
Begitu kereta kuda memasuki area kraton. Kendaraan tersebut berhenti di depan gerbang. Beberapa penjaga bersiap menyambut keduanya.
Narendra turun kemudian ia ulurkan tangan kanannya membantu Adistya turun. Gerbangpun dibuka. Dua penjaga menundukkan kepalanya, sesaat keduanya melewati gerbang.
Keduanya memasuki kraton dengan bergandengan tangan. Beberapa pasang mata memandang takjub kepada keduanya.
Sedangkan dibagian lain di dalam kraton, sepasang mata lain memandang penuh kebencian kepada pasangan itu.
Tangannya mengepal dengan keras, menggebrak meja di sebelahnya. Membuat beberapa emban yang ada di sana terkejut.
"Ngapunten Dalem Raden..." ( Maafkan saya Raden.. ) Ucap emban tersebut ketakutan khawatir dirinya melakukan kesalahan.
"Wis...Mban.. kowe lungoho.. tinggalen panganan karo omben ne.." ( Sudahlah.. Mbak.. kamu pergi.. tinggalkan makanan dan minumannya di sini ) Titah Raden Alit dengan kasar.
Emban itu segera berlalu dari hadapan Raden Alit dengan jalan jongkok. Mundur beberapa langkah baru berdiri. Dan berjalan normal.
Tabiat kasar Raden Alit bukanlah hal yang aneh di dalam kraton. Jika ada yang tidak sesuai dengan hatinya maka tabiat kasar itu akan keluar begitu saja. Seakan sudah menjadi kebiasaan alam bawah sadarnya.
Apalagi kali ini menyangkut wanita. Maka jangan dianggap remeh. Apapun bisa dilakukan olehnya. Mengingat calon permaisurinya sudah wafat beberapa tahun yang lalu.
Melihat kehadiran Adistya mengingatkannya kembali kepada almh Putri Campa. Istri tercintanya tersebut.
Raden Alit begitu tidak suka, Narendra ternyata lebih dahulu mengenalnya bahkan sebentar lagi mereka akan menikah.
Yang ada diotak Sang Raden adalah memisahkan keduanya. Merebut Adistya dari Narendra.
Raden Alit termenung. Menyusun rencana licik.
__ADS_1
Back to Narendra dan Adistya.
Kita biarkan sejenak Rase Alit dan rencana liciknya.
Keduanya kini sudah berhadapan dengan Kanjeng Ratu Rajasawardhana.
Tapi jangan dikira mereka duduk di kursi.
Adistya dan Narendra duduk bersimpuh di hadapan sang Prabu yang duduk di atas singgasana kecil di kediamannya. Iya, karena mereka dalam suasana keluarga jadi singgasana Sang Ratu dibuat lebih sederhana.
"Ono opo Cah Bagus... Kowe ngadep nyang aku." ( Ada apa Nak, kamu menghadapi aku? ) Ucap Sang Rajasawardhana penuh kharisma.
"He.. Cah Ayu iki sopo? Ayu tenan...". ( He... si Cantik ini siapa? Cantik sekali." ) Lanjut Sang Ratu memandang Adistya.
Narendra dan Adistya memandang sejenak ke arah sang Prabu namun kembali menunduk.
"Kanjeng Ratu Rajasawardhana ganteng....meski usianya sudah tidak muda lagi." Gumam Adistya dalam hati.
Kanjeng Rajasawardhana nampak manggut-manggut mendengar penjelasan Narendra.
"Aku tau krungu asmane Baba Wang Se kasebut, nanging ora *** weru wujud e. Tibak e Wang Se duwe anak ayu tenan." ( Aku pernah mendengar nama Baba Wang Se. Tapi belum pernah bertemu orangnya. Ternyata dia memiliki anak secantik ini.) Puji sang Prabu.
"Ngapunten Kanjeng. Dalem ganggu ngaso Panjenengan. Kulo kalian Adistya bade nyuwun restu. Kulo bade akad kalian Adistya." ( Maaf Kanjeng. Saya mengganggu istirahatnya. Saya sama Adistya memohon restu, karena kita akan menikah. )Kanjeng Rajasawardhana menatap keduanya bergantian.
"Kapan iku Cah Bagus?" ( Kapan itu, Nak ) Tanya Kanjeng Ratu
"Ingkang Gusti ngersaken Benjeng Kanjeng." ( Jika Diizinkan Tuhan, besok. Kanjeng ) Ucap Narendra percaya diri.
__ADS_1
"Aku makili Romomu mung iso maringi restu lan dungo... acara e lancar. Seserahan engkok ben di urus karo Garwa padmiku." ( Aku mewakili Bapakmu hanya bisa memberikan restu dan do'a.. Acara e lancar. Seserahan biar nanti di urus permaisuriku. ) Tegas Kanjengbl Ratu Rajasawardhana
"Kanjeng, dalem nggeh nyampe aken.Sak rampung e akad. Kulo kalian Adistya tulak ten njobone Trowulan. Kulo nyuwun restu dados kawulo biasa." ( Kanjeng, saya juga menyampaikan setelah menikah. Saya dan Adistya akan keluar dari Trowulan. )
Pernyataan Narendra tentu saja membuat Sang Prabu Terbelalak.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
*R****atu : pada saat sekarang mengalami penyempitan makna.
Makna zaman dulu adalah semua penguasa tak kenal laki-laki atau perempuan disebut Ratu.
Pada zaman sekarang Ratu adalah sebutan untuk penguasa perempuan.
Sedangkan pada zaman Tribuawana Tunggadewi, beliau disebut Rajaputri.
Untuk membedakan dengan Ratu laki-laki.
Emban : dayang, pelayan istana.
Gaess... jika ada kata-kata yang belum dipahami maknanya. Kalian tulis di kolom komentar ya... Insya Allah aku jelaskan.
Maaf yaa kalo ada typo di sana sini.
Dukung terus yaa...
Yang udah kasi 👍🏻 like, 📝 komen, 💯 vote and ⭐5 Rate juga udah masukan karyaku dengan ❤ di rak bukunya...
__ADS_1
aku ucapin makasii banyak yaa...
I love you... 😘😘😘***