
Pagi yang indah....
Matahari perlahan menampakkan wajahmu yang penuh sinar.
Seorang gadis nampak menggeliat, ia masih terlihat malas beranjak dari kasurnya.
"Ndoro Ayuu..." Suara Mbok Bano memaksa Adistya membuka matanya yang masih ingin menutup.
"Ndoro Ayu.. Sampun di tenggorokan kaliyan Ndoro Putri Ndoro Kakung." Kata Mbok Bano lagi.
Adistya perlahan bangun dari rebahannya. Duduk bersandar di kepala ranjangnya yang kokoh penuh ukiran.
" Wis isuk yo Mbok ?" Tanya Adistya.
" Sampun Ndoro..." Jawab Mbok Bank
"Yo wis Mbok, aku tak ados dhisik..." Seru Adistya.
Adistya segera berdiri, menuju kamar mandi. Mbok Bano hanya menggelangkan kepala melihat kelakuan Ndoronya yang kadang aneh dan gemas akhir-akhir ini.
Selesai mandi, Adistya memilih pakaian yang akan di pakai.
Kemarin Baba sudah menyiapkan gaun spesial untuknya. Adistya menyukai gaun pemberian Babanya kemarin.
Adistya mengenakan gaun berwarna pink dengan aksesoris khas dari Cina.
Mbok Bano dan Emaknya masuk ke kamarnya. Mereka bermaksud membantu Adistya berdandan.
"Looo... wis ayu e anak e Emak." Puji Emaknya begitu melihat hasil dandanan Adistya.
"Injih, Ndoro. Ndot Ayu Adistya uayuu tenan e. Iso-iso Raden Narendra langsung kesengsem karo Ndoro Ayu.." Digoda begitu sama Mbok Bano membuat Adistya tersipu.
\====================================
Menjelang tengah hari ( Kalo ada jam gitu, kemungkinan pukul 10.00 pagi ).
Rombongan sebuah kereta kuda, dan sekompi pasukan berhenti di depan gerbang rumah Adistya.
Babah dan Emak sudah menyambut kehadiran rombongan tersebut dengan sukacita. Sedangkan Adistya masih sibuk di dalam kamarnya dengan aksesoris rambut.
Sebetulnya, kalau mau jujur Adistya sangat gugup. Bahkan Adistya tidak pernah tahu untuk apa ia gugup. Kenal aja enggak.
Hampir lima belas menit Adistya menatap cermin di depannya.
"Ndoro... Raden Narendra sampun rawuh..." Seru Mbok Bano.
" Iyo.. Mbok.. Aku tak nyang pendopo..." Ucap Adistya sambil berjalan menuju pendopo.
Di Pendopo...
Emak dan Baba nampak bercanda dengan seorang pemuda.
"Emak.. Baba..." Panggil Adistya.
"Eh, Cah hayu... rene.. lungguh kene..." Ucap Baba.
__ADS_1
Adistya menuruti permintaan Baba, duduk di kursi yang di sediakan Babanya.
"Raden.. niki genduk kami..." Ucap Baba kepada pemuda yang di depannya.
Adistya masih menunduk. Bukan sejak keluar kamar tadi Adistya belum berani menatap wajah pemuda yang akan di jodohkan dengannya.
"Dyah Adistya Shexien..." Panggil pemuda yang ada di hadapan Baba.
Auto membuat Adistya mengangkat wajahnya. Menatap wajah pemuda yang memanggilnya.
"Mas Arya..." Pekik Adistya tak percaya menatap cogan di depannya.
" Iyoo iki aku, Arya.." Ucap Raden Narendra.
"Loo... wis kenal to?" Baba dan Emak ikut terkejut sama terkejutnya dengan Adistya.
"Ngeten Ba...." Akhirnya Arya alias Raden Narendra menceritakan pertemanan dengan Adistya.
Baba dan Emak hanya mengangguk-angguk mengerti. Menyimak cerita dari Raden Narendra.
"Piye Nduk...? Arep Mbok terimo atau enggak lamarane Raden Narendra?" Ucap Baba.
Adistya menatap Baba, Emak lalu Narendra. Ada senyum kecil di bibirnya.
"Adistya, maaf aku ya.. semoga keputusanku ini sesuai dengan hati kamu." Ucap Adistya dalam hati.
"Injih Baba... Adistya purun. Kulo terami lamarane Raden Narendra.." Kata Adistya sambil menunduk.
"Alhamdulillah..." Seru ketiganya.
"Loo... Mas Arya , saged uluk hamdalah." Kata Adistya heran.
( Masih ingat kan, Baba adalah kerabat Putri Campa. Putri Campa adalah seorang muslim. Jadi, Baba beragama sama dengan Putri Campa. Muslim. )
Sedangkan Raden Narendra, dia orang istana. Bagaimana bisa?
"Aku juga muslim, Adis... Sama kayak Kakak iparku Putri Campa. Yang kamu tanyakan. kemarin." Kali ini Narendra memakai bahasa Indonesia.
Emak dan Baba saling berpandangan mendengar bahasa yang diucapkan Narendra yang tidak mereka pahami.
"Oooh... begitu. Terima kasih ya Mas... Aku bersyukur ternyata kita seiman. Karena awalnya aku sudah khawatir." Baba dan Emak semakin bengong ternyata putrinya juga bisa menggunakan bahasa yang digunakan Narendra.
"Raden niki ngomong nopo kaleyan Adis?" Tanya Baba
"Oh.. ngapunten Baba, kulo wau jelasaken dateng Adis. Minongko islam e dalem, Baba." Kata Narendra.
"Ooo...." Baba dan Emak hanya ber O O tanda mengerti.
Tak butuh waktu lama, Narendra dan Baba langsung bediskusi menentukan tanggal dan hari pernikahan.
\=====================================
Icha membau, ada aroma minyak kayu putih, minyak telon dan alkohol di sekitarnya.
"Cha... Icha... bangun Cha...." Suara panik dan khawatir dari seseorang, seperti suara Zain.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit Icha membuka matanya. Mengerjap-kerjapkan matanya. Mengadaptasi dengan suasana terang di Sekitarnya.
"Ini dimana?Aauuh...pusing." Ucap Icha.
"Jangan banyak gerak dulu Cha..." Kali ini suara Aksa.
Icha memandang sekitarnya. Ia belum mengenali dimana posisinya sekarang.
Icha memiringkan tubuhnya berusaha untuk bangun. Aksa dengan tanggap membantunya.
Icha masih memegang kepalanya yang sedikit pening.
"Aku dimana?" Ulang Icha.
"Masih di Siti Hinggil." Jawab Aksa.
" Berarti sekarang 2020 ya?" Seru Icha
Kali ini Aksa dan Zain saling berpandangan. Mereka tidak mengerti maksud Icha.
"Kamu sehat kan Cha?" Tanya Zain sambil memeriksa dahi Icha.
"Normal, gak panas." Seru Zain.
"Mas... gimana? Apa masih perlu kita bawa ke puskesmas?" Tanya seseorang di belakang Zain.
"Kamu kuat gak Cha?" Tanya Zain
"Masih kuat kok, Zain." Ucap Icha.
"Gak jadi No... orangnya Udah siuman." Kata Zain.
Aksa yang sedari tadi diam karena panik melihat Icha yang tiba-tiba pingsan, langsung memeluknya.
"Cha.. aku udah kuatir banget... nungguin kamu empat jam di sini." Bisik Aksa.
"Empat jam?" Ulang Icha sambil melepaskan pelukan Aksa.
"Iya empat jam. Sampai Aksa mau nangis tadi. Takut kamu kenapa-napa." Kata Zain.
"Aiissh... bukannya kamu tadi juga panik Zain. Sampai mau panggil ambulance segala." Teriak Nono meledek.
Membuat Icha ikut tersenyum kecil, karena masih merasakan pusing.
~=============~
**See U next episode ya...
Sebenarnya siapa Icha, Aksa, Adistya dan Narendra...
Nanti Thor buka satu per satu
Terus kasih dukungan Buat aku ya...
pliss... vote dan rate yaa...
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
😘😘😘😘😘😘 Lop yu pull**