
Suasana sore yang indah....
Nampak Zain, Ica dan Aksa sedang berjalan mengitari area Pendopo agung.
Area pendopo agung sudah mulai sepi. Jam berkunjung sudah hampir habis. Pukul 17.00 semua fasilitas di tutup.
Tapi semua jam kunjung tidak berlaku bagi Zain yang notabene petugas penjaga situs peninggalan Majapahit.
Zain bisa keluar masuk kapan saja.
"Kita mau kemana, Zain?" Tanya Aksa keheranan.
"Sabarlah kalian." Kata Zain ketus.
Zain mengajak Aksa dan Ica duduk ke dalam pendopo.
"Ica... Aksa.. Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bisa membantu kalian lebih dari ini." Ica dan Aksa saling berpandangan mendengar kalimat Zain.
"Gak usah bingung. Sini..." Zain menggenggam tangan Ica dan Aksa dengan tangan kanan kirinya.
Zain menyatukan kedua tangan Aksa dan Ica yang di genggamnya.
"Kalian harus menuntaskan yang belum selesai di masa lalu... " Kata Zain yang masih belum bisa dimengerti keduanya.
"Sudahlah... saya tidak bisa banyak bercerita. Sekarang kita ke patung Brawijaya di depan itu..." Zain beranjak dari duduknya. Dengan tangan masih menggenggam Ica dan Aksa di kanan kirinya.
Zain mendekat ke arah patung Brawijaya yang berdiri tegak di depan pendopo.
Zain menyerahkan dua cincin permata hijau kepada Aksa dan Ica.
"Pakai jangan sampai hilang. Kalian bisa kembali jika urusan masa lalu kalian selesai." Jelas Zain sambil menarik tangan Aksa dan Ica untuk menyentuh kepala ikat pinggang emas arca Brawijaya.
Bleppp...
__ADS_1
Kedua lenyap dari hadapan Zain.
Zain hanya bisa bernapas lega.
"Maafkan aku teman-teman. Karena keegoisanku di masa lalu, kalian terluka. Semoga kali ini kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku selalu menunggu kedatangan kalian kembali ke sini." Gumam Zain dengan sedih.
Zain menjauh dari pendopo. Ia menutup smart fortwo passion Aksa hati-hati dengan bedcover car. Lalu menitipkannya pada seorang penjaga di sana. Zain berjanji akan segera datang kembali untuk mengambil.
Zain mengendarai Supra fit nya menjauh dari pendopo. Meninggalkan temannya yang kini entah dimana.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Jaaauuuuh dari lokasi Pendopo...
"Ndoro Ayu.. Monggo ngadoh.... " ( Ndoro Ayu... silahkan menjauh..) Suara perempuan yang dikenalnya menarik halus tangan Ica.
"Lhoo Mbok.. kok nang kene.." Sahut Ica bingung.
"Ono opo to Mbok? Ayoo ngado dhisik. Ngayup Mbok, srengengene nyueengeet polll..." ( Ada apa sih Mbok? Kata Aqeela? Ayo menjauh dulu. Berteduh Mbok, mataharine panass.. polll....) Titah Aqeela.
Mbok Banu menurut. Ia mengekor anak kesayangan majikannya itu.
Ica sudah menyadari dimana dirinya kini. Dan siapa dirinya.
Adistya. Yupzz... kali ini ia menjadi seorang Adistya.
"Mbok.. ono opo to sakjane?" ( Mbok, ada apa sebenarnya ) Tanya Aqeela pelan-pelan dan hati-hati setelah mereka duduk di bawah pohon rindang.
"Ono opo Mbok? Kok Mbok Bano sampe narik-narik tanganku." ( Ada apa Mbok? Kok Mbok Bano sampai menarik-narik tanganku ) Lanjut Aqeela karena Mbok Bano sampai terdiam.
Mbok Bank mendekat ke arah Ica.
"Ndoro, ngapunten ingkang katah. Dalem nyuwun Duko." ( Ndoro, mohon maaf sebesar-besarnya. Saya bersalah. )Bisik Mbok Bano.
__ADS_1
"Kulo di utus kaliyan Raden Narendra, terus e Ndoro Ayu mboten angsal nyelak i Gusti Rase Alit." ( Saya diperintahkan Raden Narendra. Kata beliau Ndoro Ayu tidak diizinkan mendekat ke Raden Alit.) Ucap Mbok Bano masih dengan berbisik.
"Raden Alit?" Ica berpikir.
"Lha.. Raden Alit iku sing endi Mbok?" ( Lha, Raden Alit itu yang mana, Mbok? ) Tanya Ica penasaran.
Membuat Mbok Bano yang tadi sedikit cerah kembali gusar.
"Duuh Gusti, kenging nopo Ndoro Ayu kulo niki?" ( Ya Tuhan, ada apa dengan Ndoro Ayu saya ini? ) Gimana Mbok Bano dalam hati.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Wuiiss... ada apa yaa dengan Ica dan Aksa
Terus siapa sih Zain ini?
Next part ya..
Betewe makasi yaa buat ready yang kasi masukan untuk tetap di translate...
Okay asiyaap.. Aku siap translate dengan suka cita...
***To all my reader
Met Hari Raya Idul Fitri yaa...
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga ibadah kita di Bulan Ramadhan diterima Allah swt
Aamiiin***...
__ADS_1