
Baba masih menenangkan Emak. Setelah dirasa Emak mulai tenang Baba menemui Narendra.
"Den, Dalem angsal ningali gaman ingkang di damel sinunduk Adistya?" Pinta Baba
(Den, apakah saya bole melihat senjata yang digunakan menikam, Adistya?
"Ya Allah, Baba.... Dalem supe. Ten pundi nggeh gamane? Cobi kulo tangled Kanjeng Ratu Rajasawardhana." Ucap Narendra sedikit panik.
( Ya Allah, saya lupa. Dimana senjatanya? Saya akan coba tanya ke Kanjeng Prabu Rajasawardana. )
"Damel nopo to, Ba?" Narendra kepo
(Buat apa, Ba? )
"Damel mastekno, gamane wonten racune nopo mboten. Insya Allah, Baba baturi kaliyan racikan ndugi cino." Tutur Baba.
( Untuk memastikan, senjata itu tidak beracun. Insya Allah, Baba akan membantu dengan pengobatan dari Cina )
"Baba..." Narendra begitu takjub dengan penuturan Calon mertuanya.
" Qidao ta hui hen kual xing lai." Ucap Baba dengan aksen Cina.
( Berdo'alah supaya dia cepat sadar )
Narendra tersenyum mendengar ucapan Baba Wang Se, karena baru sekali ini ia mendengar Baba berbicara dengan bahasa ibunya.
"Hen hao Baba " Balas Narendra dengan kikuk.
(Baik Baba)
Baba tersenyum memandang calon menantunya. Baba bangga ternyata calon menantunya bisa menguasai bahasanya walaupun sangat kaku terdengar ditelinga.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Narendra kembali menghadap sang Kanjeng.
"Kowe, nggolek i iki, Cah Bagus?" Ucap Kanjeng Rajasawardhana sambil memperlihatkan benda berbentuk keris kecil kepada Narendra.
( Kamu mencari ini ? )
"Dalem Kanjeng." Sahut Narendra santun.
( Iya, Kanjeng )
Narendra sudah mengatakan kalau ia mencari senjata yang digunakan untuk menikam Adistya. Karena sewaktu kejadian yang ada di sebelahnya selain emban ada sang Kanjeng Rajasawardhana.
__ADS_1
"Yo wis gowo en gamane... Simpenen. Mbok bilih bakalan ono gunane." Titah sang Kanjeng sambil menyerahkan keris kecil tersebut.
( Ya sudah bawa saja senjata ini... Simpan. Bisa jadi sewaktu-waktu nanti diperlukan )
"Dalem Gusti..." Setelah berpamitan Narendra segera menuju biliknya dimana Adistya masih tergolek tak berdaya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
"Ba....Ba..Ba....meniko gamane." Suara Narendra begitu terbata-bata dengan napasnya yang ngos-ngos an. Karena sengaja berjalan sangat cepat.
"Keris...?" Baba menerima barang yang diberikan Narendra kepadanya.
Baba Wang Se mengamati keris kecil tersebut. Sepertinya ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan kepada sang Pangeran di depannya itu. Tapi, ia tahan. Karena tujuan awalnya hanya mencari bekas racun atau apapun yang menempel di keris itu.
Baba mengendus keris tersebut. Lalu mencolek. Memastikan sesuatu.
"Den, muji syukur... Mboten wonten racune." Baba girang sekali.
(Den, syukurlah... Tidak ada racunnya)
Ia kembali duduk mengambil alat tulis yang tersedia di meja Narendra. Kemudian menulis sesuatu.
( Jangan dibayangkan alat tulisnya seperti apa, yang pasti itu seperti kertas berwarna kuning kecoklatan, yang disebut dluwang. Penanya menggunakan mangsi dudul berwarna hitam )
"Den, dalem butuh niki." Baba menyodorkan deluwang kepada Narendra.
Narendra menerimanya. Membacanya lirih.
"Niki...." ( Ini...)
"Kuwi jamu, Cah Bagus..." Potong Baba cepat melihat reaksi kaget Narendra.
( Itu obat, Nak..)
Narendra memerintahkan seorang emban untuk menyediakan semua yang diminta calon mertuanya.
Sambil menunggu pesanannya datang. Baba Wang Se kembali mengamati keris yang menyerupai belati. Yang besarnya hanya sebesar pisau dapur. ( Kalau zaman sekarang )
"Wonten nopo, Ba?" Tanya Narendra penasaran melihat Baba tak melepas pandangannya dari keris itu.
( Ada apa, Ba?)
"Raden, monggo jenengan tingali. Niki gaman e kok sae sanget..." Ucap Baba sambil menyerahkan keris tersebut ke tangan Narendra.
( Raden, silahkan dilihat. Keris ini sangat indah...)
__ADS_1
Narendra mengamati, sambil tanganmu mengelus ujung sampai pangkal keris. Sudah tidak ada bekas darah lagi. Karena Baba sudah membersihkannya tadi.
Samoai ditepi pangkal keris Narendra menemukan semacam tanda inisial menggunakan aksara Jawa.
"Sial, aku gak paham ini huruf apa..." Umpatnya dalam hati.
Penampakan keris yang digunakan menikam Adistya ( sayang ujungnya kurang runcing )
dluwang atau kertas zaman kuno
pena dudul
mangsi
💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠
maaf yaa.. kalo banyak typo...
terutama bahasa cina nya...
Maaf banget...
Jangan segan tinggalkan jejak kalian...
I Love You
😘😘😘
❤ jadikan fave pake ini
👍🏻kasi like
📝 tinggalkan komen
💯 kasi vote
⭐5 klik rate
__ADS_1
Makasii yaa...