
Ica menapakkan kakinya ke area persawahan berundak dengan hati-hati. Kaki telanjangnya yang halus membuat lumpur dan beberapa rumput liar terlihat menempel.
Kaki mulusnya tampak bercak-bercak penuh lumpur, tidak seperti Ndoro Ayu lain yang hanya bisa duduk manis di rumah tanpa melakukan pekerjaan kasar.
"Ndoro Ayu!" teriak Mbok Ra yang berada tak jauh dari Ica.
Gadis itu menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan salah satu emban kesayangannya.
"Ada apa, Mbok?" tanya Ica.
"Ndoro Ayu Ndak perlu ke sawah langsung. Biarkan Dimas saja yang melakukannya. Ndoro Ayu sebaiknya temani Ndoro Bagus," tutur Mbok Ra dengan wajah cemas.
"Ndak apa-apa, Mbok. Aku juga ingin melakukan seperti yang biasa Kang Mas lakukan," sahut Ica mengelus pundak Mbok Ra.
Ia seakan ingin menyampaikan pemberitahuan bahwa dirinya bisa kuat dan tegar menggantikan posisi suaminya di area pertanian.
"Ndoro, nyuwun duko. Amper saene, jenengan balik dalem mawon. Kulo kale Dimas mawon engkang Ten sabun," sanggah Mbok Ra yang masih tidak rela Ndoro Ayunya turun ke sawah.
Ica segera berbalik menatap ke arah Mbok Ra dan Dimas yang sudah ada di belakangnya..
"Baiklah, saya akan balik ke rumah." seru Ica mencari alas kakinya.
Setelah membersihkan kakinya dari lumpur, wanita berparas ayu itu melangkah perlahan menuju rumah.
Gegas ia berlari kecil begitu membuka dan masuk rumah.
"Mas, Kang Mas," seru Ica mencari keberadaan suaminya karena tujuannya pulang untuk menemani Narendra.
Wajah Ica tampak lega mendapati suaminya sedang tertidur di atas bale-bale kamar.
Ica meletakkan telapak tangannya ke dahi suaminya, memastikan kondisinya baik-baik saja.
Kondisi kamar mereka memang sangat berbeda dengan kamar Ica di masa sekarang.
__ADS_1
Yang terlihat jelas ranjang. Ranjang yang mereka pakai sekarang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang menawan. Tidak ada kasur empuk, hanya selembar tikar pandan sebagai alas.
Sedangkan di waktu modern, ranjang Ica terasa empuk karena bahan pembuatannya sudah menggunakan tekhnologi canggih.
Namun, bagi Ica semua sama-sama nyaman karena di kedua dunia berbeda tersebut ia masih ditemani suami yang sama.
Ica sangat bersyukur sebab sejak di masa lampau, ia memiliki suami yang sama.
"Alhamdulillah, panasnya sudah turun," kata Ica lega seraya menurunkan tangannya.
"Diajeng," ucap Narendra tersenyum kecil melihat istrinya duduk menemaninya yang sedang tidak enak badan.
"Iya, Kang Mas," balas Ica.
"Maaf ya, aku harus sakit," kata Narendra.
"Setiap orang itu tidak ada yang mau sakit. Aku yakin Kang Mas diberi ujian sakit karena ada maksud dan tujuannya." Ica yang saat ini melebur menjadi Adistya mengelus lembut wajah suaminya.
Seorang pria yang selama ini begitu kuat menghadapi ujian apapun, bisa tumbang juga.
"Anggap saja Allah memang menyuruh Kakang untuk istirahat. Selama ini Kakang selalu bekerja keras demi kita. Sekarang saatnya Kakang istirahat." Adistya memijit pelan kaki suaminya.
"Kakang istirahat saja sementara. Ndak usah mikir sawah dan ternak. Semua sudah diurus sama Mbok Ra dan Dimas," tukas Adistya meyakinkan suaminya untuk tetap tenang.
Narendra mengalami demam sudah lebih dari tiga hari. Awalnya Narendra menganggap sakitnya hanya sakit biasa, sehingga tidak ia rasakan.
Namun, semakin hari demamnya semakin tinggi. Adistya yang memergoki suaminya menggigil menjadi cemas.
Adistya yang tidak banyak mengenal gejala berbagai penyakit mengandalkan obat herba yang dibuat Mbok Bano, tetapi belum banyak ada perubahan.
Suaminya masih lemah dan demam. Adistya dan para emban turut gelisah memikirkan Ndoro Bagus mereka sakit.
"Mbok, tadi Mbok Bano bikin ramuan apa?" tanya Adistya saat emban kesayangan suaminya itu masuk.
__ADS_1
"Air kepala saja, Ndoro," ucap Mbok Bano ketakutan.
"Ya udah, kita ke dapur bikinin Mas Narendra obat penurun panas," ajak Adistya meninggalkan Narendra sejenak.
"Bi, tolong disiapkan kunyit dan temulawak," titah Ica sembari mengeluarkan wadah berisi aneka bumbu dapur.
"Baik, Ndoro," balas Mbok Bano hormat.
"Berapa, Ndoro?" tanya Mbok Banulo begitu menemukan bumbu yang dimaksud Adistya.
"Satu ruas aja, Mbok," seru Adistya.
Saya minta tolong siapkan air ya, Mbok!" titah Adistya yang mulai sibuk mencuci dan merajang kunyit dan temulawak.
Adistya meramu kedua bumbu tersebut dengan penuh cinta dan doa untuk kesembuhan Narendra.
"Gula, Mbok," titah Adistya.
"Garam, Mbok."
mbok Bano dengan cekatan membantu Adistya.
***
"Mas, diminum dulu obatnya!" seru Ica membangunkan Narendra.
Pri itu menurut saja saat Adistya menyuapkan minuman berwarna kuning itu.
Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk membalas. Sehingga, ia pasrah apapun yang dimasukkan ke dalam perutnya, selama itu bukan racun.
"Bagimana kamu bisa memasak dengan cepat? seru Narendra.
***
__ADS_1