Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Tom and Jerry


__ADS_3

"Nee.. henpon sama dompet kalian. Terus ini kontak mobil kamu Sa." Zain membagi barang milik masing-masing sahabatnya itu.


Malam itu Aksa dan Ica langsung mendatangi rumah Zain, meminta barang-barang yang mereka titipkan pada Zain sebelum menyelesaikan misinya.


"Makasii yaa Zain." Tutur Aksa.


"Iya.. jaga Ica baik-baik. Kapan kalian menikah?" Zain seperti seorang kakak yang meminta pertanghungjawaban dari kekasih adiknya.


"Secepatnya Zain." Jawab Aksa.


"Segera tentukan. Aku gak mau terjadi apa-apa sama Ica. Inget itu." Kata Zain dengan melotot ke arah Aksa.


"Iya iya Zain. Aku akan segera mengabari keluargaku." Balas Aksa serius.


"Bagusss... Aku tunggu." Sungut Zain.


"Udah.. kalian jangan pada ribut. Suara kalian terdengar sampai keluar. Sudah malam juga." Omel Ica.


"Ayoo maem dhisik. Cah Hayu.. Cah Bagus." Ibu Zain keluar sambil menenteng bakul dan lauk.


Ica yang menyadari kehadiran ibu Zain langsung membantu wanita paruh baya itu.


"Mak, biar Ica yang bawa." Kata Ica langsung menyahut bakul di tangan ibu Zain.


"Jarno ae Cah hayu. Emak isik kuat."


"Mboten ngoten Mak, arek enom model nopo kulo niko nek mboten saged ngormati tiyang sepah." Sahut Ica sambil mengekor Ibu Zain ke dapur dan mengeluarkan semua hasil karya sang Emak.


"Emak, dahar sareng." Ajak Ica.


Ibu Zain hanya tersenyum memandang wajah teman anaknya itu.


"Nduk kowe kok tambah ayu yoo." Puji emak.


"Emak... kulo lak isin, Emak pun ngomong ngoten." Kata Ica sambil malu-malu.


Akhirnya mereka berempat makan bersama ala lesehan.


💠💠💠💠💠


"Zain, bagaimana kamu bisa mengatakan ke tetanggaku kalo aku menikah?" Tanya Aksa kepo setelah makan malam.


"Ya pas, aku bersih-bersih rumah kamu. Mereka pada nanya, kamu kemana? Ya, aku jawab aja kamu menikah." Jawab Zain.


"Pantesan, mereka gak curiga pas aku keluar sama Ica." Kata Aksa.


"Maksii ya Zain, kamu menyelamatkan kita." Tutur Ica dengan senyumnya.


"Iya.. aku kan ada buat kalian." Puji Zain pada dirinya sendiri.


"Uweek.." Aksa menolak dengan pura-pura mengeluarkan isi perutnya.


"Haa haa haa.. alay bin lebay." Omel Aksa.


"bodo amat. Emang gue pikiran." Ledek Zain.


"Hadeeehh.. kalian tuuh yaa lama-lama persis kayak tom and jerry. Kalo ketemu ribut gak ketemu dikangenin." Cerocos Ica sambil menahan geli.


"Gak banget." Oceh Zain dan Aksa bareng.


"Tuuh kan kompak." Ledek Ica masih dengan menahan gelinya.

__ADS_1


"Udah ah, yuuk Ca. Kita pulang." Ajak Aksa.


"Mau kamu bawa kemana Ica?" Sahut Zain


"Kos an akulah. Memangnya kemana lagi?" Jawab Aksa


"Yakin aman?" Zain menteror Aksa


"Yakin." Aksa meyakinkan.


"Aku hanya mastiin, Ica gak kamu apa-apain." Omel Zain khawatir.


"Wah, kalo itu aku gak janji ya Zain." Goda Aksa.


"Nee, mobil aku pake aja dulu." Aksa menyerahkan kunci otomatis dan stnk mobilnya kepada Zain.


"Nyogok neee ceritany" Goda Zain sambil menggelitiki pinggang Aksa.


"Zain... " Aksa menghindar dengan cepat. Zain mengejar Aksa. Dan terjadilah kejar-kejaran diantara keduanya.


"Haa haa haahaa..." Ica yang melihat hanya terpingkal-terpingkal melihat keduanya saling mengejar tidak jelas.


"Wooiii.. kalo masih mau pacaran, aku pulang duluan yaa.. Gak asyik jadi obat nyamuk kalian. Apalagi jadi orang ketiga." Cerocos Ica karena melihat keduanya tak ada niatan menghentikan kejar-kejarannya.


Mendengar ocehan Ica, keduanya malah mendekati Ica, Zain langsung menoyor kepalanya dan Aksa malah mengecup mbun-mbunannya.


"Pasangan gak jelas." Pekik Ica.


"Kalian tuh yang gak jelas." Balas Zain.


"Edan kamu, Zain." Maki Aksa.


"Kalian tuh yang edan. Benar-benar masa kecil kurang bahagia." Omel Ica sambil menarik tangan Aksa.


"Emak udah tidurkan?" Tanya Aksa


"Iya."


"Salam yaa buat Emak." Ucap Ica dari dalam kursi penumpang di samping Aksa.


Keduanya melambaikan tangan kepada Zain. Zain membalas sampai honda jazz Ica tak terlihat.


"Mereka itu beneran sablengnya gak ketulungan. Eh, tapi sebenarnya aku kalee yaa yang sableng. Rasanya gak enak kalo gak godain mereka berdua." Gumam Zain seorang diri sambil membersihkan piring dan gelas bekas suguhan untuk Ica dan Aksa.


💠💠💠💠💠💠💠💠


Di dalam kamar, Zain membuka ponselnya. Mendial sebuah nama.


"Assalamu'alaikum calon bidadariku." Sapa Zain


"Wa'alaikum salam, Mas."


"Kamu masih melekkan sayang?"


"Masih, ini masih ngerjakan tugas. Kenapa Mas?"


"Besok ikut aku ya sayang."


"Jam berap"


"Aku jemput pagi jam 7 ya Ra." Pinta Zain.

__ADS_1


"Ya sudah Mas, terserah Mas Zain saja."


Zain mengakhir panggilannya. Bayangan Iswara Maheswari terus membayanginya.


Gadis cantik yang dua tahun ini selalu menemaninya dan menjadi penyemangat hidupnya.


Iswara Maheswari, yang akrab dipanggil Ara. Tapi terkadang Zain menggodanya dengan panggilan bidadariku karena arti nama belakang Ara yang berarti bidadari.


Ara mahasiswi semester dua akademi kebidanan. Tinggal di dusun tetangga. Zain selalu berharap gadis ini kelak yang akan mendampinginya. Namun ia tak ingin meninggikan mimpinya mengingat dirinya yang bukan siapa-siapa.


Dia tetap anak dusun yang hanya berjuang untuk tetap hidup demi ibunya. Orang tuanya satu-satunya. Membahagiakan wanita itu adalah tujuan utamanya.


Zain akhirnya berlabuh ke pulau mimpinya. Memimpikan gadis pujaannya yang selalu tersenyum manis ke arahnya.


💠💠💠💠💠💠💠💠


kos-an Aksa


Setelah cuci tangan, cuci kaki, wudhu dan ganti pakaian. Keduanya menunaikan sholat isya' berjama'ah.


Setelah menyelesaikan ritual ibadahnya. Ica segera merebahkan tubuhnya ke kasur. Aksa hanya memperhatikan gerak gerik istri dari bumi mojopahit di masa lalunya itu secara intens.


Ica segera menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut. Aksa yang sudah selesai merapikan tikar yang mereka gunakan sebagai alas sholat segera menyusul Ica.


Aksa ikut berlindung dibawah selimut yang sama dengan Ica. Dikecupnya kening Ica dengan lembut.


"Selamat tidur, sayang." Bisiknya.


"Makasi Mas." Balas Ica.


Keduanya saling memberikan kehangatan dibalik selimut. Saling melingkarkan kedua tanganya dipinggamg pasangannya.


💠💠💠💠💠💠💠💠


Ica dan Aksa terbangun. Keduanya kini berada di sebuah bangunan megah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Adiku, Narendra. Selamat Datang di istanaku." Seseorang berbicara dan menepuk bahu Aksa. Dan suara itu membuat keduanya menoleh.


"Kakang." Seru Aksa.


Seorang anak perempuan berusia sekita du tahun mengitari Ica dan Aksa.


"Iki mesti anakmu yoo... Ayune. Persis koyok ibune." Puji Pria tersebut yang tak lain adalah Raden Alit.


"Ayoo ikut aku. Akan aku perkenalkan kalian dengan istri-istriku." Ajak Raden Alit sambil menarik tangan Aksa.


Ica dan anak perempuan kecil itupun mengikuti langakah Raden Alit yang menarik tangam suaminya.


Mereka sampai di sebuah ruangan yang luas dan bersih.


"Kang.. Ini dimana?" Tanya Aksa.


"Hei, kalian di Kediri. Ini istana baru bumi mojopahit." Jawab Raden Alit.


"Tahun pinten sakniki Kakang?" Tanya Aksa.


"1454." Sahut Raden Alit.


"Kanjeng Ratu Barawijaya III. Bhre Wengker." Sahut Ica pelan tapi masih bisa di dengar Aksa dan Raden Alit.


"Ya.. Pusat pemerintahan pindah ke kediri setahun yang lalu. Kalian kan disana pasti taulah bagaimana keadaan di sana." Sahut Raden Alit.

__ADS_1


Di depan ketiganya berdiri dua orang perempuan cantik. Keduanya tersenyum kepada Ica dan Aksa bergantian.


__ADS_2