Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Raden Alit is Angry


__ADS_3

Di sisi lain Keraton. Adalah Raden Alit. Dia berusaha menahan kecemburuan kepada adik tirinya yang sedang kasmaran dengan gadis impiannya.


Sayangnya gadis itu malah memilih adiknya tirinya daripada dirinya yang jelas-jelas calon Maharaja.


Raut wajahnya menampakkan kefrustasian. Rahangnya gemeretak. Tangannya mengepal siap meninju lawan.


Raden Alit berjalan perlahan menuju paviliyunnya. Paviliyun yang tak pernah sepi dari wanita.


Saat melewati Kamar Dalem, sayup-sayup Raden Alit mendengar percakapan antara Ratu Rajasawardhana dengan Garwopadminya.


"Diajeng, Kakang arep ngutus Raden Alit nang Keling. Ganteni Kakang Arya." Suara Kanjeng Ratu Rajasawardhana.


( Diajeng, Kakang akan menjadikan Raden Alit Raja di Keling Menggantikan Kakang Arya )


"Sae, niku KangMas. Raden Alit kuwi kan bakal calon ne Maharaja. Mestine kudu sinau rumiyen." Balas Garwopadmi.


( Bagus itu KangMas. Karena Raden Alit adalah bakal calon Maharaja. Sudah sepatutnya ia belajar.)


"Syukur nek Diajeng Remen" Rajasawardha nampak puas dengan jawaban garwopadminya.


( Syukurlah, kalau Diajeng Suka )


"Nggeh mesti to Kang." Ucap Garwopadmi.

__ADS_1


( Harusnya memang begitu )


"Terus nek nurut Diajeng Narendra kuwi pripun?"Sang Ratu Rajasawardhana masih mengeluarkan uneg-unegnya kepada pujaan hatinya itu.


( Terus kalau Narendra bagaimana? )


"Narendra niku lare kang saged njaga adab. Tata Kramane sae. Tutur e sopan. Dalem remen kale bocah niku." Tutur garwo padmi sang Maharaja.


( Narendra itu anak yang bisa menjaga adab. Tata Kramanya bagus. Pembawaannya santun. )


"Terus nurut diajeng, piye enak e ngempak e awak e Narendra." Tanya Rajasawardhana.


( Kalau menurut Diajeng, dimana saya harus meletakkan Narendra nanti? )


"Dalem kanjeng, Narendra meniko nggadahi watak memper Kakang Mas panjenengan. Saestu saumpami Narendra putro dalem Kanjeng Gusti Garwopadmi ingkang mangkat saestu nggadahi watak Ratu." Tutur Garwopadmi.


Gusti Ratu Rajasawardhana mangut-manggut seakan membenarkan ucapan istrinya.


"Nek tak angen-angen. Pancen leres omonganmu, Jeng. Narendra luwih mirip Kakangku. Yen Raden Alit kuwi nduweni ambisi ingkang gede. Nanging kekarepane mesti kelakon." Sang Ratu menghela napas panjang.


( Kalau Dipikir-pikir memang benar ucapanmu, Jeng. Narendra luwih mirip Kakakku. Tapi kalau Raden Alit itu memiliki ambisi yang besar. Dan semua keinginnya akan terwujud. )


Bukannya tidak tahu, bahkan Kanjeng Rajasawardhana sangat paham konflik antara dua pangeran tersebut.

__ADS_1


Satu putra mendiang pewaris tahta dari Garwopadmi, satunya putra dari seorang garwoselir kesayangan sang Ratu mangkat.


Rajasawardhana sangat paham bagaimana rasa dengki yang dimiliki sang calon pewaris tahta kepada saudara tirinya itu.


Dan Ratu Rajasawardhana pun tahu pelaku penusukan Adistya. Namun ia belum sanggup mengatakan kebenaran kepada kedua keponakannya itu.


Sang Ratu, hanya menyerahkan belati itu kepada Narendra dengan harapan, keponakannya itu bisa menyelesaikannya sendiri.


Kanjeng Ratu tak ingin kejadian tragi itu sampai menjadi berita heboh di luar kraton. Beliau menganggap kejadian itu adalah rahasia keluarga dan hanya kalangan kraton saja yang bole tahu. Bahkan para prajurit dan embanpun di sumpah untuk tidak menceritakan apapun.


Raden Alit yang masih berada diluar Dalem Ratu, merasa sangat sakit mendengar dirinya dibandingkan dengan Narendra.


Raden Alit tidak sudi berdamai dengan adik tirinya itu.


Baginya Narendra adalah musuh. Dengan rahang yang gemeretak dan tangan mengepal , Raden Alit meninggalkan kediaman Ratu. Melesat dengan cepat menuju paviliyunnya.


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠


Always support me ya..


with like, komen, vote and rate


jangan lupa jadikan fave kalian

__ADS_1


Miss U


😘😘😘😘


__ADS_2