
Aksa sedang berada di Bandara Juanda menanti kedatangan orang tuanya di depan gate terminat kedatangan.
Papa tadi mengirimkan pesan bahwa pesawat mereka akan tiba sekitar pukul sembilan pagi.
Aksa menunggu kedatangan orang tuanya dengan cemas. Ada keterlambatan sepuluh menit.
Baru juga Aksa mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Seseorang menepuk pundaknya.
"Hayoo.. ngelamun yaa..." Kata sebuah suara.
"Halloo.. Bang.." sapa Aksa kepada Bang Axel suami kakak perempuannya.
"Mama sama Papa mana, Bang?" Aksa tampak celingukan mencari orang tuanya.
"Bentar, masih di belakang. Aku disuruh mereka nyamperin kamu duluan. Bawa apa ke sini?" Tanya Axel.
"Mobil."
"Mana?"
"Parkirlah, Bang."
"Ambil mobil, kamu. kasiyan tuh Mama, Papa dan Kak Mega."
"Bentar ya, Bang."
Aksa melesat ke area parkir.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali di depan gate.
Aksa melambai ke arah Mama, Papa dan kak Mega dari kemudi.
Aksa mencium tangan orang tuanya. Sedangkan Bang Axel memindahkan barang bawaan mereka ke bagasi.
Aksa membantu Kakak iparnya sampai semua barang masuk.
"Yuuk Ma, Pa, Kak, Bang kita ke rumah Ica sekarang." Ajak Aksa.
"Kok ke rumah Ica? Kita cari hotel dululah, Sa." Tolak Papa.
"Papanya Ica, Pa yang nyuruh langsung ngajak kalian ke rumah."
"Berarti ini kendaraan mereka juga?" Tanya mama Ica dari jok tengah.
"Iya, Ma.." jawab Aksa dengan nyengir.
"Terus mobil kamu mana?" Tanya kak Mega.
"Masih di mojokerto, nanti sore teman Aksa akan datang."
Kendaraan yang dikemudikan Aksa menuju ke sebuah komplek perumahan.
"Untung tadi Mama udah nyiapin oleh-oleh untuk mereka. Kalo enggak kan bisa tambah ribet kita." Protes Mama.
Aksa membelokkan kendaraannya ke rumah Ica.
"Sudah sampai, Pa, Ma, Kak, Bang.." Kata Aksa.
Papa, Mama, Kak Mega dan Bang Axel turun dari mobil.
Mereka sedkit terkagum dengan halaman depan rumah Ica walaupun kecil tapi terasa teduh dengan beberapa pohon rindangnya.
"Assalamu'alaiakum..." salam Aksa sebelum masuk rumah.
"Wa'alaikum salam..." Sahut penghuni yang di dalam.
Ica membuka pintu dan tersenyum begitu tahu yang datang Aksa dan keluarganya.
"Ca, ini Mama, Papa, Kak Mega dan Bang Axel.."
Ica menyalami satu per satu keluarga Aksa dengan santun dan mempersilahkan tamunya masuk.
"Masuk dulu Om, Tante, Kak, Bang. Kebetulan Papa dan Mama saya masih menjemput Nenek dan kakek saya di Mojokerto." Kata ica.
Keluarga Aksa sedikit terkejut dengan keberadaan keluarga Ica yang terlihat begitu santai dan rileks.
"Iya.., terima kasih ya Nak." Sahut Mama Aksa.
__ADS_1
"Mas antarkan keluarga kamu istirahat dulu.." Pinta Ica.
"Siap putri..." Ucap Aksa.
"Maaf ya Om, Tante.. Kak.. Bang.. Ica gak bisa menyambut dengan baik."
"Gak pa_pa kok, dik. "Jawab Mega.
"Yuuk Ma, Pa, Kak, Bang, Aksa ajak ke kamar dulu.." Aksa menuntun tangan Mamanya karena Papa membawa beberapa barang mereka.
"Hai Mas.." sapa Aaron.
"Hai.. Aaron.." Aaron mendekat ke arah tamunya lalu memberikan salamnya.
Meskipun besar di luar negeri, adik Ica ini masih diajari tata krama oleh orang tuanya. jadi, tidak heran jika ia masih terbiasa cium tangan.
"Dia adiknya Ica, Ma, Pa, Kak, Bang..." Kata Aksa.
"OOOO..." Komen semuanya.
Mama dan Papa Aksa menempati kamar di sebelah Aksa, sedangkan Bang Axel dan Kak Mega di sebelahnya lagi.
***********
Mama dan Papa Ica sampai Surabaya kemarin malam. Sehari setelah Mama mengatakan hari kedatangannya. Ica langsung memberi kabar keluarganya.
Sempet terkejut dengan permintaan Ica. Bahkan sempat ditanyai banyak hal.
Termasuk apakah dirinya hamil?
Yaa.. mana ada orang tua yang tidak kaget jika anaknya tiba-tiba meminta izin untuk segera menikah.
Setelah dirasa Ica bisa menyakinkan kedua orang tuanya, bahkan Aksa juga angkat bicara, akhirnya mereka mengajukan cuti dan pulang ke Indonesia segera.
Dan pagi ini mereka menjemput Nenek dan Kakek Ica di Mojokerto. Orang yang selama ini mengasuh Ica.
********
Mama Aksa membantu Ica dan Bu Rima di dapur menyiapkan makan siang.
"Gak pa_pa Ca. Lagian Tante tinggal naik doang capek apanya." Canda Mama Aksa.
"kan Ica gak enak Tante masa tamu malah Kakek Neneknya Ica sih ada, Tapi entah Buyut yang mana." sahut Ica.
"Ooooohh... Terus kenapa kamu gak ikut orang tua kamu ke luar negeri."
"Gak enak Tante.. Ica maunya di Indonesia saja.."
"Ma.., kalo Ica ikut Mama Papanya nanti malah gak ketemu Aksa." Canda Aksa.
Membuat seisi meja tertawa lebar.
"Yaa.. kalo Mbak Ica ikut Mama Papa, Aaron juga gak bakalan lahir Tan..."
Jawaban nyentrik Aaron malah membuat gelak tawa semakin lebar.
"Memang kalian kenal dimana, sih?" Papa ikutan kepo.
Yang lain ikutan menatap Ica dan Aksa bergantian menanti jawaban dari pasangan ini.
"Di Mojokerto, Ma. Sewaktu Aksa penelitian. Ica sama sahabatnya Zain banyak membantu Aksa sampai selesai." Jawab Aksa.
"Jadi balas budi gitu neee..." Canda Papa Aksa.
"Enggaklah Pa.. memang dari sononya udah suka sama putri cantik ini." Jawab Aksa.
Membuat Ica sedikit tersipu.
"Ciyee ciyee ada yang blushiing neee..." Goda Axel.
Yang langsung diabaikan oleh Ica.
"Mas.., Kakak aku udah kamu apain aja hayooo.."Tanya Aaron
"Byuuh.. semua yang ada di Kakak kamu udah aku tahu semua." Jawab Aksa dengan serius.
"Serius, Kak?" Aaron mulai kepo.
__ADS_1
"Seriuslah. Tanya dia aja. Mulai kebiasaan makannya, pakaiannya, sampai cueknya." Jawab Aksa dengan cuek.
"Yee.. kirain .. pemirsa kuciwa deeh.." Balas Aaron dengan nada dibuat seolah benar-benar kecewa
"Haaah.. kalau itu sih kamunya aja yang pengen..."Komen Aksa
"Atau jangan-jangan kamu di sana udah punya pacar yaa.." Sindir Ica
"Ya sudahlah kak... Kan sayang cewek sana peri-peri biyutipul gitu looo..." Dengan bangganya Aaron berceloteh.
Plaakkk...
Ica memukul bahu Aaron.
"Aaduuuhh.. Mbak Ica.... " Aaron meringis kesakitan
"Makanya gak usah genit-genit jadi cowok." Papar Ica.
"Haa haa haaa..." Suara tawa mereka pecah melihat kehebohan dua kakak beradik ini.
***********
Pukul tiga sore orang tua Ica dan rombongannya datang.
Ya iyalah rombongan secara ada Mbak Oppi, Mbah Yun, Zain dan Ara.
Ica dan Aksa menyambut kedatangan rombongan dari Mojokerto itu dengan suka cita.
Setelah menyalami Mbak Oppi dan Mbah Yun, mereka duduk di ruang tamu.
"Mbak Ambar maaf yaa, kok jadi menyambut saya." Ucap Mama Ica begitu mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Gak pa_pa Mbak. Mbak Teri pasti juga sangat lelah setelah perjalanan jauh. Lebih jauh dari kami malahan." Balas Mama Ambar. Mamanya Aksa.
Sedangkan Papa Dewa dan Papa candra, Papanya Aksa terlihat berbincang akrab ditemani Mbah Oppi dan kopi hitamnya.
Mbah Yun, sibuk menata bawaannya di kamar.
Begitupun Ara yang hari ini akan tidur di kamar Ica. Sedangkan Zain bersama Aksa.
Selesai berkemas, Ica, Ara, Aksa dan Zain tampak berbincang santai di taman kecil di samping rumah Ica.
Satu area yang hampir luput dari pandangan siapapun. Karena lokasi yang sedikit menjorok ke dalam dan tembus dengan dapur memungkinkan tidak terjamah sembarangan orang.
"Sebenarnya acara kalian itu ngapain? Nyante banget?" Tanya Ara
"Kawin.." Jawab Aksa dan Ica kompak.
"Ha haa haa.. kompak banget.." Ledek Zain.
"Sapa yang mau kawin?" Seru sebuah suara yang lansung gabung dengan mereka berempat.
"Wooi.. Bang..." Seru Aksa melihat yang datang Bang Axel dan Kak Mega.
"Aksa sama Ica tuuh.." Jawab Zain.
"Ciyee yang udah ngebet.. Mak kawinin kitaa..." Goda Axel.
"Gue jabanin deh..., gak bakal nyesel deh Loe minta kawain..." sambung Bang Axel.
"Benget Bang.." sahut Aksa keceplosan.
"Sa., Ca..,gue curiga ma kalian berdua nee.. " Cecar Bang Axel.
"Jangan-jangan kalian udah wik.. wik.. duluan.." Wajah Bang Axel menunjukkan sebuah senyum misteri.
Zain ngempet menahan tawa. Sambil menutup mulutnya.
***********
Gaess...
Bang Axel mau ngapain Aksa dan Ica yaa?
Next yaa...
Aku masih menunggu, Like, komen, vote dan ratenya
__ADS_1