Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Berdamai


__ADS_3

Ica mulai berdamai dengan Dyah Adistya Shexien. Ia juga mulai membiasakan diri dengan kehidupan Dyah Adistya Shexien. Dengan keluarga multikulturalnya.


Mengingatkan kembali Ica tentang sejarah Majapahit yang sering ia baca dan ia dengar.


Tentang Kerajaan Majapahit yang memang menjalin hubungan baik dengan Cina. Baik politik maupun ekonomi.


Bahkan banyak raja Majapahit yang mempunyai istri dari Cina.


Dan Baba Adistya sendiri adalah seorang Cina. Penuturan Baba, dirinya adalah seorang pedagang Cina. Tapi, sebetulnya masih memiliki kerabat dengan Ayah dari Putri Campa yang dinikahkan dengan Raja.


Bahkan Baba pertama menginjak bumi Majapahit sewaktu mengantar Putri Campa. Dan belum pernah kembali ke Cina sampai sekarang. Sampai bertemu Emak dan menikah dengannya.


Putri Campa yang bernama asli Dewi Kasyifah Putri Ibrahim merupakan putri cantik keturunan Campa, namun dijadikan anak angkat oleh seorang Tiong Hoa sehingga namanya berganti menjadi Indrawati.


Namun dalam riwayat lain menyebutkan nama asli Putri Campa adalah Darawati atau Dwarawati. Putri Campa dikirim ke Majapahit saat berusia 17 tahun.


Putri Campa menikah dengan Prabu Brawijaya V dan hanya dijadikan istri selir. Karena Putri Campa bukanlah keturunan Raja atau dari keluarga bangsawan.


Kehadiran Putri Campa yang menjadi istri Brawijaya V, tentu saja memudahkan imigran dari Campa dan Cina. Mereka datang ke Majapahit dengan berbagai tujuan diantaranya berdagang dan menyebabkan agama islam.


O iya... Putri Campa ini beragama islam. Dari rahimnya putri Campa melahirkan seorang anak laki-laki bernama Raden Patah. Yang tak lain adalah pendiri Kerajaan Demak. Kerajaan islam pertama di Pulau Jawa.


Back to Ica atau Adistya


"Emak.. Baba... dalem pamit ten peken."


"Karo sopo, Nduk?" Tanya Emak khawatir mengingat sakit yang di derita Adistya.


"Mbok Bano, Mak..." Sahut Adistya.


"Yo wis sing ngati-ngati yo Mbok. Adis.. oji adoh-adoh soko Mbok Bano."


"Dalem Emak."


Hari itu, Adistya atau Ica mengenakan baju ala China berwarna hijau muda perpaduan dengan warna putih. Cantik sekali.


Baba yang menyuruhnya untuk mengenakan pakaian supaya lebih mudah dikenali. Saat Adistya tersesat atau terpisah dengan Mbok Bank nanti.




Ilustrasi suasana pasar zaman Majapahit. Zaman dimana Ica berada saat ini.

__ADS_1


Ramai... sama seperti pasar pada umunya. Hanya saja pasar yang didatanginya sekarang lebih mirip dengan pasar krempyeng di zaman Ica sesungguhnya.


Ica meminta izin Mbok Bano memilih bahan masakan yang ingin dimakannya.Ia begitu senang ternyata Mbok Bano mengizinkannya. Mbok Bano sendiri tersenyum kecil melihat kelakuan anak majikannya yang terlihat aneh. Sangat berbeda dengan Ndoro Adistya yang dulu.


Adistya yang adalah jelmaan Ica, tangannya tak henti-henti memilih sambil sesekali bercanda dengan pedagangnya.


"Mbok.. Mbok.. iki loo iwak e seger .. ayoo Mbok tumbas siji..."Rengek Adistya


"Ndoro niki sing ditumbas pun katah... Simbol mboten kiat ngangkat e." Bujuk Mbok Banu yang memang terlihat kuwalahan membawa barang belanjaan yang diminta Ndoronya itu.


Adistya kemudian mengambil satu tas dari anyaman kayu berisi bahan makanan dari tangan Mbok Bano.


"Wis Mbok.. tak gawakne iki. iwak e ndang di bayar."


"Mboten angsal Ndoro.. niki penggawean kulo. Mangke Ndoro Putri kalian Ndot Kakung Duko ten kulo." Mbok Bano terlihat cemas.


"Wis to Mbok, Gak usah ngendikan nang Emak karo Baba." Suara Adistya memelas.


Mbok Bano sampai gak tega.


"Nggih pun. Kang iwak e siji wae. piro?"


"Asiik..." Teriak Adistya kegirangan.


Adistya mengangkat satu keranjang penuh berisi bahan makanan yang dipilihnya dengan susah payah. Berat.


Mbok Bano yang mau menggantikan selalu dilarang Adistya.


"Cah, ayu... tak gawakno." Sebuah suara yang familiar mengambil alih keranjangnya. Adistya menoleh ke arah pemilik tangan.


"Mas Aksa.." Teriaknya sedikit kencang saking kagetnya membuat Adistya mundur beberapa langkah.


" Aku Arya Cah Hayu... sanes Aksa." Kata pemuda ganteng di sampingnya.


"Mbok... kene tak gawakno keranjang e." Pinta pemuda bernama Arya tadi.


Adistya yang jelmaan Ica itu terus memandang Arya.


"Mirip banget." Adistya memegang pipi pemuda itu lalu mencubitnya.


"Aaah..." Teriak pemuda itu kesakitan.


"Ndoro..." Teriak Mbok Bano

__ADS_1


"Den , ngapunten Ndoro Adis nggeh."


Pemuda itu tersenyum ke arah Adistya. "Gak po_po Mbok wong sing nyentil wong ayu."


Mbok Bano ikutan tersenyum. melihat tingkah pemuda dihadapannya itu.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju rumah Adistya.


"Matur nuwun sanget nggeh Den.. Ayo Ndoro mlebet." Ajak Simbol


"Sek Mbok aku ono perlu karo Arya sediluk."Kata Adistya


"Kulo tenggo mawon Ndoro, mangke Kulo di dukani Ndoro Putri kalian Ndoro Kakung." Mbok Bano memilih menunggu Adistya diluar yang ingin berbicara dengan Arya.


" Ya wis Mbok.. kok dhisik dhiluk kok.." Ucap Adistya.


Adistya mengajak Arya agak mundur beberapa langkah.


"Kang, sampeyan wong kene kan?" Tanya Adistya


"Iyo lah Cah Hayu." Jawab Arya


"Kang sesok iso dolan karo aku. Aku pengen ngerti tanah Majapahit iki." Bisik Adistya


"iyoo.. tak tunggu nang pasar yoo..." Disambut anggukan kecil dari Adistya.


Adistya spontan mengangkat tangannya posisi give me five. Sedangkan Arya yang tak paham maksud Adistya melihat bingung.


"Tos..." Ajak Adistya sembari mengangkat tangan Arya agar menyambut give me five nya.


Arya mengangguk mengerti, "Tos..." ulangnya kepada Adistya. Adistya menyambut give me five itu dengan tepukan keras. Membuat Arya yang tidak siap meringis kesakitan. Sedangkan Adistya tersenyum puas. Bisa menjahili orang.


Adistya bersyukur,akhirnya ia mendapat seorang teman. Walaupun berwajah mirip Aksa di dunianya sana. Tapi karakternya beda banget.


\====================================


Wah, Thor... kali ini gak kasi translate bahasa jawanya...


Kira-kira bagaimana, menurut kalian bagaimana?


Lebih suka pake translate atau kayak gini aja?


Give me komen ya...

__ADS_1


Terima kasih buat supportnya ke aku...


__ADS_2