenang." Komen Ica sambil memainkan jarinya di dada kekasihnya.
"Dan keruntuhan Majapahit bukan karena serangan dari Demak. Tapi murni karena adanya perselisihan dari dalam dan perang saudara."
"Hmm.. Aku lebih setuju dengan yang ini. Walaupun banyak versi berbeda diluar sana." Ucap Ica mantap.
"Mas, bobok yuuk, udah ngantuk." Ajak Ica.
"Yuuk..." Aksa membimbing Ica ke ranjang.
"Ca.., besok kita temui Mbak Oppi dan Mbah Yun." Kata Aksa sebelum Ica benar-benar memejamkan matanya.
Tanpa menjawab Ica hanya tersenyum dan meneruskan ritual tutup matanya perlahan-lahan dan akhirnya benar-benar terpejam.
Ica merasa malam ini hatinya begitu tenang. Ica bisa merasakan matanya terlelap tanpa beban.
Aksa yang melihat Ica sudah terlelap dengan nyenyak dan mulai mengikuti jejaknya.
Membaringkan tubuhnya di sebelah Ica dengan damai. Seakan besok adalah benar-benar hari baru untuk mereka.
"Gadis ini meski tidur masih saja tampak cantik." Aksa memejamkan matanya yang sudah mulai berat.
💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Di sebuah taman yang tidak asing lagi bagi Ica dan Aksa.
Keduanya menge akan kostum khas kebesaran negara itu. Kostum yang hampir mirip dengan yang mereka kenakan saat upacara Rajawiwaha Wilwatikta.
Taman Kraton Mojopahit, tempat dimana ia suka nembang bersama para emban dulu.
Ada dua orang lelaki di hadapannya. Yang satu dengan pakaian khas Majapahit yang mereka kenal dengan nama Raden Alit.
__ADS_1
Sedangkan yang satunya berpakaian tertutup seperti baju Koko kalau sekarang. Mengenakan penutup kepala semacam blangkon coklat. Entahlah keduanya tidak mengenalnya lelaki yang bersama Raden Alit.
Tanpa mengucapkan kalimat apapun, keduanya tersenyum kearah Ica dan Aksa sambil melambaikan tangan.
Semakin lama keduanya semakin menjauh. Jauh. Jauh dan menghilang di tengah kabut.
💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Ica memicingkan kedua matanya. Menoleh ke sebelahnya. Aksa masih memejamkan matanya, ada senyum di wajahnya.
Aksa perlahan menoleh ke arah Ica. Menggenggam tangan gadis itu.
Ternyata Aksa juga terjaga dari tidurnya.
Kedua saling beradu pandangan walaupun dengan mata yang sayu efek bangun tidur.
"Mas yang sama Mas Alit tadi siapa?" Tanya Ica lirih.
"Sepertinya Raden Patah. Mereka berdua tersenyum dan melambai ke kita." Balas Aksa.
"Sepertinya senyumnya menggambarkan kebenaran cerita kamu, Mas." Balas Ica.
"Entahlah, kita tidur lagi. Masih jam tiga." Aksa merengkuh tubuh Ica dan memeluknya.
Dan keduanya kembali terpejam menghabiskan sepertiga malam bumi Trowulan yang dingin. Sambil menunggu adzan subuh dari masjid terdekat.
💠💠💠💠💠ðŸ’
Sambil nungguin Ica dan Aksa bangun. Kita ulas sebentar yuuk tentang Sradha.
Sedikit wacana upacra Sraddha pada zaman Majapahit dilaksanakan dua kali. Yaitu pada masa Raja Hayam Wuruk dan Sri GirindhWardhana.
Pada masa Raja Hayam Wuruk, upacara ini bertujuan memperingati kematian Rajapadni Gayatri.
Pada Masa Sri Girindhawardhana untuk memperingati dua belas tahun kematian sang Ranawijaya. sekaligus untuk mengeluarkan prasasti Jiyu.
Prasasti Jiyu yaitu prasasti pengukuhan tanah Trailokyapuri sebagai hadiah mendiang Singawardhana kepada Sri Bhrahmaraja Ganggadara.
Byuuh namanya susah ya gaess....
Upacara Sraddha adalah upacara kematian dalam agama Hindu.
Istilah Sraddha di Jawa seiring waktu bergeser menjadi Sadran. Bahkan dengan lidah keplicuknya banyak yang menyebut nyadran.
Terus apa masih ada aktifitas ini di jawa?
Masih.
Salah satunya adalah upacara grebek suro.
Prosesinya sudah tidak mengikuti tata cara hindu, tapi lebih mengakulturasi budaya islam.
💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
**Maaf ya kalo ada typo..
kalian bisa kok cek tentang sraddha di google
__ADS_1
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤**