
"Mas, makan dulu, ya!" seru Adistya memohon kepada Narendra untuk makan sebab sejak pagi belum ada asupan apapun yang masuk ke perut.
Bukannya menjawab pria itu malah mematung menatap makanan di piring yang dibawa Istrinya.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Adistya.
Meletakkan piring dari tembikar berisi nasi lembek dan ayam suwir, mirip bubur ayam.
"Enggak, tapi itu makanan apa?" Tunjuk Narendra keheranan.
Adistya balas menatap suaminya kebingungan.
"Serius, Mas? Kamu gak ngerti ini apa?" Narendra menggeleng menjawab kebingungan Adistya.
"Ini bubur ayam, Mas." ucap Adistya menyendok bubur buatannya.
"Coba, deh!" kata Adistya menyuapkan bubur buatannya pada Narendra.
Dengan ragu Narendra membuka mulut, demi menyenangkan hati Adistya yang sudah memasak.
Perlahan pria tampan itu mulai menguyah.
"Enak," gumamnya lirih.
Narendra kembali membuka mulut lebar, meminta jatah suapan dari Adistya.
Wanita itu tersenyum lebar, menyaksikan suaminya mulai menyukai masakan yang ia masak.
Segera ia kembali menyuapi Narendra dengan bubur ayam sederhana buatannya.
Sengaja Adistya memasak bubur mengingat kondisi Narendra yang sedang ngedrop.
Sejenak Adistya menatap suaminya yang masih menikmati bubur buatannya.
Mendadak ia tersadar, Narendra dihadapannya bukanlah Aksa - pria yang ia nikahi.
Pria yang beberapa kali juga ikut berpetualang ke dunia lampau.
Narendra yang ia suapi adalah Narendra asli dari bumi Majapahit.
Narendra yang pertama kali ia temui sewaktu tersesat di dunia de javu-nya.
"Kamu masaknya kapan, Diajeng?" tanya Narendra dengan mulut masih penuh bubur
"Pagi tadi, tapi karena Kang Mas masih tertidur saya ndak berani membangunkan," jawab Adistya menunduk.
"Oh, enak sekali. Perutku gak mual lagi," ucapnya seraya mengelus perut ratanya.
"Makasi," ujar Adistya sambil tersenyum.
Tak disangka dalam sehari Narendra sanggup menghabiskan bubur sepanci yang dimasak istrinya.
***
"Sawah, gimana Dim?" tanya Narendra ketika Dimas mengunjungi kamarnya menjelang malam.
Pemuda itu mengabaikan rasa lelahnya, demi mengunjungi pria yang sudah menganggapnya adik itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sae , Kang," jawab Dimas santun.
Pemuda itu menceritakan tanaman-tanaman yang dirawat Narendra di lahan pertaniannya.
Dimas juga menceritakan tanaman mana saja yang siap panen.
Mendengar laporan Dimas, wajah Narendra tampak sumringah.
"Terima kasih, Dim. Kamu boleh istirahat sekarang. Besok kita kerjakan sawah lagi," titah Narendra.
"Enggeh, Kang," jawab Dimas seraya undur diri.
"Oh ya, Dim. Sing mreman nang sawah wong Piro?" tanya Narendra.
"Sesosok, Kang," jawab Dimas hanya menoleh tanpa ada niatan mendekati sang kakak angkat,"
Ia sudah merasa lelah jika harus bolak balik. Beruntungnya Narendra tidak mempermasalahkan.
Pria itu hanya terkekeh melihat tingkah adik angkatnya itu
***
Di teras Ica duduk menghadap ke jalan desa.
Tatapannya jauh ke negeri yang ia tinggalkan. Tempat dimana fisik suami aslinya berada.
Meskipun, bukan yang pertama berada di rumah sederhana hadiah dari sang Prabu. Namun, terasa aneh saja berada jauh dari suami.
Ia berasa salah satu sisinya hatinya kosong.
Apa suaminya juga mencari keberadaannya saat ini?
Helaaan napas besar terdengar sesekali dari hidung Ica.
"Mas, sepi gak ada kamu," gumam Ica dalam hati.
"Di sini ada Mas Narendra bukan Mas Aksa. Secara fisik mungkin kalian sama. Tapi, aneh saja jika bukan kamu." Ica masih membatin.
"Jeng, ono opo kok ngelamun sore-sore?" Narendra tiba-tiba datang dan duduk di samping Ica.
Kondisi Narendra semakin membaik, meskipun masih terlihat pucat Namun, ia sudah mulai bangkit dari bale-bale dan berkumpul dengan anggota keluarga lainya.
Narendra merasakan jenuh yang panjang saat harus rebahan akibat sakit yang ia derita.
Ica yang tengah menopang dagu hanya menoleh sekilas dan kembali menatap ke depan.
Terdengar hembusan napas beratnya yang kencang, Narendra sampai bisa mendengarnya.
"Gak ilok songgowang." Narendra mengingatkan istrinya supaya tidak bertopang dagu.
Ica dengan malas mengubah posisi. Wanita itu menyandarkan kepala diatas tangan kiri yang mengukur diatas meja.
"Jeng, cerita. Ada apa?" tanya Narendra dengan bahasa Jawa khasnya.
Ica menggeleng lirih.
Bukannya tidak mau bercerita, Ica sendiri juga bingung harus bagaimana menghadapi Narendra.
__ADS_1
Selama ini ia banyak bercengkerama dengan Aksa yang diposisi Narendra.
"Jeng, ceritalah! Apa aku ada salah?" tanya Narendra cemas.
Ica kembali menggeleng.
"Ndoro," panggil Mbok Ra yang datang terburu-buru dari dapur.
"Ada apa, Mbok?" tanya Ica menegakkan kepalanya.
"Anu... anu ...."
"Anu, anu apa, Mbok?" sela Narendra menatap Mbok Ra yang napasnya tersenggal-senggal.
""Niku Ndoro ikan yang kita goreng dicuri kucing!" kata Mbok Ra terbata-bata.
"Ndak pa-pa, Mbok. Nanti kita masak lagi buat makan malam," balas Ica sambil tertawa.
"Ndoro Ndak marah?" seru Mbok Ra bingung.
"Lah, lapo aku nesu, Mbok. Wis ora po-po." Ica beranjak dari duduknya dan mengamit lengan Mbok Ra membawa ke dapur.
Narendra menatap kepergian istrinya dengan penuh tanda tanya besar.
"Mendingan aku bantu Mbok Ra daripada lama-lama sama Kang Narendra," gumam Ica dalam hati melawan kebimbangan.
Dari jauh Narendra memperhatikan gerak gerik istrinya yang sedikit mencurigakan.
Adistya tidak biasanya menghindar darinya.
"Adisty, kenapa, ya? Kok, jadi aneh. Apa ada yang salah sama aku?" gumam Narendra menyusul langkah kedua perempuan di depannya seraya menutup pintu karena sudah menjelang surup.
Sebentar lagi sudah maghrib, langit di belahan bumi barat sudah kehilangan kegaranganya. Suasana terang akan digantikan gulita.
Membuat Ica semakin was-was, perasaannya sudah tidak karuan.
Di hatinya yang ada hanya Aksa. Bagaimana dan apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini?
Ia tidak ingin banyak menduga karena hidupnya selalu tidak terduga. Bermacam teka teki selalu bermunculan tanpa henti.
Ica hanya bisa pasrah menghadapi misteri yang kerap tidak disangka.
Malam semakin larut, seluruh penghuni kediaman Narendra sudah kembali ke peraduan masing-masing.
Selepas makan malam Dimas, Mbok Ra dan Mbok Bano pamit masuk ke kamar.
Di ruang tengah hanya ada Ica dan Narendra.
"Diajeng masuk!" ajak Narendra.
Dada iIca kembang kempis tidak karuan. Ada keinginan menolak, tetapi di sisi lain ia tidak ingin menghadirkan kecurigaan pada Narendra.
Tanpa disangka, Narendra mengamit lengan Ica membawanya ke kamar.
***
Bersambung
__ADS_1