
Di depan ketiganya berdiri dua orang perempuan cantik. Keduanya tersenyum kepada Ica dan Aksa bergantian.
"Ren, Dis... Dia Tan Eng Kian. Dan ini Dewi Wandhan Kuning." Raden Alit memperkenalkan kedu wanita di hadapannya dengan senyum yang membuat lawan jenisnya meleleh seleleh-lelehnya.
Ica dan Aksa yang kali ini dalam.wujud Adistya dan Narendra hanya tersenyum. Menatap kedua kakak iparnya.
"Nduk, Cah ayu.., Ayoo salim ke bude." Pinta Narendra kepada seorang balita yang nempel pada Ica.
Gadis cilik itupun langsung mencium tangan wanita yang katanya budenya.
"Ma.. dendong.." Rengek balita itu.
Adistya yang paham bahasa anak kecil itu langsung mengangkat tubuh mungilnya. Mendekapnya dalam gendongannya.
"Kalian berdua nikmati makanan di sini yaa.. " Bisik Raden Alit, Ia pun menggandeng kedua istrinya dengan mesra.
Membuat Adistya menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. Karena tangannya ia gunakan untuk menggendong putri kecilnya itu.
Putri kecil.
Adistya dan Narendra menatap putri kecil yang digendong Adistya.
Wajahnya begitu imut. Ia mengenakan pakaian yang mirip dengan Adistya. Wajahnya perpaduan antara Adistya dan Narendra.
Wajahnya memiliki khas oriental tapi memiliki mata lebar yang indah dengan alis tebal dan berbulu mata lentik seperti milik Adistya. Berhidung mancung dengan bibir tebal seperti milik Narendra.
"Mas, dia?" Bisik Adistya
"Putri kita." Jawab Narendra.
"Nirmala..." Sapa seseorang.
"Dimas."
Balita bernama Nirmala itu tampaknya sangat senang dengan kehadiran Dimas. Bahkan tangannya langsung menggapai ke arah Dimas.
Membuat pemuda itu langsung memindahkan Nirmala ke gendongannya.
Dan Adistya langsung menyerahkan Nirmala-nya ke dimas.
"Annchi Nirmala.. loo sama mama yaa.." Suara lain memanggil nama Nirmala.
"Mbok Ra." Seru Narendra.
"Dalem Ndoro.. Monggo dikepenake ketemu dulur." Ucap Mbok Ra sopan.
"Mbok Ra wis pinter coro melayu." Puji Narendra.
"Niku kan Ndoro ayu ingkang ngajari." Ucap Mbok Ra malu-malu.
"Silahkan Ndoro. Kulo tak momong Ndoro Nirmala." Mbok Ra undur diri dari hadapan adistya dan Narendra bersama Dimas yang menggendong Nirmala.
"Dim, titip Nirmala." Bisik Narendra sebelum mereka keluar.
💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Keringat dingin keluar dari tubuj Ica dan Aksa, udara dingin kota mojokerto dini hari memang sangat dingin. Bahkan terlalu dingin.
Tapi buliran keringat itu seakan bukan dari hawa dingin yang masuk tanpa permisi.
Wajah keduanya juga menampakkan keresahan, walaupun terpejam tidur mereka tidak tenang.
"Ca.. Ica..." Aksa yang terbangun lebih dulu membangunkan Ica yang mengginggau memanggil namanya.
"Ica.. bangun sayang." Aksa mengguncang pelan tubuh Ica.
Perlahan ia membuka matanya. Menetralisir dengan pencahayaan ruangan yang dibuat sedikit remang efek lampu tidur yang dinyalakan Aksa menggantikan lampu utama.
"Ca.. kamu kenapa?" Tanya Aksa sambil membantu Icha berdiri.
__ADS_1
Perlahan Ica bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke ujung ranjang.
Aksa mengusap rambut Ica perlahan. Aksa menggeser posisi duduknya, mensejajarkan dengan Ica. Memeluk gadis itu perlahan.
Ica menyandarkan kepalanya ke dada Aksa. Bau keringat seakan tak terlalu dihiraukan Ica. Baginya bau keringat Aksa tetap membuatnya seksi dan tampan. Yaa begini kali rasanya ngebucin.
"Mas.. tadi aku ketemu mereka." Bisik Ica.
"Raden Alit dan kedua istrinya, Mbok Ra, Dimas dan anak Adistya dan Narendra." Ucap Aksa menyambung kalimat Ica.
Ica mengangguk. Mengiyakan.
"Namanya Nirmala. Dia sangat cantik." Bisik Ica. Dan Aksa mengangguk.
"Mereka masih bersama." Bisik Ica.
"Iya, dan semoga sampai Nirmala dewasa." Sahut Aksa.
"Sudahlah, ini masih menjelang subuh. Tidurlah lagi." Titah Aksa.
"Sudah tidak ngantuk." Jawab Ica.
"Diluar kok rame banget ya Mas?" Celetuk Ica mendengar suara ribut diluar.
"Ooh.. itu bakul yang mau ke pasar." Jawab Aksa dengan datar karena sudah paham kebiasaan penduduk sekitarnya.
"Sudahlah.. sini aku peluk aja. Biar gak dingin." Aksa langsung melinkarkan kedua tangannya ke pinggang Ica.
"Mas, no modus loo yaa..." Ancam Ica sambil mendongak menatap Aksa sambil melotot.
"Liat nanti deh, kalo juniorku anteng aku gak bakalan modus. Tapi kalo juniorku bikin sempit celanaku yaa pasti aku modusin. Hee hee hee..." Jawab Aksa dengan wajah isengnya.
"Mas Aksaa..."
Cup..
"Jangan berisik atau mau aku tambahin lagi." Omel Aksa.
Ica hanya menarik napas panjang menahan segala kalimat yang ingin ia lontarkan kepada cowok di sebelahnya itu. Karena ia tak ingin Aksa melakukan hal aneh kepadanya lagi.
Yang ada keduanya hanya saling menikmati pelukan masing-masing.
💠💠💠💠💠ðŸ’
Masih pagi, jarum saja keduanya masih di angka 7 ketika Zain sudah di depan rumah Ara.
"Assalamu'alaikum..." Zain mengucapkan salam sebelum masuk.
"Wa'alaikum salam. Dungaren Le, jek isuk iki." Sahut seorang lelaki paruh baya yang menemui Zain.
"Injih Pak, kulo janjian isuk kalian Ara. Bade ten daleme rencang." Jawab Zain sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan lelaki yang merupakan ayah dari bidadarinya itu.
"Oohh.. sek Zain. Ara sek siap-siap koyok e." Kata Ayah Ara.
"Injih Pak, kulo tenggo ngriki mawon." Kata Zain sambil duduk di teras.
"Lhoo Zain, montormu anyar yo Le?" Tanya Ayah Ara sambil menatap mobil unik milik teman pria anak gadisnya itu.
Zain hanya tersenyum menatap lelaki yang langsung duduk di sampingnya itu.
"Gadane rencang, Pak. Kulo mung dikengken ndamel." Jawab Zain apa adanya. Ia sempatlan melirik le arah lelaki itu. Nampak ada gurat kekecewaan di matanya.
"Pak lha wong kulo niki mung pegawai pemkab damel tumbas montor sae ngoten nggeh mboten saged." Tutur Zain.
"Ora popo Le. Dadi uwong pangkat kuwi dudu mergo dunyone." Kata Ayah Ara dengan bijak.
"Mas.. ayo aku wis siap." Ara muncul menyelamatakan Zain dari calon ayah mertuanya yang sepertinya bersiap menembakinya dengan berbagai pertanyaan.
"Pak kulo mangkat rumiyen nggeh kale Ara." Zain kembali mencium tangan Ayah Ara sebelum membawa anak gadisnya itu.
__ADS_1
Ara mengikuri ritual Zain, mencium tangan ayahnya.
"Ojo bengi-bengi yo Zain nek moleh." Pesan Ayah Ara sebelum berangkat.
"Injih Pak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Lhoo, mas ini mobil siapa?" Tanya Ara heran melihat Zain membukakan pintu mobil penumpang untuknya.
"Aksa." Jawab Zain cepat.
"Ooh...." Ara hanya ber O O saja.
Karena selama ini, Ara hanya mendengar nama Aksa hanya dari cerita Zain. Tanpa pernah tahu bagaimana Aksa. Begitupun dengan Ica. Ara hanya pernah tahu bahwa ia sahabat Zain sejak SMP. Tanpa pernah mengenal sosoknya.
Smart fortwo passion yang dikemudikan Zain perlahan menjauh dari halaman rumah Ara. Mereka langsung menuju kos-an Aksa.
"Ra, kita sarapan di rumah Aksa saja ya." Kata Zain.
"Terserah Mas saja." Jawab Ara tanpa melepaskan tatapannya dari interior mobil yang dikendarai Zain.
Di depan rumah Aksa
Terlihat Ica sedang bergurau dengan tetangga sebelahnya dengan akrab.
Begitu ada mobil masuk yang udah jelas siapa pengemudinya. Ica segera pamit menyambut tamunya.
Aksa yang dari tadi di dalam, ikut keluar setelah mendapat panggilan dari Ica.
"Sama siapa Zain?" Tanya Ica.
"Nee kenalin Iswara Maheswari. Bidadariku." Zain memperkenalkan calon istrinya kepada kedua sahabatnya.
Ica dan Aksa yang melihat Ara keluar dari mobil seketika menutup mulutnya dengan tangannya masing-masing.
"Mas dia.." Ica dan Aksa bertatapan.
"Dewi Wandan Kuning." Ucap keduanya berbarengan.
💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
**Waduuh.. ada apa lagi???
Wait and see at next part aja yaaa..
Ojo lali yoo rek..
Like
komen
Vote
Rate
Tak enteni yoo
Matur suwun yoo..
😂😂😂😂**
bahasa mana itu Thor?
Boso suroboyoan hee hee hee...
see you yaa..
__ADS_1