Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Kekhawatiran Narendra


__ADS_3

Adistya memutuskan kembali ke rumah. Ia pun mengajak Mbok Bano beranjak dengan cepat.


Adistya percaya dengan semua ucapan calon suaminya. Tak penting menyaksikan upacara penobatan. Walaupun kelak dia juga akan masuk istana tersebut.


Adistya bergelayut manja di tangan Mbok Bano.


"Ndoro... Ndoro Ayu empon ngeten. Kulo ajreh kalian Ndoro Putri kali Ndoro Kakung." ( Nona... Nona muda jangan begini. Saya takut dengan Nyonya dan Tuan. )Mbok Bano nampak ketakutan.


" Mboten nopo Mbok. Kersane ngeten... Sekedap mawon..." ( Ndak apa-apa Mbok. Biar begini dulu.., Sebentar saja. ) Pinta Adistya lemah.


Mbok Bano akhirnya mengalah. Sebagai pengasuh ia paham kalo Ndoro Ayunya pasti saat ini sedang galau.


Adistya melepaskan tangan Mbok Bano begitu sampai di gerbang rumahnya.


💠💠💠💠💠💠💠


Adistya baru saja memejamkan matanya. Saag suara berisik Mbok Bano memanggil namanya, membuatnya mengurungkan niat untuk tidur.


"Ndoro Ayu, wonten Raden Narendra." ( Nona muda, ada Raden Narendra.)


Adistya merapikan pakaian dan rambutnya sebelum keluar menemui calon suaminya.

__ADS_1


Emak dan Baba sudah terlebih dahulu menemani Narendra di pendopo.


"Nduk..mrene yoo Cah Ayu..." ( Nak, sini nak cantik... ) Titah Baba


Tanpa diminta dua kali Adistya segera duduk bersama kedua orang tuanya.


Narendra tersenyum melirik Adistya yang ternyata benar-benar mematuhi titahnya tadi.


"Mas Rendra..." Sapa Adistya


"Hai Dis..." Balas Rendra


Emak dan Baba kembali heran dengan cara menyapa keduanya. Tapi mereka hanya bisa maklum, aktifitas kedua muda mudi di depannya memang tidak sama dengan zamannya kala itu.


Adistya yang mendengar terbelalak tak percaya memandang Narendra yang duduk tenang di depannya.


"Dalem manut mawon Ba, Mak.. mbok.bile Baba kaliyan Emak maringi izin monggo minongko mboten kulo nggeh manut." ( Saya menurur saja Ba,Mak. Jika Baba dan Enak memberi izin saya ikut tapi jika tidak saya juga nurut.) Ucap Adistya bijak sambil menggenggam tangan Emak.


"Pripun Ba? Monggo Baba mawon ingkang paringi restu." ( Bagaimana Ba? Silahkan Baba saja yang memberikan restu. ) Putus Emak


Baba nampak berat untuk memutuskan karena sebagai orang tua Baba menginginkan pernikahan putri tunggalnya dengan pesta yang meriah.

__ADS_1


Berkali-kali Baba menarik napas dalam-dalam.


"Raden, Baba sakjane enggeh abot Le. Baba maringi restu marang jenengan. Opo Adis wis ngerti bab di ajokae akad e?" ( Raden, Baba sebetulnya juga berat, Nak. Baba memberi restu kalian. Apa Adis sudah tahu kenapa pernikahan kalian harus dimajukan? ) Akhirnya Baba mengembalikan keputusan tersebut kepada Adis.


Adis menatap Baba dan calon suaminya bergantian. Seolah hanya Baba dan Narendra tahu segalanya sedangkan dirinya dan Emak tidak tahu apapun. Karena Adis juga melihat ada keterkejutan di wajah Emak.


Narendra menggeleng pelan.


"Nek ngoten Raden monggo matur ten Adis." ( Kalau begitu silahkan Raden berbicara dengan Adis ) Titah Baba.


Narendra menatap tak percaya ke arah calon mertuanya.


"Raden monggo matur. Kulo kalian Emak mlebet riyen dateng bilik." ( Raden, silahkan. Saya dan Emak akan masuk ke dalam ) Baba sepertinya paham dengan kondisi Raden Narendra yang juga terguncang.


"Ayoo Mak, mlebu dhisik." ( Ayo Bu, kita masuk dulu ) Ajak Baba kepada istrinya.


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠


**To be continue...


Maaf ya... kalo up dari Princess of Majapahit sedikit lama. Saya harus berhati-hati karena novel ini berlatar sejarah.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya semua ya**...


__ADS_2