Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Keputusan Adistya


__ADS_3

Adistya mendelik terpercaya dengan ucapan Narendra.


Hatinya kacau.


Adistya menarik napas pelan-pelan membuang perlahan.


Flashback


"Dis, KangMas Raden Alit sepertinya tidak terima kalo kita tetap menikah."


"Mas Alit terus ngancam aku."


"Karena itu, aku maukan tanggal pernikahan kita. Habis itu kita keluar dari bumi trowulan. Kamu gak pa_pa kan meskipun gak dapat gelar apapun?"


Pernyataan dan perkataan Narendra yang bertubi-tubi membuat Adistya bingung harus mulai menjawab darimana.


Flashback off


"Mas..." Panggil Adistya sesaat setelah sadar dari keterkejutannya.


Narendra menoleh, memandang wajah kekasihnya yang cemas.


"Mas..., kalau Mas Narendra yakin dengan keputusan ini adalah yang terbaik. Adis ngikut aja..." Putus Adistya.


"Mas, kamu juga ingatkan pesan Zain waktu itu, Kita harus menyelesaikan ini dengan tuntas. Walaupun aku juga tidak paham maksud Zain." Gumam Adistya lirih namun masih bisa didengar Narendra.


"Aku masih ingat semua dan sama.. aku juga belum paham maksud Zain. Kita jalani saja yang menurut aku yang terbaik." Narendra menggenggam tangan Adistya menguatkan dan meyakinkannya bahwa semua akan baik2 saja.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kita. Besok kita menghadap Kanjeng Ratu Rajawardhana. Mohon restunya." Titah Narendra.


"Nanti aku sampaikan ke Baba dan Emak semua." Bisik Narendra.

__ADS_1


Adistya hanya mengangguk.


💠💠💠💠💠💠💠💠


Esok harinya.....


Masih pagi... Narendra sudah nongol di rumah Adistya. Baba dan Emak sampai kaget melihat kehadiran calon mantunya itu.


Kemarin Narendra hanya mengatakan kalau Adis sudah setuju dan hari ini mereka akan menghadap Kanjeng Ratu Rajasawardhana.


Kanjeng Ratu Rajasawardhana adalah pamannya, pengganti ayahnya yang sudah mangkat. Karena itu ia merasa wajib memohon do'a dan restunya sang Prabu.


Adistya menemui Baba dan Emaknya di pendopo.


Adistya sengaja mengenakan gaun khas Tiongkok yang dipesankan khusus dari negeri bambu itu.


Adistya nampak anggun dengan balutan kain khas China berwarna putih. Rambutnya dibere aksesoris jepit mutiara putih. Sangat cantik.


"Ba.. Mak... Adistya pamit nggeh... nyuwun dungo panjenengan. Mugi lancar." ( Ba... Mak.. Adistya pamit..., minta do'anya supaya lancar." Ucap Adistya sambil cium tangan kedua orang tuanya sebelum meninggalkan rumah menuju kediaman Narendra.



💠💠💠💠💠💠💠


Narendra dikawal beberapa prajurit istana. Sebuah kereta kuda sudah menunggu Adistya.


Keduanya masuk ke kereta kuda. ( Zaman semono Gengs... kereta kuda merupakan transportasi mewah...)


Sebuah kereta kuda yang ditarik dua ekor kuda itu melaju perlahan meninggalkan kediaman Adistya.


Mereka membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena hari masih pagi auto aktivitas masih berlangsung di sana sini.

__ADS_1


Sehingga kereta kuda tersebut hanya bisa berjalan perlahan. Narendra dan Adistya tidak keberatan dengan kondisi itu. Mereka berdua sangat maklum.


"Mas.." Panggil Adistya. Narendra memandang Adistya.


"Ndak udah cemas... Kanjeng Ratu Rajasawardha baik Kok..." Bisik Narendra.


Tangan Adistya bergerak-gerak memilin-milik ujung gaunnya yang panjang.


Narendra yang menyadari kecemasan di wajah kekasihnya, segera menggenggamnya.


"Nanti gaun kamu rusak lhooo..." Ucap Narendra mengingatkan Adistya.


"Sayang banget, gaun mahal-mahal harus di pilin-pilin gitu.." Goda Narendra.


"Jadi, Mas Rendra lebih sayang sama gaunku daripada aku. Gitu yaa..." Adis malah sewot.


"Heii.. aku gak bilang gitu..." Ucap Narendra sambil mendekatkan wajah ke wajah Adistya.


Membuat Adistya gemetar, jantungnya berdentang lebih cepat.


"Tapi, Mas.. Emang Mas Narendra pernah nembak aku gitu?" Adistya mencoba mengalihkan degupan jantungnya.


Sejenak Narendra menjauhkan wajahnya. Tangannya memegang kepalanya yang tak pusing sama sekali.


"Kamu udah punya pacar belum?" Tanya Narendra.


"Belum..." Jawab Adistya dengan entengnya.


"Ya udah.. kalo gitu mulai sekarang kamu pacar aku.." Titah Narendra membuat Adistya bengong.


"Gak ada penolakan. Cup... " Satu kecuoan di ubun-ubun Adistya semakin membuatnya bergelut melawan degupan jantungnya yang semakin liar.

__ADS_1


💠💠💠💠💠💠💠💠💠


__ADS_2