
Zain masih dalam posisi membuka buku kuno itu.
Tiba-tiba tulisan di lembaran kuno itu terhapus... .
Tidak semua hanya mulai bagian, Adistya ke istana...
Yang tersisa hanya kisah masa kecil Adistya...
Zain yang panik, segera menyimpan kembali kotak tersebut.
Segera ia melajukan motornya ke arah pendopo.
"Mas Leo, apa tadi ada orang yang mau ambil Mobil di depan?" Kata Zain kepada Mas Leo yang sedang jaga.
"Gak ada tuh Zain." Jawab Mas Leo.
"Kamu kenal pemiliknya gak?" Tanya Mas Leo lagi.
"Itu mobil Aksa, Mas." Jawab Zain pendek.
"Lha terus si Aksa kemana?" Leo malah kepo, karena ia juga kebetulan mengenal Aksa.
"Lagi pacaran ama cewek." Sahut Zain.
"Haa haa....kenapa Wajah kamu kayak gitu Zain?" Leo malah ngetawain Zain yang sempet panik.
"Mending kamu bawa pulang aja tuh mobil." Saran Leo.
"Gak bisa nyetir, Mas." Omel Zain.
"Aku ajarin mau?" Kata Leo.
"Beneran Mas?" Sahut Zain girang.
"Tapi ada syaratnya, seminggu ini kita tukeran ya.. Kamu jaga pendopo. Aku jaga Tikus. Gimana?" Bujuk Leo.
"Kenapa?" Kepo si Zain
"Aku mau liat pemandangan cantik dari Tuhan. Si Kaila, anaknya Cak Ali pulkam..." Oceh Leo.
__ADS_1
"Haa haa.... karena dia tooh. Bole... bole banget malah... " Si Zain malah dapat angin segar.
"Kebetulan aku bisa sambil nunggu kampret dua itu.." Gumam Zain dalam hati.
💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Sehari saja, Zain udah bisa nyetir dengan baik. Hari itu juga ia membawa pulang si Smart fortwo passion milik Aksa.
"Montor e sopo iku, Le? Tanya Emak.
( Mobilnya siapa itu, Nak?)
"Aksa, Mak." Jawab Zain.
"Arek e sik dolan karo Ica. Montor e dititipke aku. Mangke nek pun wangsul dipundut kok Mak." Zain memberin penjelasan panjang kepada Emaknya.
( Anaknya masih pergi sama Ica. Mobilnya dititipkan saya. Nanti kalo sudah pulang diambil lagi. )
💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Zain masih dalam kondisi panik dan kalut. Karena belum ada tanda-tanda kemunculuam dua temannya itu.
"Opo to Zain..." Jawab Emak sambil tersenyum melihat perjakanya yang tumbuh dengan baik, meskipun tanpa didampingi ayahnya.
( Apa, Zain?)
"Emak, mboten duko kan kaliyan Zain?" Ucap Zain sendu sambil memeluk Emaknya.
(Emak, tidak marah kan sama Zain?" )
"Enggak Zain. Lapo Emak arep nesu. Jokone Emak saiki wis gede..." Puji Emak yang selalu membuat hati Zain ayem.
( Tidak Zain.Buat apa Emak marah. Perjakanha Emak sekarang sudah dewasa )
Emak mengajak Zain duduk di bayang ( seperti ranjang tempat tidur tapi tidak ada kasur. Hanya di gelari tikar pandan ).
Sebagai seorang ibu, Emak sadar saat ini Zainnya sedang butuh dukungannya.
"Ono opo, to Le?" Tanya Emak hangat sambil mengisi rambut Zain.
__ADS_1
( Ada ap, Nak?)
Zain tiduran di paha Emaknya. ( manja banget yaa si Zain )
"Mak... Emak pernah denger cerita tentang kotak yang dikasi Bapak ke aku, gak?" Tanya Zain lirih, takut menyakiti hati Emaknya.
"Sepertinya pernah."Emak nampak berpikir.
"Kata Bapakmu dulu, Kotak itu dari Buyut-buyutnya dulu. Ceritanya sih dulu ada Mbah Buyutmu yang jadi emban di kraton. Terus ada kejadian yang mengharuskan dirinya dan seorang putri meninggalkan kraton tersebut. Mbah Buyutmu yang merawat putri dan bayinya." Emak berhenti.
"Ono opo, to Le?" Tanya Emak lagi.
( Ada apa, Nak?)
"Mboten nopo-nopo, Mak. Penasaran mawon. Kok pun wonten kertas nggeh?"
(Tidak apa-apa, Mak. Penasaran saja. Kok sudah ada kertas ya?)
"Ooh.. jarene Bapakmu biyen. Putri iku teko Cina." Emak berhenti.
( Ooh.. kata Bapakmu dulu. Putri itu dari Cina )
"Sek Le, geni ku arep mati." Emak berjalan menuju pawonnya.
( Sebentar Nak, apinya mau padam )
"Mak... ganti pake elpiji atau blue gas aja loo.... aku kasiyan sama Emak kalo masak pake kayu terus."
( Mak.., ganti pake elpiji atau blue gas saja loo... Aku kasihan sama Emak kalo masak pake kayu terus.)
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**Pawon adalah bahasa jawa artinya dapur.
Tapi pada orang desa pawon itu semacam kompor yang digunakan memasak menggunakan bahan bakar kayu.
Sehingga pawon juga mengalami penyempitan makna.
To be continue yaa..
__ADS_1
Dukung aku yaa**...