
Malam sudah semakin larut, entah jam berapa. Sejak berada di bumi mojopahit keduanya tidak pernah memedulikan jam.
Waktu yang mereka tahu adalah saat subuh, matahari terbit, matahari tepat di atas kepala, matahari menjelang terbenam, matahari terbenam, malam dan tengah malam.
Keduanya sudah berada di peraduannya. Sebuah ranjang dari kayu jati berukir. Tanpa ada kasur empuk dan sejenisnya. Yang ada hanya tumpukan lembaran tikar dari daun pandan.
Ranjang mereka berhias gorden tipis semacam kelambu yang menutup dari serangan nyamuk.
Setelah menutup kelambu penutup ranjang. Adistya segera membaringkan tubuhnya. Terasa sangat nyaman. Setelah seharian ini mengalami banyak peristiwa.
Diliriknya Narendra sudah larut dalam dunia mimpi. Adistya memiringkan tubuhnya. Menatap lelaki yang menikahinya itu.
Entah bagaimana status pernikahannya nanti di dunianya yang lebih modern. Adistya kembali memejamkan kedua matanya. Berusaha mengikuti jejak pemuda di sampingnya.
Adistya terus membolak balikkan badannya, tapi tetap saja matanya seakan tidak mau dipejamkan.
Adistya akhirnya keluar dari kurungan kelambu ranjangnya. Ia duduk di sebuah kursi kayu di samping ranjangnya.
Ia membuka sebuah peti mungil, membuka dan mengambil sebuah lembaran-lembaran yang tersusun menyerupai buku.
Baba memberikan buku itu sebagai.hadiah kepadanya beberapa waktu lalu.
Adistya segera mencairkan sebuah tinta, ia mencelupkan sebuah pen mangsi dan mulai menulis di atas lembaran tersebut.
Ia menulis menggunakan aksara jawa kuno.
**Kira-kira begini bunyinya
*Matur nuwun Kakang sampun ngancani kulo sampai semanten.
Kulo bakal tresno kakang nganti tekan pati***
Adistya kemudian menggambar dua pasangan pria dan wanita yang saling di mabuk cinta.
Menggambarkan dirinya dan Narendra.
Setelah selesai Adistya kembali menyimpan bukunya. Ia melihat permatanya berkilau begitu indah.
Adistya tergoda untuk mengambilnya, menggenggamnya. Membawanya ke ranjang.
Adistya merebahkan tubuhnya, mengenggam tangan Narendra. Memejamkan matanya dengan terus mengenggam permata hijaunya.
π π π π π π π π π π
Suara kokok ayam jantan membangunkan Adistya. Matanya yang masih mengantuk membuatnya masih ingin membungkus tubuhnya dengan selimut.
Selimut lembut dan tebal yang membungkus tubuhnya seakan masih membuat kehangatan dari dinginnya hawa pagi.
Gadis itu memicingkan kedua matanya, menatap sinar menyilaukan yang mengenai matanya.
Bukan sinar matahari, juga bukan sinar dari cahata lampu templek atau lampion. Cahaya apa ini?
Adistya masih dalam kebingungan. Perlahan ia mulai membuka matanya. Menatap sekitar. Tidak ada kelambu yang semalam ia tutup.
Ia menatap cahaya yang menyilaukan matanya, sebuah bohlam. Ternyata sebuah bohlam berdaya 25 watt menyala dengan terangnya.
__ADS_1
Adistya memiringkan tubuhnya. Nampak jelas di sana ada tubuh sedang tertidur pulas.
Ia menatap ke sebalah, seorang pemuda di sana.
Adistya menarik tubuh pemud itu. Agar ia bisa menatap wajah pemuda itu. Matanya Adistya kembali pias. Pemuda itu berwajah sama dengan Narendra.
Adistya bangkit dari rebahannya, ia duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya meraba alas tidurnya. Empuk. Bantalnya. Gulingnya. Semua empuk.
Ia menatap sekeliling. dinding rumah dari batu bata. Ada tirai menutup sebuah jendela.
Adistya menatap pemuda di sampingnya.
"Mas... Mas Aksa.. bangun..." Kata Adistya lirih tapi pemuda itu tetap tak bereaksi apapun.
"Mas... Mas.. Mas Aksa..." Teriak Adistya tapi masih saja pemuda ganteng itu terpejam dengan tampannya.
"Mas... Mas Aksa...bangun..." Kali ini Adistya mengguncang tubuh Aksa perlahan semakin lama semakin kencang.
Sang pemuda ganteng itu akhirnya menggeliat. Melihat Aksa bereaksi, Adistya menghentikan aksi mengguncangnya.
Cowok ganteng itu melirik ke arah gadis yang membangunkannya.
"Apa ini sudah subuh, Dis? Di sini tidak ada jam, sayang." Oceh Aksa sambil menguap.
"Mas, aku Ica..." Seru Ica kemudian.
Membuat pemuda itu langsung melebarkan matanya dan bangkit dari rebahannya. Pemuda itu memutar bola matanya, mengawasi sekelilingnya. Mengedarkan ingatannya ke sana kemari.
"Ca... Kita di kos-anku..." Pekik Aksa sambil memeluk Ica.
"Haaa..." Ica langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Bahkan pelukan Aksa seakan lepas begitu saja.
"Awwwwhh... sakit Ca." Pekik Aksa kesakitan karena cubitan Ica.
"Hee hee.. maaf ya Mas.. habisnya aku kira mimpi." Kata Ica.
"Ca... " Suara Aksa tiba-tiba menjadi melow, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ica. Membawa tubuh Ica dengan lembut ke dadanya.
"Ca, yang kita lakukan... " Bisik Aksa tanpa melepas pelukannya.
"Di sana Ca... Di masa lalu... Apa akan berimbas dengan kamu saat ini. Kita sudah melakukannya berkali-kali di sana." Bisik Aksa dengan nada cemas dan panik.
"Mas... Ica tidak tahu." Kata Ica berusaha tenang walaupun dia sendiri juga panik.
"Bahu kamu Ca.. aku ingin melihatnya." Kata Aksa pertama kali. Mengingat luka yang pernah Ica terima kala itu.
Aksa memutar tubuh Ica sehingga membelakanginya.Perlahan Aksa menarik lengan Ica, memeriksa bahu Ica apakah ada bekas luka di sana.
"Mulus.. Ca bekas lukanya hilang." Kata Aksa girang.
Ica kemudian mengangkat jarinya. Ada sebuah cincin emas melingkar dijarinya.
"Tapi, cincin ini apa ya Mas?" Tanya Ica menunjukkan jarinya manisnya yang dihiasi cincin kekuningan dengan permata hijau.
"Ini kan yang waktu itu." Aksa memegang kepalanya yang mulai terasa pusing.
__ADS_1
"Mas.. Ica harus bagaimana sekarang?" Akhirnya suara panik Ica terdengar.
"Cha...." Aksa mulai menenangkan diri.
Cowok ganteng itu berusaha menguasai emosinya.
"Cha.. kita menikah." Putus Aksa.
"Tapi Mas.. kuliah kita?" Tanya Ica.
"Tetap laanjutkan." Bisik Aksa.
"Ca, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan gadis yang sudah banyak berkorban untuk aku. Bahkan kita sendiri tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kita. Aku akan meminta restu kedua orang tuaku untuk menikahimu, sayang." Aksa semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas.., kita temui Zain. Mungkin dia tahu jawaban semua ini." Ucapan Ica membuyarkan lamunan panik Aksa. Apalagi bayangin kisah Adistya dan Narendra yang terus berseliweran di otaknya.
"Ya Alloh kenapa tidak terpikirkan. Tuh, bocah pasti sekarang juga sedang nungguin kita." Balas Aksa.
Ica menunjukkan senyumnya dengan hati sedikit lega. Ia yakin kunci dari semua ini adalah Zain. Harapannya kini bertumpu pada sahabatnya itu.
Aksa dan Ica segera ke kamar mandi bergantian. Mengganti pakaian mereka. Kebetulan koper Ica ada di dalam kamar Aksa, entah siapa yang meletakkannya di sana.
Setelah sedikit berdandan, Ica dan Aksa segera mencari tahu keberadaan Zain. Entah ada dimana cowok tengil itu.
Aksa melihat teras kos-annya. Di situ ada mobil Ica terparkir.
Aksa akhirnya teringat, terakhir sebelum mereka ke pendopo. Ica memang sengaja meletakkan semua barangnya di kos-annya. Dan waktu itu mereka menggunakan mobilnya.
"Mas Aksa, sudah bangun?" Sapa seorang tetangganya.
"Iya, Bu Saudah." Balas Aksa panik.
"Itu istrinya ya Mas. Kata Mas Zain kemarin. Mas Aksa menikah makanya lama gak pulang." Kata Bu Saudah dengan senyum misterinya begitu melihat Ica keluar dari kos-an Aksa.
Alhasil, ucapan Bu Saudah membuat Aksa dan Ica saling berpandangan tak percaya.
"Ya Alloh Mas Aksa, istrinya cantik sekali. Selamat ya.." Seorang tetangganya yang lain tiba-tiba ikut nimbrung.
"Eh, iya Bu Ita.. makasii yaa.. kenalin ini istri saya panggil saja Ica." Tak urung akhirnya Aksa mengenalkan Ica kepada tetangganya.
"Ada apa ini, Mas?" Tanya Ica.
"Pasti ini hasil karya si Zain." Oceh Aksa tapi tetap membuatnya tersenyum.
Sahabatnya itu benar-benar membuat surprise yang tak bisa mereka cegah.
π π π π π π π π π π π
Kasih β€
Likeππ»
koment π
vote π―π―π― seikhlasnya deeh
__ADS_1
rate β5 yaa..
Tengkyuu yaa reader and viewer semua