
Ica, Aksa dan Zain sudah kumpul di dalam area pendopo. Ketiganya duduk bersila dengan posisi senyaman mungkin. Meluapkan kerinduan diantara mereka.
Setelah Ica dan Aksa sarapan dan Zain dalan kondisi lebih santai. Karena memang tidak banyak pengunjung yang datang. Ketiganya duduk tenang di salah satu sudut pendopo.
Bahkan kalaupun ada banyak pengunjung, mereka tidak sampai masuk ke area pendopo. Mereka memilih bermain di luar area pendopo, sambil melihat rusa yang sengaja di rawat oleh pengelola wisata.
Sejak adanya rusa di depan pendopo, suasana pendopo memang lebih ramai. Ramai dengan anak-anak yang sekedar ingin melihat atau memberi makan rusa-rusa peliharaan dinas pariwisata tersebut.
Tentunya ini menambah income penduduk sekitar yang banyak menjual makanan rusa yang berupa kangkung atau kacang panjang.
Beberapa diantara mereka terkadang hanya sekedar ingin beristirahat di bawah pohon tua yang rindang di depan pendopo. Atau hanya untuk melepas lapar dahaga karena di sisi lain halaman luar pendopo banyak para pedagang makanan dan minuman berjajar.
Back to Zain, Ica dan Aksa
"Zain, sebenarnya apa yang kamu ketahui?" Tanya Aksa kepo.
Zain menahan napas sesaat memadang kedua temannya itu bergantian.
"Kalian berdua." Jawab Zain.
"Ada apa dengan kami?" Tanya Ica ikut panik.
"Apa yang sudah kalian lakukan selama ini di sana?" Zain malah melontarkan pertanyaan tidak menjawab pertanyaan Ica.
"Zain.." Seru Ica sambil menatap tajam Zain.
"Jawab dulu pertanyaanku, nanti akan kalian temukan jawabannya." Jawab Zain pasrah.
"Kita sepertinya berjodoh di sana. Tapi Ica sempat terluka. Dan kami menikah. Dengan banyak perjuangan." Jawab Aksa singkat.
"Jadi kalian sudah menikah?" Tanya Zain dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Iya di sana?" Jawab Aksa
"Berarti sebentar lagi Si gadis bernama Adistya itu akan mengandung. Dan dia tidak lagi kesepian. Dia akan bahagia bersama keluarga kecilnya. Terima kasih kalian sudah membuatnya tersenyum." Ucap Zain yang semakin membuat Ica dan Aksa bingung.
"Maksud kamu apa, Zain? Bagaimana kamu mengenal Adistya?" Aksa semakin kepo.
"Sebentar, kalian tunggullah di sini." Zain beranjak dari tempatnya duduk.
Ica dan Aksa saling bergenggaman tangan, saling menguatkan dan berharap yang diberikan Zain bukanlah sesuatu yang menyakitkan.
Lima belas menit kemudian Zain sudah datang membawa sesuatu ditangannya. Setelah ia kembali duduk di posisinya semula. Zain mengeluarkan benda yang dibawanya.
"Lihatlah.." Zain menyerahkan sebuah peti kecil kepada Ica.
Ica menerima peti tersebut. Mengamatinya dengan teliti.
"Aku sepertinya pernah melihat benda ini." Ucap Ica sambil terus meneliti benda kuno itu.
Zain dan Aksa hanya saling berpandangan mendemgar ucapan Ica.
"Bukalah." Titah Zain.
Ica hanya membolak balik peti antik tersebut.
"Buka, Ca.." Titah Zain tidak sabar.
__ADS_1
Sedangkan Aksa yang di sebelah Ica hanya menatap gadis itu dengan rasa heran.
"Ca.., bukalah. Biar Zain gak kepo dan uring-iringan terus." Bisik Aksa lirih.
Ica nampaknya tersadar, ia menatap Aksa, Zain dan peti ditangannya bergantian. Setelah menarik napas panjang, Ica perlahan membuka selot yang menutup peti antik milik Zain tersebut.
Mata Ica langsung membuka lebar begitu tahu isi di dalam peti tersebut. Sebuah tumpukan kertas kuno yang sudah hampir usang.
Dengan sangat hati-hati, Ica mengeluarkan benda yang sepertinya tidak asing lagi menurutnya.
"Zain, kamu dapat ini darimana?" Tanya Ica masih tetap dengan menatap isi di dalam peti.
"Dari almarhum bapakku." Jawab Zain.
"Mas, peti ini berisi diary. Diary Dyah Adistya Shexien istri Raden Narendra." Kata Ica sambik terus menatap peti itu.
"Lihatlat.. Mas!" Ica membuka sebuah lembaran perlahan. Dan memperlihatkan pads Aksa.
"Ini halaman yang sempet aku tulis."
" Ca, itu gambarnya siapa?" Tanya Aksa dengan konyolnya tanpa melihat tulisan jawa kuno di kertas itu. Aksa hanya memperhatikan gambar dua makhluk di kertas itu.
"Anjrit... Aku udah serius tingkat dewa ternyata pangeran ganteng ini hanya tertarik ama gambar dua sejoli ini. Woii... katanya mahasiswa arkeologi. Tunjukkan kehebatanmu." Maki Zain sengan sebalnya.
"Lhaa suka-suka aku dong Zain. Kenapa juga kamu yang uring-uringan siih." Balas Aksa.
"Haa haa ha.. Sudahlah Zain, Mas Aksa. Ini Ica jelasin. Gambar ini lukisan Adistya dan Raden Narendra." Kata Ica.
"Bentar aku baca tulisannya." Aksa menatap sekilas lembaran kuno tersebut. Otaknya seperti berpikir mengeja setiap huruf di lembaran tersebut.
" Matur nuwun Kakang sampun ngancani kulo sampai semanten.
(Terima kasih Kakang sudah menemani saya sampai sekarang.
Saya akan mencintai Kakang sampai mati )
"Wuiiih hebat nee... Mahasiswa arkeologi beneran nee..." Puji Zain sambil mengacungkan jempolnya.
Sedangkan Aksa yang dipuji hanya mengedikkan bahu seakan enggan menerima pujian dari Zain yang alay.
Ica hanya tersenyum sedikit melihat keakraban Aksa dan Zain.
"Zain ini maksudnya?" Ica mengembalikan buku kuno itu ke dalam peti. Dan menyerahkan kembali pada Zain.
"Keluargaku bisa jadi ada hubungan dengan pangeran dan putri itu. Sampai memiliki barang mereka." Jawab Zain.
"Dan kehadiran kalian kesana, merubah sebuah kenyataan bahwa sang putri yang kesepian karena calon suaminya tewas. Dan bisa saja kejadian penikaman pangeran yersebut adalah penyelamatan pangeran dari pembunuhan." Lanjut Zain.
"Diary ini awalnya sangat menyedihkan. Putri tersebut menjadi orang tua tunggal hanya ditemani Embannya."
"Tapi sekarang berubah karena penyelamatan sang putri."
"Berarti dia hamil sebelum sempet menikah?" Tukas Ica cepat.
"Iya, sepertinya."
"Mas, kamu ingat... Malam itu."
__ADS_1
"Aku ingat, Ca. Bisa jadi kejadiannya mundur setelah kita datang." Jelas Aksa.
"Ngomong apa siih kalian?"
"Rahasia kami, Zain."
"Jangan bilang kalian sudah kawin di sana sebelum menikah." Omel Zain.
Membuat Aksa menggaruk-garuk tengkuknya sengaja menghilangkan rasa kikuknya pada Zain.
Zain menatap Aksa dan Ica bergantian.
"Kalian gak bisa bo'ong sama aku. Beneran kan kalian sudah kawin di sana?" Ulang Zain dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Diem kamu Zain, jangan keras-keras." Aksa berusaha membungkam mulut Zain yang sepertinya akan berteriak lagi.
"Iyaa.. kamu bener... kita berdua sudah melakukannya sebelum menikah." Bisik Aksa akhirnya.
"Gila kamu, Sa. Nikahin Ica secepatnya." Zain terlihat semakin emosi.
"Zain..." Ica menenangkan sahabatnya itu.
"Kita berdua sudah membicarakan ini. Mas Aksa juga berniat menikahi aku secepatnya." Kata Ica sambil mengelus pundak Zain.
"Syukurlah kalo begitu." Zain mulai tenang.
"Ca, kamu ingat Dimas?" Aksa tiba-tiba bersuara mengingatkan Ica.
"Iya, bocah kecil cucu Mbok Bano. Dia mirip Zain." Jawab Ica.
"Dan malam sebelumnya aku sempat memintanya menjaga keluarga kita."
"Bisa jadi, Dimas adalah nenek moyang Zain."
Zain menyimak pembicaraan pasangan di depannya itu dengan heran.
"Dan sepertinya bocah itu benar-benar membuktikan ucapannya." Aksa tersenyum menatap Zain.
"Hii.. Sa, kamu baik-baik saja kan?" Ucap Zain sambil meletalkan telapak tangannya di kening Aksa.
"Dingin."
"Zain, terima kasih yaa..." Aksa langsung menghambur memeluk Zain.
Aksi Aksa ini tentu saja menarik perhatian para pengunjung. Walaupun kebanyakan mereka hanya sekedar melirik keduanya dengan bergidik.
💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Kita mah, cukup ketawa aja ya...
Like
komen
vote
Rate
__ADS_1
makasii yaaa...