Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Melamar


__ADS_3

🎢


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Narendra menyenandungkan lagu melamarmu sambil jongkok di depan Adistya. Mengulurkan sebuah cincin perak bermata zamrud..


Adistya terharu melihat Narendra yang tiba-tiba jadi romantis.


"Adistya.."


🎡🎢🎢🎢🎢


Janji suci dari Yovie


Aku ingin mempersuntingmu.


Tuk yang pertama dan terakhir.


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta.


Satu keyakinan hatiku ini.


Akulah yang yang terbaik untukmu.


"Menikahlah dengan ku Dyah Adistya Shexien."


Lanjut Narendra dengan posisi yang masih sama.


"I say yes... " Jawab Adistya mengenggam tangan Narendran


"Terima kasih, sayang." Narendra memasangkan cincin zamrudnya di jari kelingking Adistya.

__ADS_1


Adistya terus memandang cincin cantik pemberian Narendra.


"Mas, Kamu kan udah ngelamar aku. Kenapa jadi sok romantis gini sih. Lagian tuuh ya biasanya cowok itu melamar ceweknya dulu baru ngomong ke orang tuanya. Tapi kamu kebalik tuh Mas. Ngomong orang tuaku dulu baru ngelamar secara pribadi ke aku. Aneh." Kata Adis tanpa melepas pandangan dari cincinnya.


Narendra tersenyum misterius mendengar ocehan Adistya. Seakan ia menyimpan banyak misteri.


"Karena aku sayang sama kamu. Aku tresno sampeyan, Nimas..."Kata Narendra mengakhiri lamarannya.


( Aku cinta kamu, Dik )


Adis memeluk Kangmasnya dengan erat. Seakan tak ingin ditinggal jauh.


Di seberang paviliyun Narendra.


Sepasang mata mengawasi keduanya.


Raden Alit.


Begitu pandangannya menangkap kedua pasangan itu berpelukan. Hatinya kembali panas. Ingin rasanya menyingkirkan Narendra dari Kraton. Tapi, tidak ada kesempatan lagi. Rencana pertamanya gagal malah Adistya yang terluka.


Adistya sempat menangkap sesosok bayangan berlalu di seberang. Namun Adistya tak berani mengatakan apapun takut salah. Maklum dirinya kini berada di tempat yang tidak biasa.


"Mas..." Panggil Adistya.


"Iya Sayang." Jawab Narendra.


Adistya tersenyum mendengar Narendra memanggilnya sayang.


"Mas, bolehkah saya melihat belati yang dipakai menusukku?" Tanya Adistya lirih takut terdengar emban atau prajurit yang sedang mondar mandir di sekitarnya.


"Ayoo ikut aku ke dalam." Ajak Narendra.


Adistyapun bangkit mengekor Narendra masuk ke dalam paviliyun.


"Ini.." Narendra menyerahkan sebuah belati kecil kepada Adistya.


Adistya menerima belati tersebut. Mengamatinya. Meraba setiap sisi belati. Mulai ujung sampai pangkal bahkan gagangnyapun tak dilewatinya. Entah apa yang dicarinya. Narendra hanya melihat.

__ADS_1


Tangan Adistya mendadak berhenti tepat di salah satu ujung belati tersebut. Ada tulisan timbul disitu.


Menggunakan tulisan aksara jawa kuno. Aditya mencoba terus merabanya. Membacanya perlahan.


Terbata-bata Adistya membacanya dengan berdebar. Dan jantungnya nyaris terhenti begitu ia selesai membacanya.


"A---li---t."


Sekali lagi diulangnya kembali. Namun tulisan itu tak berubah.


Adistya menarik napas panjang. Menjernihkan kembali isi otaknya.


"Kenapa, Dis?" Tanya Narendra melihat Adistya seperti menahan sebuah beban berat.


"Mas Ren, kalo Adis cerita jangan marah ya.." Kata Adistya memandang calon suaminya dengan cemas.


"Ada apa, Dis?" Tanya Narendra panik.


"Katakan dulu, Mas Narendra enggak akan marah atau dendam." Ulang Adistya.


Narendra menatap Adistya, mencoba membaca pikiran gadis itu. Tapi nihil.


"Okay.. aku janji gak akan marah atau dendam." Ucap Narendra sambil menghembuskan napas teratur meredam paniknya.


"Mas, pelaku penusukannya Mas Alit." Bisik Adistya


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


See You at next part ya..


Kunjungi **Istri Tetangga yaa...


tulis jejak kalian di sana..


I love you


😘😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2