
Seminggu setelah pesta pernikahan, Narendra tampak sibuk berkemas. Adistya membantu seperlunya.
"Mas, kamu sudah siap menjadi penduduk biasa?" Ulang Adistya.
"Asalkan bersama kamu, aku selalu bahagia." Jawab Narendra memandang Adistya yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Yo wislah, aku manut wae. Arep dijak garwo nang endi wae melu."Kata Adistya pasrah.
( Ya sudahlah, aku ikut saja. Mau diajak suami kemanapun ikut. )
Narendra hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan istrinya itu.
Setelah semua barang selesai di packing. Narendra mendekati istrinya. Mencium keningnya. Lalu mendudukkan Adistya di tepi ranjang.
"Dyah Adistya Shexien, sudah siapkah dirimu menjadi istri seorang penduduk biasa. Tanpa gelimang harta dan kuasa." Ucap Narendra sambil bersimpun dihadapan istrinya.
"Mas, ojo ngene.. " Adistya meminta suaminya untuk duduk di sebelahnya, namun Narendra menolaknya.
( Mas, jangan begini...)
"Jawab dulu, Dhis.."
"Raden Narendra Arya Kusuma, saya bersedia menemani kemanapun Kakang tinggal. Saya mencintai Kakang bukan karena harta atau kuasa. Saya tidak peduli jika Kakang penduduk biasa. Karena saya sudah jatuh cinta sejak pertama bertemu Kakang. Saat Kakang sebagai Arya. Pemuda penolong saya dan Mbok Bano." Ucap Adistya lirih, membuat siapapun yang mendengar ikut meleleh.
Adistya memeluk suaminya.
"Aku sayang Kakang." Bisiknya
"Aku juga..." Balas Narendra.
"Heem.. hemm.." Suara deheman membuyarkan keromantisan suami istri itu.
__ADS_1
"Kanjeng." Kata keduanya bareng seraya melepaskan pelukannya, melihat kedatangan sang Kanjeng Ratu Rajasawardhana mendatangi paviliyun Narendra. Ada semburat kemerahan di pipi keduanya.
"Kepriye olehmu cemepak, Le?" Tanya sang Kanjeng.
Bagaimana persiapan kalian?
" Alhamdulillah, sampun, Kanjeng." Jawab Narendra.
(Alhamdulillah, sudah Kanjeng. )
"Yo wis, pesenku siji. Sing ngati-ati. Sing sabar. Aku mung iso dungak e soko kene. Iki terimo en yo Le... anggepen ae iki ganjaran." Ucap Kanjeng Ratu sambil memberikan sebuah peti kecil kepada Narendra.
( Ya sudah, pesanku satu yang hati-hati. Yang sabar. Aku hanya bisa mendo'akan dari sini. Inj kalian terima ya, Nak. anggap saja hadiah.)
💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Setelah Kanjeng Ratu Rajasawardha berlalu dari paviliyun Narendra.
"Ini apa ya Mas?" Tanya Adistya masih dengan mode penasaran menatap peti mungil itu.
"Entahlah. Aku juga gak tau." Jawab Narendra masih dengan mode seperti Adistya. Penasaran tingkat dewa.
"Kita buka, bole gak ya?" Bisik Adistya.
"Bole..." Jawab Narendra tapi tidak melepas tatapananya dari peti apalagi beranjak mendekat ke arah peti.
Keduanya masih berada di mode terpaukau dan tak tahu harus bagaimana?
"Ndoro..." Seorang Emban masuk
"Iya Mbok..." Jawab Narendra tanpa menoleh.
__ADS_1
Emban itu nampak bingung melihat pangerannya seperti reco. Meneng, anteng gak jelas.
"Ndoro...." Ulang sang Emban.
"Ono opo to Mbok?" Kali ini Adistya yang menyahut.
Tapi modenya sama dengan Ndoro bagusnya, anteng koyok reco.
"Ndoro iki.. kenopo to yoo? Kok karo2ne koyok reco. Podo nguwasi opo to yo?" Ucap Emban sambil menengok benda yang terus pandangi Ndoro2nya itu.
( Raden ini kenapa ya? Kok dua-duanya seperti patung. Sama-sama lihat apa siih?)
Emban itu mengikuti pandangan mata Narendra dan Adistya.
Peti mungil. Mulut Mbok Emban auto ikut membuka lebar menyaksikan peti itu.
"Apik tenan iki.. " Ucap Emban ikut terlena.
( Bagus sekali ini. )
"Den.. Raden.. niku kothal alit e, enggal-enggal di simpen. Mangke ketemon tiyang ala pripun." Bisik Emban dengan cemas.
(Den.. Raden.. Itu peti kecilnya segera di simpan. Nanti keburu dilihag orang jahat, bagaimana?)
💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Rate