Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Penyesalan


__ADS_3

Adistya menarik paksa tangan Aksa yang mulai gemetar karena tak menyangka istri Narendra itu bisa agresif. Benar-benar diluar ekspektasinya sebagai penggoda.


(bakal kena batunya gak, ya si Aksa)


Aksa yang semula beranggapan Adistya pemalu harus ia coret tebal. Adistya sebelas dua belas dengan Ica. Hanya saja Adistya lebih pemalu daripada Ica yang malu-maluin.


Pria berhidung mancung itu dengan langkah gontai menuju kamar pribadi Narendra. Meksipun, ia tidak asing dengan tata letak kamar yang sempat ia tempati bersama Ica, tetapi rasanya berbeda.


Tidak ada Ica di sisinya membuat Aksa merasa hampa. Bagian jiwanya seolah tidak lagi utuh.


Bertemu dengan Adistya malah membuatnya galau dan ingin tahu keberadaan istrinya.


Menggoda istri Narendra yang awalnya mampu membuatnya mengalihkan perhatian dari Ica, ternyata salah. Saat Adistya menggandeng paksanya masuk ke kamar, saat itu di hatinya hanya ada Ica. Semirip appaun wanita di hadapannya tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari istri cantiknya yang entah saat ini ada dimana.


Di saat genting begini harapannya hanya satu, kembali ke dunianya sendiri.


"Coba Kang Mas bantuin aku cari pakaian yang kakang belikan waktu itu," kata Adistya sambil tersenyum licik.


Aksa yang tidak pernah tahu barang-barang pemberian Narendra, menggaruk rambutnya yang tiak gatal.


Beberapa saat ia berdiri di depan lemari besar yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas.


Netra Aksa meneliti satu per satu pakaian milik Adistya.


Beberapa sempat ia kenali, tetapi banyak yang tidak ia tahu. Seluruh isi lemari hampir penuh dengan barang terbaru milik Adistya.


Penampilan wanita itu memang tidak lagi seperti dulu. JIka sebelum menikah, koleksinya dipenuhi pakaian khas China sedangkan saat ini beberapa sudah ada pakaian khas masyarakat lokal.


Pandangan Aksa tertuju pada satu stel pakaian istimewa yang selalu ia ingat. Kostum yang dikenakan Adistya saat pertama kali ia lihat di pasar.


Satu stel pakaian lebar dan berlapis khas milik bangsa China. Sebagai putri keturunan China, Baba Wang sengaja membiasakan anak gadisnya mengenal budaya mereka melalui pakaian, selain mengenalkan budaya lokal.


Perlahan tangan Aksa meraih pakaian berwarna biru laut. Pria itu seolah lupa dengan keinginan Adistya.


Adistya yang sejak tadi memperhatikan Aksa, membiarkan saja pria yang dianggapnya suami itu menarik baju apapun di lemari besar tersebut.


Tidak ada keinginan menyanggah atau menyalahkan pilihan suaminya. Lebih tepatnya suami dari masa depannya.


"Aku paling suka, liat kamu pakai baju ini." Aksa membuka lipatan kain yang sudah ditata rapi salah satu emban mereka.


Adistya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Pakaian yang dipegang Aksa adalah baju kesayangannya.

__ADS_1


"Aku pertama kali bertemu denganmu saat memakai baju ini. Kamu dan Mbok Bano waktu itu sedang asyik berbelanja di pasar." Senyum Aksa terus tersungging menatap pakaian indah milik istri masa lalunya itu.


Adistya yang tidak ingat kapan dan dimana Aksa waktu itu, membisu. Speechless. Tidak ada satu kata pun yang bisa ia keluarkan membalas cerita Aksa yang membuatnya kembali meleleh.


Seketika keinginnya membalas Aksa musnah tak berbekas.


"Kamu berjalan dengan anggun cantiknya, menawar setiap barang yang kamu inginkan." Pandangan aksa seolah kembali ke masa dimana ia jatuh cinta pada sosok yang tiak ia tahu namanya.


Namun, ia sangat mengenali wajah cantiknya.


Wajah yang mirip dengan Ica - teman wanita Zain. Gadis yang baru ia kenal beberapa saat lalu.


Gadis yang akhirnya ia kenal sangat tengil dan nekat.


"Sudah ya, jangan bikin hatiku luluh dengan mudah." Adistya kembali meletakkan pakaian yang ditarik Aksa.


Pria itu terkekeh menyaksikan tingkah Adistya.


"Aku menang lagi, kayaknya. Si putri udah mulai baper," gumam Aksa dalam hati.


"Kamu inget gak? Kapan pertama bertemu aku?" tantang Aksa menatap Adistya.


Wanita itu mengedikkan bahu.


Yang asrtinya entahlah. Ia benar-benar tidak ingin mereunikan memorinya ke masa lalu sebab di awal-awal Adistya sempat menolak perjodohan mereka.


Ia beranggapan pangeran itu dimana-mana itu serakah. Tidak cukup dengan satu wanita. Istrinya memang satu, tetapi selirnya entah ada berapa?


Adistya yang memiliki prinsip tidak ingin menikahi pria yang berniat menikah lebih dari satu wanita bersikeras menolak. Hingga tanpa sengaja ia betemu seorang pria biasa yang mampu menghipnotis hatinya.


Pria berwajah tampan yang selalu membantunya membawakan besek atau keranjang dari pasar.


Awalnya Adistya menganggap pria itu hanya salah satu dari kuli pinggul di sana, tidak mempermasalahkan setiap kali dibantu. Bahkan pria itu tidak pernah mau diberi upah.


Adistya menyembunyikan kecurigaan dalam hati. Hingga pria yang dijodohkan dengannya berkunjung ke rumah. Yang mengejutkan pria itu adalah pemuda yang selalu menolongnya.


Rasa malu dan bahagia berbaur jadi satu. Malu karena sempat menolak perjodohan dan bahagia karena pria yang dijodohkan dengannya adalah seseorang yang ia suka.


"Terus maunya apa, nih?" pancing Aksa.


"Gak mau apa-apa." Adistya tampak bingung.

__ADS_1


"Gimana kalo kita jalan-jalan sore, abi ujan gini pasti hawanya beda," ajak Aksa iseng.


"Yuk! Kapan lagi diajak Kang Mas jalan-jalan sore," sambut Adistya dengan hangat.


Seketikan hati Aksa meremang.


"Apa Narendra di zaman ini secuek itu pada Adistya?" batin Aksa menebak bagaimana hubungan Adistya an Narendra di masa lalu.


Seketika ada penyesalan, jika benar dirinya di masa lalu tidak sehangat sekarang.


"Maafin aku ya, Dis," gumam Aksa lirih bahkan nyaris tidak terdengar Adistya.


"Iya, Kang Mas. kenapa?" seru Adistya yang sempat mendengar suara tidak jelas Aksa.


 "Enggak, enggak pa-pa. Yuk!" Aksa mengalihkan perhatian Adistya dengan bersiap jalan-jalan sore.


Baru akan melangkah keluar kamar, terdengar suara pintu diketuk dari luar.


"Mbok Ra," seru Adistya yang membuka pintu.


***


Bersaman dengan itu, Aksa menggeliat keenakan. Dari balik tirai sinar matahari masuk melaluii celah-celah seratnya yang tipis.


Cahayanya mengenai tepat ke wajah tampan Aksa, memaksa pengantin baru membuka mata.


Diedarkannya pandangan memperhatikan setiap sudut ruangan tempatnya terbangun. Aksa ingin memastikan masa dan lokasi terbangunnya saat ini.


Entah di masa Majapahit atau di masa sekarang ia harus siap menghadapinya. Aksa bernapas lega menyadari sudah berada di tahun di mana ia dan Ica seharusnya berada. Dunia nyata sebenar-benarnya ia hidup. Senyumnya mengembang lebar, teringat sosok Ica yang ia rindukan. Entah sudah berapa malam ia berada di masa lalu.


"Ica kemana, ya?' monolognya mencari keberadaan Ica yang sudah tidak ada di sampingnya.


"Caaa, Icaaaa!" panggil Aksa berusaha bangkit dari ranjangnya.


"Kenapa, sih, Mas? Pake teriak-teriak pula. Malu tahu. Ada mama dan papa," seru Ica yang tiba-tiba masuk ke kamar.


Aksa menghambur memeluk istrinya dengan erat.


"jangan jauh-jauh dari aku, ya! Gak enak gak ada kamu."


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2