
Setelah puas dengan banyak pose bahkan sampai guling-guling mereka lakoni. Mendadak mata Ica menangkap sebuah keramaian.
"Mas, kok kayak ada perayaan" Seru Ica.
"Mana to Ca?" Aksa celingukan menoleh kanan kiri.
"Itu loo Mas di sana." Kata Ica sambil menunjuk ke suatu arah.
Tapi menurut pandangam Aksa, arah yang ditunjuk Ica tidak ada apa-apa. Sepi. Kosong.
"Ca..ada siapa saja?" Tanya Aksa memancing Ica.
"Banyak mas, aku gak kenal."
"Mas ayo minggir, mereka akan lewat sini."
Aksa menuruti permintaan Ica, walaupun ia tidak melihat apapun.
"Ada tandu Mas."
Ica memeluk lengan Aksa dengan kencang.
"Mas, aku kok takut yaa.. ngeri melihatnya."
"Ca.. liat aku."
Ica mengalihkan pandangannya menatap Aksa. Mereka saling bertatap. Aksa melepas kacamata hitam Ica.
Aksa seakan menyalami apa yang dirasakan kekasihnya itu.
"Mas minggir..." Ica menarik tubuh Aksa dengan kasar.
Aksa yang tidak siap tentu saja langsung jatuh. Brug.. Aksa ngerasa ada yang empuk-empuk di bawahnya.
"Awwhh.. mas berat." Seseorang merintih.
Suaranya pas di bawahnya.
"Ya Allooh, Ica.. maaf ya." Aksa langsung berdiri dan membantu kekasihnya untuk bangkit.
"Mana yang sakit Ca?"
"Pantatku."
"Haa haa haa.."
Aksa bisa-bisanya, disaat seperti ini bisa ketawa.
"Mas... itu mereka ngapain?" Ica kembali fokus ke sebuah arah.
Aksa kembali menarik napas panjang. Karena kali ini Aksa benar-benar tidak tahu apa yang dilihat Ica.
"Mas.. mereka pake kostum yang sama persis kayak kamu pake di kraton." Ica mulai menjelaskan.
"Mas mereka sepertinya meletakkan uborampe. Di sudut-sudut bangunan."
"Terus itu ada pria berdiri.
"Mas, dia.. dia... di situ ada Kakang Alit."
Ica masih berdiri kaku menatap ke satu titik.
"Mas, mereka sembahyang."
"Ada pendeta."
"Tandunya untuk siapa?" Tanya Aksa.
"Tandunya aku gak kenal. Dia pake mahkota."
"Mas... mereka kok nyebar uborampe."
"Mereka makan-makan..."
__ADS_1
Aksa menarik napas dalam-dalam. Aksa seperti mengingat sesuatu.
"Ca, kita menjauh dari sini." Ajak Aksa sambil menggenggam tangan Ica.
Mereka berjalan bergandengan menuju bangku di bawah pohon deket penjual minuman yang lokasinya lebih teduh.
"Minum apa Ca?" Tanya Aksa
"Fanta yang jeruk ya Mas." Pinta Ica.
Aksa memilih botol yang diminta Ica dan membuka segelnya lalu menyerahkan pada wanitanya.
"Makasi yaa Mas."
"Hmm.. kalian gitu amat. Beli minum sendiri."
"Lha kan kamu juga tadi mojok sendiri ama Ara. Masa kita ganggu."
"Ica kenapa?"
"Gak tau. Katanya kayak ngeliat perayaan gitu."
Zain menarik napas panjang.
"Kamu tahu apa yang dilihat Ica."
"Dari kalimat-kalimat yang diucapkannya tadi kayaknya aku tahu. Seperti Upacara Sradha." Jawab Aksa.
Zain menarik napas panjang.
"Jelasin ke Ica. Biar dia gak takut. Liat pandangannya terus ke sana.
Mungkin ada kejadian ketika pelaksanaan upacara sradha waktu itu." Ucap Zain panik.
"Ca...Ica..." Panggil Zain.
Tapi sepertinya Ica tidak mendengarkan Zain.
"Ca, kamu lihat apa sayang?" Ica menoleh begitu suara lembut Aksa menyebut namanya.
Ica tersenyum, "Itu yang tadi belum selesai." Jawab Ica.
"Sa, aku serahkan ke kamu." Kata Zain sambil menuntun Ara kembali ke tempatnya tadi sambil menenteng dua botol minuman dingin.
"Berapa semua Bu?" Tanya Aksa kepada penjual minuman di depannya.
"Dua puluh ribu, Mas." Aksa mengeluarkan yang pas. Dan langsung menuntun Ica ke mobil.
"Mau di sini atau pindah?" Tanya Aksa melihat Ica mulai tenang.
"Pindah."
"Okay.. tunggu." Aksa menggeser icon panggilan ke seseorang.
"Zain.. kita balik kanan. Ayo ke mobil." Titah Aksa
Tanpa menunggu jawaban dari Zain, Aksa langsung menutupnya.
Di lokasi Zain
"Gak sopan banget nee bocah. Langsung maen tutup aja. Aku juga belum jawab iya." Gerutu Zain.
"Kita balik, Ra. Sepertinya kondisi Ica bener-bener gak baik." Ajak Zain sambil menuntun Ara ke parkir mobil.
"Memangnga Mbak Ica kenapa. Mas?" Tanya Ara.
"Entahlah. Nanti kamu akan tahu sendiri." Kata Zain.
Zain menatap jok penumpang, Aksa masih memeluk menenangkan Ica.
"Zain, kamu yang bawa ya..!" Pinta aksa pelan begitu melihat Zain melongok ke dalam.
Zain mengangguk tanpa suara.
__ADS_1
"Ra, kita di depan." Kata Zain menatap Ara.
Ara hanya mengangguk dan langsung masuj ke dalam jazz Ica.
Kedua menoleh ke belakang. Memperhatikan kondisi Ica.
"Kita kemana?" Tanya Zain.
"Makan." Sahut Ica.
"Aisshh nee anak.. kita udah pada panik liat dia. Dianya malah ngajak makan." Ucap Zain sambil tersenyum.
Sebagai sahabat Ica, Zain yakin Ica masih waras dan sadar. Karena masih mengingat makanan.
Ha haa haa.. pada taukan porsi makan Ica.
"Aku takut cacing kalian udah waktunya ngasih makan." Oceh Ica tanpa melepas pelukannya dari Aksa.
"Ya udah.. kita makan. Sa, urusan kamu tuuh anak." Kata Zain.
"Siap juragan." Kata Aksa sengaja meledek Zain.
"Sa, kamu jangan mulai deeh.. tauh kasiyan Yayang kamu." Omel Zain.
Aksa hanya terkekeh mendengar omelan Zain.
"Yang, liat si Zain khawatir banget sama kamu." Bisik Aksa ke Ica.
Ica hanya terkikik mendengar ucapan Aksa.
Zain memutar kemudi mengarahkan ke sebuah depot. Di sana mah belum ada resto mewah atau resto cepat saji.
Kalaupun ada itu di pusat kota. Sedangkan Kecamatan Trowulan masuk wilayah administratip Kabupaten. Walaupun terletak di jalan nasional yang menghubungkan Surabaya - Solo - Yogjakarta, tetap saja kondisi alamnya masih pedesaan.
Resto mewah dan cepat saji belum banyak diminati di sana. Kepolosan penduduknya masih natural. Mereka masih bergantung pada hasil bumi.
So, jadinya mereka masuk sebuah depot sederhana tapi untuk rasa gak kalah sama resto mewah.
"Ca, nanti kita jelaskan di dalam." Kata Aksa lembut.
Ica mengangguk.
Di dalam depot, Ica hanya menatap menu yang tersaji. Belum ada niatan untuknya memesan menu makanan.
"Ca.. mau makan apa?"
"Ntar aja.. aku liat sajiannya dulu." Kata Ica.
"Okaylah.. serah kamu." Ucap Zain, walaupun ngerasa ada yang aneh dengan tingkah Ica.
"Mbak, itu dulu yaa... nanti kalo ada tambahan kita panggil." Kata Aksa.
Mbak waitress itu hanya mengangguk. Dan berlalu dari hadapan mereka.
"Ca, coba lihat aku." Pinta Aksa.
Auto Ica langsung menatap Aksa. Aksa tersenyum sambil membelai rambut Ica perlahan.
"Ca, yang kamu lihat tadi di Brahu. Namanya Upacara Sradha. Kalo istilah sekarang namanya Sadran. Orang Jawa bilang Nyadran."
"Upacara ini dilakukan umat Hindu dalam rangka pemujaan untuk arwah nenek moyang mereka yang sudah tiada."
"Di zaman Mojopahit, Kanjeng Ratu Hayam Wuruk pernah melakukannya untuk mengenang Rajapadni. Itu terjadi di Bulan Badra tahun 1284 Saka atau kalo tahun masehi 1362. Kemudian tahun 1408 Saka atau 1486 Sri Girindrawardhana melakukan Perayaan Sradha untuk mengenang dua belas tahun kematian Prabu Singawardhana." Jelas Aksa
"Ketika Upacara Sradha...."
"Tunggu..." Potong Ica.
💠💠💠💠💠💠💠ðŸ’
**Maaf yaa Gengss... Risetnya terlalu lamaa...
Btw tetap kasi aku like, komen, vote and rate yaa**..
__ADS_1