Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Alasan Tidak ke Kediri


__ADS_3

Narendra mendekat ke ranjang Adistya. Memandang wajah Adistya yang sudah bisa tersenyum sempurna.


Sesekali matanya membuka, tapi menutup kembali.


Narendra duduk di tepi ranjang Adistya. Menggenggam jemarinya. Menciumi jemari lentik itu.


"Adistya terima kasih, sudah bangun hari ini." Bisiknya di telinga Adistya.


Adistya hanya menganggguk perlahan. Karena bibirnya juga masih terasa berat.


"Aku sayang kamu. Cepet sehat ya..." Ucap Narendra dengan senyum menggodanya.


Adistya hanya bisa mengeratkan genggaman jemarinya pada jemari Narendra.


Bibirnyapun terus tersenyum.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Baba, Emak dan Narendra masih dengan telaten menjaga kondisi Adistya yang sudah sadar.


Mereka tetap mengganti bobok Adistya secara berkala. Memberinya obat. Dan Adistya hanya bisa menurut, meskipun dia sempet menolak awalnya karena rasanya yang pahit melebihi obat. ( Ya, namanya saja obat herbal yang benar-benar alami ).


"Mas, makasi ya... udah jagain aku." Kata Adistya yang mulai lebih sehat.


"Aku yang harusnya makasi sama kamu. Udah berani peluk aku waktu itu." Bisik Narendra.


"Sudahlah Mas, Jangan diungkit lagi. Kalo Mas Narendra yang sakit pasti , saya gak akan sanggup dan gak akan kuat melihatnya." Ucap Adistya lirih.


"Dis..., Maafin aku ya.. membuat kamu dalam bahaya.." Ada kesedihan dalam ucapan Narendra.

__ADS_1


Adistya hanya menggeleng lemah. Sambil tersenyum manis.


Hening sesaat, keduanya hanya saling memandang.


"Mas, aku tahu kamu pasti penasaran. Kenapa aku tidak mau ke Kediri?" Ucap Adistya sambil menahan perih lukanya. Teringat ucapannya sesaat sebelum, terjadi penikaman.


"Dis, jangan dipaksa. Kalau kamu masih sakit istirahatlah. Aku akan sabar menunggu." Pinta Narendra.


"Enggak Mas, kalo tidak aku sampaikan sekarang. Kanjeng Rajasawardhana pasti sudah menyiapkan banyak hal untuk kita." Narendra menarik napas panjang membenarkan ucapan Adistya.


Bahkan Kanjeng Prabu sempat mengirimkan utusan untuk mencarikan lokasi kediaman yang tepat untuknya.


Adistya menarik napas panjang, beberapa kali wajahnya nampak meringis menahan bekas lukanya yang masih belum sepenuhnya menutup.


" Mas, dengarkan aku baik-baik. Kekuasaan Kanjeng Ratu Brawijaya II hanya akan bertahan tiga tahun. Setelah ini beliau akan digantikan Ratu Brawijaya III." Adistya kembali meringis menahan kesakitannya.


"Mas Narendra tahu, ketika Prabu Brawijaya III naik tahta pusat pemerintahan Mojopahit akan dipindahkan ke Kediri." Adistya menarik napas panjang kembali.


"Mas Rendra paham maksud Adis, kan?" Adistya masih menatap Narendra dengan hangat.


"Kamu takut, Raden Alit ikut ke Kediri. Begitu kan?" Adistya kembali mengangguk.


"Sangat Mas... Aku takut Raden Alit membayang-bayangi kita terus." Bisik Adistya.


Narendra memeluk Adistya. Masih ada rasa ketakutan dari keduanya menentang seorang the next of kingnya Mojopahit.


"Kita hadapi Mas Alit bersama-sama ya..." Bisik Narendra.


"Iya Mas... Aku selalu ada untuk Mas Narendra." Balas Adistya.

__ADS_1


Emak dan Baba yang tidak sengaja kembali dari dapur menyaksikan keduanya yang berpelukan dalam duka merasa ikut tersayat.


"Sakjane ono kedadeyan opo?" Gumam Baba dalam hati.


( Sebetulnya, apa yang sudah mereka lalui? )


"Mak, awak e dewe kudu piye?" Baba menatap Emak dengan sedih.


( Mak, kita harus bagaimana? )


"Ba... Emak kok kudu nangis.." Suara Emak tersendat karena ada air mata keluar dari sudut matanya.


( Ba.. Emak kok ingin menangis )


"Ojo susah, Mak. Engkok Adistya melu susah. Emak kudu kuat. Ben Adis cepet waras." Hibur Baba.


( Emak tidak bole sedih. Nanti kalau Emak sedih Adistya ikut sedih. Emak harus kuat. Supaya Adis cepat sehat. )


Emak mengangguk, menatap wajah suaminya dengan cinta.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


**Bersambung...


Makasii yaa... untuk supportnya..


Mampir juga ke


πŸ”‘ Istri Tetangga

__ADS_1


πŸ’—Mendadak Ustafzah


See next part yaa**...


__ADS_2