Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Tatu ( Luka )


__ADS_3

"Awwwwwh.." Teriakan kencang Adistya tentu saja membuat heboh penghuni Kraton.


"Adis... Adis...bangun Dis.. buka mata kamu... Cepat panggil tabib." Teriak Narendra panik melihat Adistya terjatuh dengan darah mengucur di bahu belakang kanan kekasihnya itu. Sebuah keris kecil menyerupai belati tergeletak tak jauh dari Kakinya.


Penghuni Kraton terbelalak kaget melihat calon istri salah satu pangeran tertusuk. Hingga membuat sang pangeran dalam kondisi panik.


"Cepat panggil Tabib istana.." Titah Kanjeng Rajasawardhana Tegas.


Seorang prajurit dengan cekatan berlari menuju rumah seseorang yang di sebut Tabib.


Narendra menggendong kekasihnya menuju biliknya. Sedangkan Sang Rajasawardhana mengambil dan menyimpan keris kecil itu.


Di dalam bilik Narendra


Narendra begitu panik melihat kondisi Adistya. Ia berusaha membuat Adistya tetap sadar dan menahan darah yang terus mengucur dari bahunya.


Kanjeng Rajasawardhana masuk ke bilik Narendra.


"Kanjeng, Dalem mboten maringi ngapura, ******** ingkang ngelarani Adiastya." (saya tidak akan memaafkan siapapun yang melakukan ini.) Sumpah serapah Narendra.


"Leee... Cah Bagus.. sing kuat yooo... " ( Nak, yang kuat yaa...) Kanjeng Rajasawardhana menepuk-nepuk bahu keponakannya.


Seorang tabib, setengah berlari menuju bilik Narendra. Tanpa diperintah Tabib itu memeriksa kondisi Adistya.

__ADS_1


"Raden , nyuwun toling tuyo anget." (Raden, minta tolong di siapkan air hangat. ) Narendra memberi isyarat kepada embannya untuk menyediakan permintaan sang tabib.


"Nyuwun Raden ngetok jarik ingkang nutup pundak Nona Muda." ( Bantu saya menyobek kain yang menutup bahu Ndoro Ayu. ) Pinta sang tabib.


Narendra dengan cekatan memiringkan posisi Adistya dan memotong lengan baju Adistya.


Tabib dengan cekatan membersihkan luka Adistya. memberinya semacam bobok menutup bekas tusukan. Kemudian menurutnya dengan kain bersih.


Narendra ngerasa seluruh tubuhnya rapuh dan lemas. Ia tak tega melihat kondisi Adistya yang begitu tak berdaya.


"Raden, Dalem nyuwun duko. Tatune Ndoro Ayu jeru sanget. Kulo mung saged paringi bobok kaliyan jamu niki." ( Raden mohon maaf. Luka Nona sangat dalam. Saya hanya bosa memberi ramuan dan obat ini ) Narendra menerima Racikan salep dan obat untuk kekasihnya.


"Bobok e diganti sedinten ping tigo nggeh. Jamune di inum ping sekawan." ( Perbannya diganti sehari tiga kali ya. Obatnya diminum sehari empat kali. ) Sang tabib menjelaskan cara pemakaian obat tersebut.


"Seumpami bobok kalian jamune telas, Raden matur kulo." ( Kalau obatnya habis, Raden ngomong saya. ) Ujar sang tabib.


Dan sekali lagi, Narendra hanya mengangguk.


Sepeninggal sang tabib.


Narendra bersimpuh ditepi ranjangnya. Tubuhnya masih lemas. Tak kuasa rasanya ia berdiri menopangnya.


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

__ADS_1


Di lokasi lain, jauh dari kraton


Raden Alit berhadapan dengan seorang pria berbaju hitam.


"Kowe kok iso malah ngelarani Adistya..." ( Kamu kenapa malah melukai Adistya.. ) Amarah terlihat dari matanya yang menyolot tajam memandang si pria.


Pria itu tampak gemetar ketakutan.


"Nyuwun duko, Raden." ( Maafkan saya Raden ) Pria itu berlutut.


"Ndoro Ayu dumadakan ngerangkul Raden Narendra ndugi wingking. Dalem ingkang bade nyurung ndoro Ayu ngado. kebablasen. Ndoro Ayu ngelindungi Raden Narendra." ( Nona tiba-tiba memeluk Raden Narendra dari belakang. Saya yang akan mendorong Nona untuk menjauh malah kebablasan. Nona sudah terlebih dahulu melindungi Raden Narendra ) Pria itu menjelaskan dengan ketakutan.


Raden Alit mengepalkan jarinya. Rahangnya gemeretak menahan amarah.


"Yo wislah... sing penting Narendra gak iso akad sesok." ( Ya sudahlah, yang penting Narendra tidak bisa menikah besok ) Raden Alit akhirnya hanya bisa pasrah.


💠💠💠💠💠💠💠💠


Bersambung...


Sumoah a**ku nulis ini sambil gemetar dan gereten genks...


Jangan lupa kasi aku ❤ fave , 👍🏻 like , 📝 komen, 💯 vote dan ⭐5 untuk rate**

__ADS_1


__ADS_2