Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Sadar


__ADS_3

Sudah seminggu, Adistya masih belum siumanan dari pingsannya.


Narendra semakin cemas. Luka di bahu Adistya sudah mulai ada perkembangan. Luka itu mulai manutup sedikit demi sedikit.


Wajah Adistya juga sudah mulai cerah. Meskipun masih dengan posisi terpejam.


Narendra, Baba dan Emak tetap setia bergantian menjaga Adistya.


Bobok dari tabib dan Baba tetap diberikan bergantian oleh Narendra dan Baba. Sesekali Sang Ratu Rajasawardhana menengok calon menantu kemenakanannya itu.


Sang Kanjeng nampak begitu sedih melihat kondisi Adistya. Apalagi tragedi itu terjadi di istana. Petugas keamanan yang diminta mencari pelaku sampai sekarang belum menemukannya.


Apakah sesulit itu?


Pertanyaan itu terus membayangi benak Narendra.


Ataukah pihak keamanan sengaja menyembunyikan kenyataan, karena pelakunya adalah anggota kraton?


Berbagai spekulasi Narendra gumamkan. Tapi tetap tidak ia temukan jawabannya.


Narendra menatap wajah kekasihnya yang terpejam.


"Kamu masih tetap cantik, walaupun terpejam tanpa make up apapun." Gumamnya lirih.


"Dis, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan waktu itu? Kenapa? Kenapa dengan kediri? Ada apa di sana sebenarnya. Ayolah, Dis.. buka mata kamu. Katakan..." Bisik Narendra lirih.


Air matanya tumpah. Terdengar begitu menyedihkan.


"Den... Raden kudu kuat, sing sabar... ikhlas, pasrah marang Gusti ingkang Moho Kuoso." Kata seorang emban yang begitu setia menemaninya menjaga Adistya.


( Den... Raden harus kuat, yang sabar... ikhlas, pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.)


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Sepuluh hari berlalu...


Kondisi Adistya masih sama...


"Dis..., bangun...." Bisik Narendra.


Narendra tak pernah bosan membisikkan kata-kata dan cerita tentang apapun kepada Adistya.

__ADS_1


Bahkan terkadang Narendra menceritakan pertemuan mereka di masa modern. Adistya dalam pingsannya terkadang menyunggingkan senyumnya. Walaupun hanya segarie tipis yang simetris.


Tapi senyum itu menandakan adanya kehidupan dari wanita tersebut.


"Baba, Baba kaliyan Emak sampun dahar?" Tanya Narendra. Sudah sepuluh hari pula Baba dan emak Adistya tinggal di kraton menjaga Adistya.


(Baba, Baba dan Emak sudah makan?)


Bukan tak pernah, bahkan setiap hari baik Baba maupun Emak selalu meminta izin untuk pulang dan membawa Adistya pulang. Tapi Narendra tak pernah mengizinkannya.


Narendra khawatir, jika Adistya berada diluar jangkauannya. Sesuatu yang lebih menyakitkan akan terjadi diantara mereka berdua.


"Uwis, Cah Bagus." Sahut Emak.


( Sudah, Nak. )


"Ba, Mak... nalika Adis wis tangi. Akad kudu ndang di lakoni." Ujar Narendra dengan memandang wajah Adistya yang masih menutup matanya.


( Ba, Mak. seandainya Adis siuman. Pernikahan harus segera dilakukan. )


" Kulo kaliyan Emak niki manut mawon, Den.." Ucap Baba pelan.


( Saya dan Emak menurut saja, Den )


"Ba.. Adis, Ba..." Teriak Narendra.


Tangan Adistya bergerak pelan.


"Awwwh...." Erangan kesakitan keluar dari bibirnya.


Matanya mulai terbuka pelan-pelan. Menutup lagi.


"Dis, Nduk kowe kerungu suarane Baba. kan... Piye rasane. Opo sing mbok rasakne? Endi sing loro,Nduk?" Ucap Baba was was.


( Dis, Nak kamu dengar suara Baba, kan. Bagaimana rasanya? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit, Nak?")


"Adis..." Suara Emak


"Dyah Adistya Shexien, sadarlah... kita semua menunggumu." Suara Narendra.


Adistya, dalam posisinya yang merem melek, ia bisa mendengar semuanya. Tapi matanya masih terlalu berat untuk membuka sempurna. Seluruh tulang dan sendinya terasa sakit semua.

__ADS_1


Bibirnya masih susah untuk berbicara. Tubuhnya terasa begitu lemah.


Adistya saat ini hanya mampu menggerakkan jarinya. meski lemah.


"Emak... iya.. ini Emak..." Batin Adistya. Ia menyentuh jemari Emak orang yang paling dekat dengannya saat ini.


Emak yang menyadari jemari Adistya bergerak ke atas jemarinya. Segera meraih dan mengenggam jemari gadisnya itu.


Emak menciumi jemari anaknya. mencium pipinya seperti dulu sewaktu Adistya masih bayi.


Adistya tersenyum, meski masih dalam memejamkan matanya. Karena sungguh terasa berat untuk membukanya.


Baba, akhirnya duduk di sisi lain ranjang Adistya. Melakukan hal yang sama seperti Emak. Menggenggam jemari putri kesayangannya. Tapi hanya menatap wajah sayunya. Membelai rambut rambutnya dengan sayang.


Narendra hanya bisa menyaksikan keluarga itu saling memberi kehangataan.


Mata Narendra menampakkan kerinduan. Kerinduan akan sosok ibunya. Ibu yang tak pernah dia ketahui.


Ayah. bahkan ayahnya dulu sibuk untuk urusan negara dan wanitanya. Menengokpun hanya dikala ia sempat.


Narendra melalui semua masa kecilnya dalam asuhan seorang emban. Dia bersyukur emban yang mengasuhnya sangat baik.


"Cah Bagus, mreneyo, Le..." Pinta Emak kepada Narendra. ( Nak, kesini...)


Narendra menuruti permintaan Emak. Mendekat ke ranjang.


"Adistya, Le... Dewek e kangen kaliyan Raden. Ba, ndang disiapke jamu gawe Adistya. Ben ndang iso mbuka mripat e.." Ajak Emak seolah memberi ruang kepada Narendra dan Adistya.


( Adistya, Nak... Dia kangen sama kamu. Ba, ayo kita siapkan obat untuk Adistya. Supaya cepat membuka mata )


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠


**To be continue...


Dukung terus ya...


kasi ❤ buat dijadikan favorit


👍🏻 untuk like


💬 tinggalkan komen

__ADS_1


💯 kasih vote


⭐5 klik bintang 5 untuk rate**


__ADS_2