
Adistya menepati janjinya kepada Arya untuk bertemu di pasar. Setelah melakukan rayuan-rayuan maut kepada Emak dan Babanya.
"Ndang moleh Nduk nek wis mari. Ojo lali sesok Raden Narendra arep sowan rene. Dadi sesok nang omah ae." Pesan Emak sebelum ia keluar dari pendopo.
Dari jauh Adistya sudah tahu kalo Arya, duduk di bawah pohon sambil memainkan sesuatu.
"Hai..." Sapa Adistya. Mendengar kata yang baru di dengarnya, Arya langsung menghentikan serulingnya dan menoleh ke arah pemilik suara.
Arya tersenyum begitu tahu yang hadir adalah Adistya.
"Eh, Cah Hayu.. ayo rene... lunggoh kene." Kata Arya sembari menepuk -meluk tanah di sebelah kanannya.
"Iku maeng boso coro endi, Cah Hayu?" Ucap Arya begitu Adistya duduk.
Adistya menelaah kata-kata Arya.
"Coro anyar Mas... Ups.." Adistya menutup mulutmu keceplosan memanggil Arya dengan sebutan Mas. Membuat Arya kembali memandanginya dengan aneh.
" Opo iku Mas?" Kepo si Arya.
Adistya blingsatan mencari kalimat yang pas menjelaskan kata yang baru diucapkannya.
"Mas iku, soko kata Kangmas..." Akhirnya Adistya menemukan kalimat yang tepat.
"Adis... aku tau kok.. iku maeng coro melayu. Seperti yang aku pakai sekarang." Jelas Arya , yang kini malah membuat mulutmu menganga lebar.
"Tidak usah bingung gitu. Aku bisa boso melayu kerono tau sinau coro melayu." Kata Arya.
"Oooooo...." Adistya hanya ber o o saja menyimak penuturan Arya. Adistya jadi inget pada zaman ini belum ada istilah bahasa Indonesia, yang ada bahasa melayu.
"Kita gunakan bahasa melayu juga gak pa_pa.." Ucap Arya.
"Baiklah..." Angguk Adistya.
"Suara serulingnya aku suka ....merdu banget... serasa di Sunda." Puji Adistya
Arya menoleh memperhatikan perempuan si sebelahnya. Ia sedikit kagum dengan perempuan berwajah Cina di sebelahnya itu.
Karena jarang-jarang ada perempuan di zaman ini tau banyak tentang segalanya.
"Kamu kemarin pengen ngomong apa sama aku?" Tanya Arya mengalihkan pujian Adistya yang membuatnya tersipu.
" Aku mau nanya raja yang berkuasa sekarang siapa? Ini tahun berapa?" Kata Adistya.
Arya nampak berpikir, terlihat dari kerutan di dahinya. Ia memejamkan matanya.
"Kamu tidak sedang bercanda kan Dis?" Tanya Arya menatap serius Adistya.
"Serius Mas..." Balas Adistya membalas tatapan Arya. Membuat Arya salting.
__ADS_1
"Sekarang tahun 1450 Masehi... yang berkuasa sekarang....."
"Tunggu... .. ?" Potong Adistya cepat.
"Kamu tahu siapa Kanjeng Ratu kita." Arya memperhatikan Adistya yang menunduk dengan mulut komat kamit sedangkan jarinya bergerak di buka di tutup seperti menghitung.
"Majapahit berdiri tahun 1293 - 1309 Raden Wijaya, 1309 - 1328 Jayanegara, 1328 - 1350 Tri Buana Tunggadewi, 1350 - 1389 Hayam Wuruk, 1389 - 1429 Wikramawardhana, 1429 - 1447 Kencana Wungu, 1447 - 1451 Rajasawardhana atau Brawijaya I, ...."
" Berarti sekarang penguasanya Kanjeng Prabu Brawijaya I" Sorak Adistya.
"Seperti habis menang judi aja kamu ...seneng banget..." Ucap Arya sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi betulkan..." Arya mengangguk membedakan jawaban Adistya.
"Ah, sayang banget... gak pas zamannya Prabu Hayam Wuruk saja. Aku kan ngefans banget sama dia..." Kata Adistya.
"Kamu ngomong apaan sih, Dis?" Arya semakin tidak mengerti ucapan Adistya.
"Bukan...Bukan apa-apa kok." Kata Adistya membuat Arya geleng-geleng.
"Berarti Raden Alit sekarang masih belum jadi Raja ya?" Tanya Adistya.
Arya nampak kaget dengan pertanyaan Adistya tentang Raden Alit.
"Kamu kenal sama Raden Alit?" Arya malah balik nanya. Dan dijawab hanya dengan gelengan kepala dari Adistya.
Arya menatap wajah ayu gadis di depannya dengan perasaan khawatir.
"Kenapa?" Arya malah terdiam. Pandangan jauh ke depan.
Tapi ingatannya jauh ke belakang.
Bug..
Bug..
Depp..
Bug..
Wajah dua cogan yang sedang adu kekuatan itu sudah tidak beraturan.
Yang satu Raden Alit dengan kesongongannya sedangkan yang lain Raden Narendra dengan segala kesantunannya.
Keduanya selalu bersaing dalam hal apapun. Tumbuh bersama dalam istana bukan berarti rukun dan damai.
Narendra merasakan ketidaksukaan Raden Alit kepadanya. Sehingga setiap yang dikerjakan Narendra membuat marah Rase Alit.
Terlahir dari ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Prabu Mertawijaya. Ibu Raden Alit atau Angkawijaya tak lain dan tak bukan adalah Kanjeng Ratu Kencana Wungu.
__ADS_1
Sedangkan Narendra sendiri hanyalah putra dari seorang selir Ayahandanya.
Hanya satu keunggulan Narendra ia belajar lebih giat dari Rasen Alit. Namun status ia kalah telak dengan Raden Alit.
Bukan untuk tujuan mengambil alih kuasa Majapahit, Narendra hanya ingin memperbaiki hidup kelak. Tidak bergantung dari istana.
Yuupzz Narendra yang lain adalah Arya. Raden Narendra Arya Kusuma. Bahkan Narendra tak pernah tahu siapa ibunya. Pengasuhnya hanya mengatakan kalau ibunya wafat ketika Narendra masih sangat kecil.
"Mas... Mas Arya baik-baik saja kan?" Adistya nampak begitu cemas melihat temannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Arya menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang menaungi keduanya. Adistya mengikutinya.
Tak sengaja bahu keduanya bertemu. Dan perasaan aneh menyusupi keduanya.
Keduanya merasakan detak jantung yang berdegup begitu kencangnya. Apalagi posisi keduanya yang begitu dekat.
"Kamu jangan bicara tentang Raden Alit, ya.. kalau lagi deket sama aku kayak gini. Aku tidak suka." Ucap Arya seketika membuat bingung Adistya.
"Mas... berarti Putri Campa sekarang ada di Palembang ya...?" Tanya Adistya.
Wajah Arya kembali panik, dengan sedikit memaksa ia memcekal bahu Adistya dan membuatnya menghadap dirinya.
"Putri Campa udah wafat Adistya..." Ujar Arya sedih. Membuat Adistya merasa bersalah walaupun dia tidak tahu apa hubungan Arya dengan Putri Campa.
"1448, Ya Allah benar Putri Campa meninggal tahun 1448 sekarang 1451." Adistya berusaha melepaskan cengkeraman Arya di bahunya.
"Ya sudahlah, besok kita bertemu lagi." Ucap Arya.
"Maaf Arya, besok aku dilarang Emak sama Baba ku keluar rumah. " Bantah Adistya.
"Ya sudah gak pa_pa. Tunggu saja di rumah. Sampai sua besok hari." Ucap Arya sebelum beranjak dari pohon besar tersebut.
Sebelum berlalu, ia melihat Adistya kesulitan berdiri.
Arya menungulurkan kedua tangannya untuk membantu Adistya berdiri. Adistya merasa beruntung Arya menolongnya. Dan hap sekali tarik dia sudah berdiri.
Terlalu kencang membuat wajah keduanya saling bertemu, hampir seperti orang saling berciuman.
Aroma wangi tubuh masing-masing terasa di indra penciuman keduanya.
"Maaf..." Saking malunya auto keduanya saling melepaskan setelah mengucapkan salam perpisahan keduanya berjalan menuju rumah masing-masing.
\=====================================
**🙏 Aih maaf ya... baru bisa upload.
karena episode kali ini membawa banyak sejarah... Jadi Thor harus menyiapkan dengan hati-hati sekali...
Terus dukung Thor yaa...
__ADS_1
like, komen, vote dan rate nya sangat diharapkan
Lop yu pull... 😘😘😘😘😘