Princess Of Mojopahit

Princess Of Mojopahit
Nembang


__ADS_3

Raden Alit


Mengusir rasa bosannya, Raden Alit berjalan menuju salah satu sudut taman Kraton.


Dari jauh nampak, seorang wanita sedang tertawa tanpa beban di kelilingi emban-embannya. Sesekali ia seperti menggoda emban-embannya. Tapi sesekali ia juga melihat sang emban memberikan jempolnya kepada wanita tersebut.


Raden Alit memdekati, wanita tersebut.


"Adistya..." Sapa Raden Alit.


"Oh.. Eh...Mas Alit." Jawab Adistya gelagapan di datangi Raden Alit.


Adistya


"Mbok, aku diaturi nembang pok' o?" Pinta Adistya kepada emban-emban yang menemaninya.


( Mbok, aku diajari nyanyi, dong? )


"Dalem mboten saged Ndoro." Jawab seorang Emban.


( Saya tidak bisa nyanyi, Non.)


"Dalem nggeh sami Ndoro. Mboten saged nembang." Ucap emban yang lain sambil menunduk khawatir Ndoronya marah.


( Saya juga sama, Non. Tidak bisa nyanyi )


"Sing temen to, Mbok. Mosok nembang ae ora iso." Goda Adistya sambil tersenyum jahil.


( Yanh benar, Mbok. Mosok nyanyi saja tidak bisa. )


"Saestu Ndoro.." Ucap emban tersebut semakin menunduk.


( benar, Non )


"Yo wis nek ngunu aku sing nembang. Rungokno yo Mbok..." Titah Adistya.


( Ya sudah kalo begitu saya yang nyanyi. Dengerkan ya..)


"Dalem, Ndoro.." Suara emban barengan.


( Baik, Non )


🎡🎢🎢🎢🎡🎢🎢


Sopo sing kuat nandang kahanan

__ADS_1


Sopo seng ora kroso kelangan


Ditinggal pas sayang-sayang e


Pas lagi jeru jerune


Koe milih dalan liyane


Sopo sing kuat di tinggal lungo


Sopo sing atine ora loro


Kenangan sing wis tak lakoni


Tak simpen nang njero ati


Dewe wis ora dadi siji


To wes ben tak lakoni


Nganti sak kuat-kuat e ati


Pesenku mung siji


Sing ngati-ngati


isuk tekan sonten


mergo sadar diri


kulo mboten sinten-sinten


Yo wes ben tak pendem


roso sing ono ing njero dodo


Tetep tak dungakno


mugao urip mulyo


isoku munh nyawang


mugo ora getun


Cukup semanten matur nuwun

__ADS_1


🎢🎢🎢🎡🎡🎡


"Ndoro, tembang e sae tenan.." Seorang emban memberikan jempolnya kepada Adistya.


( Non, suaranya bagus sekali )


"Walah iso wae.. kowe Mbok..." Ucap Adistya sambil sedikit tertawa lebar.


( Walah bisa aja kamu, Mbok.)


🎢🎢🎡🎡🎡🎢🎡🎡


Matur suwun wis gelem ngancani aku


Slalu ono ning susah senegku


Tulis atimu nresnani aku


Kroso tenanan neng jero atiku


"Adistya..." Panggilan seseorang yang sukses membuat kaget dan menatap suara yang menyebut namanya.


Kini hanya ada Adistya dan Raden Alit berdua di taman. Keduanya meminta para emban untuk menjauh.


"Wonten nopo, Kangmas?" Tanya Adistya santun.


( Ada apa, Kangmas? )


"Dis...kapan kalian menikah?" Tanya Raden Alit menggunakan bahasa Melayu. ( Begitu menurut edisi lama sebelum ada bahasa Indonesia )


"Kangmas bisa pakai coro melayu?" Adistya balik tanya ke Raden Alit.


"Iya, aku bisa. Kami, aku dan putra putra Raja majapahit dibekali banyak bahasa. Melayu, Cina, Arab. Tuntutan dari Kraton. Njagani kalo sewaktu-waktu ada tamu dari mancanegara. Kami mampu berkomunikasi." Jelas Raden Alit sambil tersenyum menatap Adistya yang terlihat kagum.


"Ooh... begitu." Sahut Adistya sambil tersenyum.


"Pantesan Kakang Arya waktu itu fasih" Gumam Adistya dalam hati. Mengingat pertemuan pertamanya dengan Narendra yang ia kenal dengan nama Arya.


"Kapan kalian menikah?" Tanya Ulang Raden Alit.


"Insya Allah, minggu depan Kang?" Jawab Adistya sedikit gemetar ada ketakutan di dadanya.


"Oowwhh.. Dis, bisa gak kalo calon pengantin laki-lakinya diganti aku saja?" Ucap Raden Alit dengan suara berat namun ada sedikit gemetar.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


To be continue


jangan lupa kasih like, komen , rate dan vote yaa..


__ADS_2