Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Jangan Kediri


__ADS_3

Masih di Kraton


Adistya berkeliling taman ditemani seorang Emban. Sedangkan Narendra menghadap sang Garwa padmi bersama Kanjeng Ratu Rajasawardhana.


"Mbok.. sopo sing nandur wit-wit an iki. Kembange akeh tenan panunggalane." ( Mbok.., siapa yang menanam tanaman iki? Bunganya bermacam-macam? ) Tanya Adistya sambil duduk bangku kayu semacam kursi taman, dibawah pohon rindang.


"Ngapunten Ndoro Ayu, Teros e cerita ingkang ndugi Emban-emban sepuh. Ingkang ngeragati wit-wit an meniko. Gusti Kanjeng Gayatri." ( Maaf Nona, Cerita dari Emban yang lebih tua yang merawat tanaman ini Permaisuri Gayatri. ) Cerita Embaan tersebut.


"Mbok, Mbok... momong KangMas Narendra mulai umur pirang sasi?" ( Mbok.., Mbok mengasuh Mas Narendra mulai usia berapa?) Tanya Adistya.


"Kawit Raden Narendra orok, Ndoro..." ( Sejak Raden Narendra bayi, Ndoro...) Jawab Emban.


"Ibunipun Raden Narendra namung Garwa ampeyan. Nangging paling bagus paras e. Kanjeng Ratu ngasihane Ibunipun Raden luwih-luwih. Garwa Padmi nganti meri. Sakmantune Den Narendra lair Garwa ampeyan, ibu Raden Narendra mangkat."( Ibu Raden Narendra hanyalah seorang selir. Tapi memiliki wajah paling cantik. Kanjeng Prabu sangat menyayangi Ibu Raden Narendra.Permaisuri sampai iri melihatnya. Sampai Raden Narendra lahir tapi ibunya meninggal.) Mbok Emban itu bercerita asal usul Narendra kepada Adistya.


Adistya kembali manggut-manggut.


Didalam bilik Garwa Padmi


"Cah Bagus, ojo sungkan. Anggepen aku iki ibumu. Wis opo penjalukanmu bakal tak turuti." ( Anak ganteng, jangan sungkan. Anggao saja aku ibumu. Apa permintaanmu akan ku turuti. ) Titah sang Garwa Padmi.


"Dalem Kanjeng." ( Iya Kanjeng ) Jawab Narendra santun.


Garwa Padmi kemudian memanggil salah satu emban kesayangannya. Meminta bantuan kepada emban tersebut menyediakan seserahan dan tukon untuk pernikahan putra kakak tirinya tersebut.


"Kanjeng, Dalem pamit rumiyen nggeh." ( Kanjeng, saya pamit dulu ) Garwa Padmi hanya mengangguk tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Narendra setengah berlari mencari keberadaan calon istrinya yang tadi ia titipkan kepada emban kesayangannya.


Narendra nampak lega begitu melihat Adistya sedang tertawa tanpa beban bersama embannya itu.


Begitu melihat kehadiran Raden Narendra, Emban terdiam.


"Aku senang melihatmu tersenyum." Kata Narendra membuat Adistya tersipu malu.


Emban yang menemaninya tadipun segera undur diri. Ia sangat tahu diri. Saat ini Ndoronya ingin bersama kekasihnya.


"Mbok, aku jupukno kopi. Kamu mau minum apa Dis?" ( Bi,aku buatkan kopi ) Tanya Narendra.


"Air putih saja."


"Karo banyu yoo, Mbok." ( sama air putih ya Mbok.) Titah Narendra.


"Mas..." Panggil Adistya


"Iya..." Jawab Narendra sambil duduk di sebelah Adistya.


"Mas, aku ndak setuju kalau kita di kirim ke Kediri. Lebih baik kita tetap di sini saja." Ucap Adistya.


"Lhoo kenapa, Dis?" Narendra nampak kaget mendengar permintaan Adis.


"Mas, sebaiknya kita bicara di dalam saja. Aku khawatir kalau aku bicara di sini, bahaya. Karena dinding di sini punya mata dan mulut." Bisik Adistya.

__ADS_1


"Okaylah... Kita ke paviliyunku..." Ajak Narendra.


Adistya berdiri mengikuti langkah Narendra.


Baru beberapa langkah, Adistya melihat sekelebat bayangan melangkah di belakangnya.


Adistya menoleh, seorang pria berpakaian hitam bercadar bersiap dengan keris kecil di tangan kanannya.


Auto Adistya memeluk kekasihnya itu dari belakang.


"Aawwwwh..." Adistya berteriak dengan kencang. Dan langsung terjerembab ke tanah mulus.


Narendra menoleh dan melihat seorang pria melesat kencang sesaat setelah menusuk bahu kanan Adistya. Dan Adistya berteriak kencang.


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠


**Baiklah aku masukkan kata sulitnya ya:


Garwa Padmi \= Permaisuri


Garwa Ampeyan \= Selir


Tukon \= mahar


jika ada yang mau ditanyakan tulis yaa dikolom komentar.

__ADS_1


Harapan siih banyak yang kasi like dan komentar**.


__ADS_2