Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Tontonan


__ADS_3

Ica hanya terdiam di dalam mobil. Menatap ke arah luar jendela mobil.


Sesekali terdengar lenguhan nafas panjang mereka bertiga. Ketiganya seakan kehabisan kata. Dan bahkan jika ada yang ingin berbicara ketiganya enggan bersuara.


Lalu lintas hari ini sangat lengang , sehingga Aksa hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di rumah Ica.


"Ca... Udah sampai.. Kamu mau di mobil ?" Suara Zain membuyarkan lamunan Ica.


"Oh...eh.. iya bentar aku turun." Seru Ica.


Ica menerima kontak mobilnya dari Aksa. Dan langsung masuk rumah tanpa permisi pada dua temannya.


"Gak sopan banget tuh cewek. Main ngeluyur aja...."Omel Zain membuat Aksa tersenyum kecil.


"Kita pamit sama Mbah Oppi sama Mbah Yun dulu Sa." Ajak Zain menemui kakek nenek Ica.


"Pakde wangsul rumiyen." ( Mbah pulang dulu ) Ucap Zain sambil mencium punggung tangan Mbah Oppi dan Mbah Yun diikuti Aksa.


"Ica endi Loo Zain?" ( Ica mana Zain? )Tanya Mbak Yun


"Mlebet kamar Budhe." ( Masuk kamar Budhe ) Jawab Zain


"Pancene, arek iku gak duwe dur kok" ( Keterlaluan, anak itu tidak punya sopan santu )Seru Mbah Oppi sambi berjalan menuju kamar Ica.


"Ca...Zain arep pamit mole iki loo." ( Ca... Zain mau pamit pulang ) Seru Mbah Oppo sambil mengetuk pintu kamar Ica.


Tak lama kemudian terdengar suara gagang pintu disentuh dari dalam. Ica keluar dengan muka lecek. terlihat capek sekali.


"Loo... lagi loro to Nduk?" ( Loo, sakit Nak? ) Tanya Mbah Oppi kaget melihat kondisi cucunya.


"Mboten Mbah, mung kesel mawon." ( Tidak Mbaaa, hanya capek saja ) Sahut Ica tak bersemangat.


"Ca....kita balik dulu yaa.. istirahat ntar malem kita nonton layar tancep. Okay.." Kata Zain sambil mengangkat jempolnya.


Tanpa bersuara Ica membalas ucapan Zain dengan jempol pula. Dan langsung menutup kembali pintu kamarnya. Membiarkan Mbah Oppi berdiri mematung di sana.

__ADS_1


Mbah Oppi hanya menggelengkan keoalanya melihat tingkah Ica yang selalu seenaknya saat kelelahan. Orang tua itu melangkah kembali ke ruang tengah dimana Mbah Yun masih duduk dengan santai menonton televisi.


\=====================================


.


Ba'da maghrib atau sekitar pukul setengah tujuh an.


Zain dan Aksa udah nongol lagi di rumah Ica.


Sesuai janjinya mereka bertiga mau nonton layar tancep.


Mungkin bagi Ica, layar tancep tak ubahnya seperti nonton bioskop yang bisa dia nikmati kapan saja di Surabaya. Gedung bioskop saat ini sudah banyak yang menawarkan berbagai fasilitas pengunjungnya.


Tapi yang ingin mereka kenang adalah masa dimana mereka belum bole keluar malam karena jalanan desa yang selalu sepi begitu hari menjelang malam.


Dan biasanya para orang tua hanya bole mengizinkan putra putri keluar malam atau hanya sekedar jalan-jalan malam ketika ada warga yang menyewa hiburan kayak sekarang. Istilah gaul di sana nee "Tanggapan" 😀


Begitu Zain dan Aksa nongol, Ica langsung menyambut dengan girang. Dia udah siap sejak sepuluh menit yang lalu.


Aksa hanya bisa memandang kagum ke arah Ica. "Kenapa sih, apapun yang dipake Ica kok bikin dia selalu cantik." Gumamnya dalam hati.


"Berangkat..." Ajak Ica


"Beneran nee kamu gak bawa apa2 gitu?" Aksa merasa heran dengan Ica. Karena Ica tidak membawa apapun ditangannya. Bahkan dompet atau tas tidak nampak di pegang.


Zain tertawa ngakak denger ocehan Aksa. "Ica bawa dompet? Bawa tas? Dia mah gak butuh barang begituan. Mana duit kamu Ca?" Suara Zain terdengar terbata-bata karena masih dengan tawanya yang belum reda.


"Neee... " Kata Ica sambil.mengeluarkan lembaran uang lembaran warna merah, biru, ungu, coklat, abu-abu dan ada juga uang koin di kantong lainnya yang jumlahnya bertingkat mulai selembar sampai sepuluh lembar. Mulai satu sampai dua puluhan koin.


Melihat itu Aksa, tidak bisa menutupi kegeliannya. Ada senyum lebar terlukis dibibirnya.


"Kamu tuuh cewek mode apa sih, Ca?" Pertahanan Aksa benar-benar runtuh karena seorang Ica yang bukan cewek biasa.


Gimana enggak, disaat cewek lain berebut merk tas model terbaru edisi limit, nih cewek malah gak butuh tas satupun. Padahal bukan hal yang sulit bagi Ica untuk beli. Secara ekonomi keluarga Ica mampu.

__ADS_1


"HP, mana?" Zain mengabsen barang Ica


"Ini..." Sahut Ica sambil ngeluarin hpnya dari kantong yang lain pula. Kayaknya itu kantong rahasia gitu. karena Ica butuh membuka sebuah resliting untuk mengeluarkannya.


Dan lagi-lagi Aksa menyaksikan dengan melongo begitu saja. Parahnya lagi Zain sama Ica memergoki bahasa tubuhnya yang lagi super heran plus kagum.


"Kenapa, Sa? Gak usah terlalu kagum entar nee cewek malah ge-er dan songongnya keluar." Kata Zain sambil menepuk nepuk pipi Aksa yang masih terdiam.


Aksa meringis mendengar ledekan Zain.


"Ih... jijay lihat kemesraan kalian... kalo masih pengen lanjut tuuh kamar aku kosong. Jangan di luar bikin malu daku saja." Seru Ica sambil menggedikkan bahu seakan benar-benar muak sama kedua temannya itu.


" ikhlas Ca, kita jadi hombreng gara-gara kamu.. " Omel Zain


"Ikhlas ikhlas saja..." Kata Ica cuek, sambil berlalu dari hadapan keduamya


"*****.... Aku yang gak ikhlas... Masih demen liat cewek bening neee... " Umpat Aksa


Haaa haa haaa.... Terdengar tawa mereka bertiga dijalan desa yang ramai warga berbondong-bondong ke lokasi tontonan.


\=====================================


Gimana pren?


Masih mau lanjut kan?


Masih kepo kan?


Terus support aku yaa...


like, komen, vote dan rate


aku masih butuh semua itu u/ kelangsungan karya ini


Makasii yaa pren...

__ADS_1


__ADS_2