
Untuk menghilangkan kalut di hati masing-masing. Keduanya memutuskan kembali berjalan hingga menemukan titik terang lokasi.
"Kita sebenarnya ada dimana ya, Mas?" tanya Ica galau.
"Entahlah, kita susuri saja jalanan ini!" ajak Aksa menggandeng Ica.
"Kita perhatikan saja baik-baik, kita ingat saja mungkin kita lupa pernah singgah atau tinggal di sini," ucap Aksa tanpa melepas gandengannya terus menyusuri jalan setapak yang masih berupa tanah.
Mereka berharap dengan mengikuti jalanan setapak bisa memutuskan apa dan bagaimana menjalani kehidupan selanjutnya andai benar-bebar terdampar di tempat misterius tersebut
Langkah mereka terhenti, begitu disuguhkan area persawahan yang luas.
Ica dan Aksa menatap kagum hamparan hijau di hadapannya. Tanah berundak yang seperti tangga terlihat menawan.
Pembatas tepian sawah yang tertata rapi menampakkan perbedaan dari masing-masing lahan Meskipun, dengan tanaman yang sama.
Bisa jadi tiap petak dimiliki orang yang berbeda.
"Masya Allah, indah banget, Mas," seru Ica kagum.
"Iya," gumam Aksa tak kalah kagumnya dengan Ica.
Ucapan syukur dan kagum tanpa henti mereka suarakan bergantian.
"Tapi, kenapa di daerah subur begini tidak terlihat satu penduduk pun?" kata Ica keheranan dengan lokasi mereka tersesat.
Pandangannya tidak beralih dari puncak hijau berbukit.
"Bisa jadi mereka sedang berada di suatu tempat atau sedang ada acara, gitu," timpal Aksa berusaha menenangkan istrinya.
Sebenarnya ia juga penasaran dengan tempat yang membuat mereka tersesat. Namun, semua sengaja ia simpan agar Ica tidak menyadari kegalauannya.
"Semoga saja," balas Ica lirih.
Semilir angin berhembus tenang menyapu wajah kedua pengantin yang baru melakukan ijab qobul tersebut.
Bahkan pakaian yang mereka kenakan masih gaun pengantin lengkap seperti akad nikah tadi pagi.
Untung gaunnya nyaman di badan, sehingga tidak menganggu aktifitas keduanya.
Kain jarik yang dikenakan Ica juga sudah dimodif menjadi rok membuat langkah gadis itu tidak terganggu.
Keduanya menikmati keindahan alam yang begitu mengagumkan dengan ekspresi bahagia.
Sesekali mereka menghirup oksigen yang masih natural dengan kuat. Menikmati semua ciptaan Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan buatan manusia manapun.
"Segaaarnya," gumam Ica.
Dengan mata terpejam kedua meregangkan tangan merasakan kesejukan hawa pedesaan yang lama tidak mereka temui.
"Aku rasanya sudah lama tidak menikmati udara seperti ini," gumam Ica melirik suaminya.
"Sama," sahut Aksa yang juga melakukan kegiatan sama dengan istrinya.
Sejak kembali ke dunianya yang sekarang. Ica begitu merindukan hawa sejuk selama berada di bumi Majapahit.
Zaman yang boleh disebut kuno, tetapi kesejukan udaranya berbeda dengan masa sekarang.
Dunianya saat ini dipenuhi polusi dan kebocoran ozon. Hawa panas siap menyerang kapanpun.
__ADS_1
Suhu udara yang tidak menentu tiap hari. Cuaca yang berubah setiap detik.
Mengesalkan. Apalagi bagi mereka yang baru tiba mencari peruntungan. Hawa panas akan membuat mereka tidak betah.
Sedangkan, saat di Majapahit ia tidak menemukan polusi dari asap pabrik ataupun kendaraan.
Di zaman Majapahit semua serba tradisional. Tidak dengan peradaban di masa sekarang.
Peralatan yang serba canggih memenuhi setiap rumah. Semua barang tradisional sudah tergilas zaman.
Sisa-sisa kejayaan Majapahit sebagian masih tersimpan dan bisa kita lihat di museum. Namun, menyisakan tanya yang tidak bisa dijawab dengan tepat.
Zaman purba yang dikatakan lebih maju di masanya.
Kekayaan Majapahit memang terkenal hingga luar negeri. Negara manapun ingin bekerjasama dengannya.
Negara yang disebutkan sangat maju dalam semua buku sejarah.
"Mas, aku mau ini." Tunjuk Ica pada pohon ciplukan yang tumbuh liar di tepi sawah.
"Sebentar aku ambilkan," kata Aksa berjongkok dan memetik beberapa buah ciplukan yang sudah masak.
"Sejak kapan suka ciplukan?" tanya Aksa menyerahkan buah ciplukan yang ia petik.
Buah kuno yang saat ini sudah langka.
Tanamannya hanya setinggi tomat. Buahnya hanya sebesar biji salak.
Rasanya hampir mirip dengan kersen. Hanya saja ciplukan lebih besar dan bijinya tertutup kulit tipis.
"Sudah sejak lama," jawab Ica kegirangan karen buah ciplukan yang dipetik Aksa ranum dan masak.
"Terima kasih, sayang." Ica berjinjit mengecup kening Aksa.
"Ogah." tolak Ica memeluk Aksa dan menghadiahi ciuman di kedua pipi suaminya bergantian.
"Tuh, kan. Di bibir menolak di hati iya," ledek Aksa yang berbuntut pukulan kecil dari Ica untuknya.
Sembari tertawa puas.
"Kita kembali ke gubuk, yuk! Sudah mulai gelap." Aksa menggandeng tangan Ica dan membawanya kembali ke gubuk.
"Oke," jawab Ica menyimpan buah ciplukannya.
Ia berencana akan memakan saat tiba di gubuk.
"Aaah," seru Ica dan Aksa naik ke gubuk yang mirip gazebo, tetapi bahan pembuatannya dari jerami kering dengan alas panggung dari kayu.
Keduanya duduk seraya menikmati buah ciplukan. Candaan dan lelucon lucu membuat keduanya melupakan apa yang terjadi.
Ada wajah lelah menunggu satu atau dua orang penduduk lokal berseliweran, tetapi belum ada yang tampak.
Lokasi tersebut sudah layak seperti kota mati, sepi dan sunyi.
Aksa pun mengajak Icha rebahan saking penat dan lelahnya setelah mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu sehari.
Tanpa disadari keduanya terpejam dan tertidur.
***
__ADS_1
Aksa merasa ada yang mengguncang tubuhnya. Merasa terganggu, Aksa membuka mata.
"Kok, di mobil?" batinnya.
Betapa terkejutnya Aksa melihat beberapa petugas mengetuk-ketuk jendela kemudi dan mengguncang kendaraannya.
Aksa membuka pintu mobilnya .
"Iya, pak sebentar, " seru Aksa begitu keluar da turun dari mobil.
"Mohon. maaf, bisa menunjukka SIM dan STNKnya?" seru petugas tersebut.
"Sebentar." Aksa terpaksa membangunkan istrinya yang masih terlelap di dunia mimpi
"Ca, bangun!" Aksa membangunkan Ica perlahan agar istrinya tidak terkejut.
"Ada apa, Mas?" tanya Ica begitu terbangun.
"Ca, ayo keluar dulu!" bisik Aksa menunjuk beberapa petugas.
Ica perlahan turun dari mobil dan bertanya apa keperluan petugas tersebut.
Ica menyerahkan surat kendaraan yang dimaksud. selebihnya ia hanya menunggu sembari menyaksikan apa yang terjadi antara suami dan petugas.
"Bapak, Ibu mohon maaf atas kejadian tadi. Lain kali jika lelah silahkan beristirahat di rest area," nasehat salah satu petugas.
"Baik, Pak. Kamu juga salah. Berhenti sembarangan," jawab Aksa.
"Untung kalian sudah menikah," ledek yang lain diikuti tawa Aksa.
"Aku tadi mimpi, apa?" gumam Ica setelah kembali masuk ke mobil dan petugas pamit. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum Aksa membangunkan.
"Ada apa?" tanya Ica begitu Aksa kembali masuk ke dalam mobil dan bersiap menyalakan mesin.
"Enggak ada apa-apa." jawab Aksa menatap lembut wajah istrinya.
"Mereka mengira, kita bukan pasangan suami istri." Sambung Aksa tersenyum lebar merasa lucu dengan yang terjadi.
"Kita pulang!" Aksa mulai menyalakan kembali kendaraannya.
"Mas aku tadi mimpi aneh ..., " ucap Ica lirih memilih tidak melanjutkan kata-katanya.
Ditangnnya ada bekas kulit buah ciplukan.
"Ada apa?" tanya Aksa khawatir dengan perubahan yang terjadi pada Ica.
Gadis itu menggeleng.
"Kenapa?" Lagi-lagi jawaban Ica hanya menggeleng. .
"Sebenarnya sekarang nyata atau mimpi?" batin Ica.
Kendaraan Ica bergerak lebih cepat hingga tiba di rumah.
Namun, sepanjang perjalanan Ica hanya melamun. Aksa pun terdiam tidak ingin bertanya apapun pada Ica.
"Kalian istrihatlah. Lihat mata kalian terlhat begitu lelah," ucap Mama Ica.
***
__ADS_1
bersambung