
Raden Alit
Mengusir rasa bosannya, Raden Alit berjalan menuju salah satu sudut taman Kraton.
Dari jauh nampak, seorang wanita sedang tertawa tanpa beban di kelilingi emban-embannya. Sesekali ia seperti menggoda emban-embannya. Tapi sesekali ia juga melihat sang emban memberikan jempolnya kepada wanita tersebut.
Raden Alit memdekati, wanita tersebut.
"Adistya..." Sapa Raden Alit.
"Oh.. Eh...Mas Alit." Jawab Adistya gelagapan di datangi Raden Alit.
Adistya
"Mbok, aku diaturi nembang pok' o?" Pinta Adistya kepada emban-emban yang menemaninya.
( Mbok, aku diajari nyanyi, dong? )
"Dalem mboten saged Ndoro." Jawab seorang Emban.
( Saya tidak bisa nyanyi, Non.)
"Dalem nggeh sami Ndoro. Mboten saged nembang." Ucap emban yang lain sambil menunduk khawatir Ndoronya marah.
( Saya juga sama, Non. Tidak bisa nyanyi )
"Sing temen to, Mbok. Mosok nembang ae ora iso." Goda Adistya sambil tersenyum jahil.
( Yanh benar, Mbok. Mosok nyanyi saja tidak bisa. )
"Saestu Ndoro.." Ucap emban tersebut semakin menunduk.
( benar, Non )
"Yo wis nek ngunu aku sing nembang. Rungokno yo Mbok..." Titah Adistya.
( Ya sudah kalo begitu saya yang nyanyi. Dengerkan ya..)
"Dalem, Ndoro.." Suara emban barengan.
( Baik, Non )
π΅πΆπΆπΆπ΅πΆπΆ
Sopo sing kuat nandang kahanan
__ADS_1
Sopo seng ora kroso kelangan
Ditinggal pas sayang-sayang e
Pas lagi jeru jerune
Koe milih dalan liyane
Sopo sing kuat di tinggal lungo
Sopo sing atine ora loro
Kenangan sing wis tak lakoni
Tak simpen nang njero ati
Dewe wis ora dadi siji
To wes ben tak lakoni
Nganti sak kuat-kuat e ati
Pesenku mung siji
Sing ngati-ngati
isuk tekan sonten
mergo sadar diri
kulo mboten sinten-sinten
Yo wes ben tak pendem
roso sing ono ing njero dodo
Tetep tak dungakno
mugao urip mulyo
isoku munh nyawang
mugo ora getun
Cukup semanten matur nuwun
__ADS_1
πΆπΆπΆπ΅π΅π΅
"Ndoro, tembang e sae tenan.." Seorang emban memberikan jempolnya kepada Adistya.
( Non, suaranya bagus sekali )
"Walah iso wae.. kowe Mbok..." Ucap Adistya sambil sedikit tertawa lebar.
( Walah bisa aja kamu, Mbok.)
πΆπΆπ΅π΅π΅πΆπ΅π΅
Matur suwun wis gelem ngancani aku
Slalu ono ning susah senegku
Tulis atimu nresnani aku
Kroso tenanan neng jero atiku
"Adistya..." Panggilan seseorang yang sukses membuat kaget dan menatap suara yang menyebut namanya.
Kini hanya ada Adistya dan Raden Alit berdua di taman. Keduanya meminta para emban untuk menjauh.
"Wonten nopo, Kangmas?" Tanya Adistya santun.
( Ada apa, Kangmas? )
"Dis...kapan kalian menikah?" Tanya Raden Alit menggunakan bahasa Melayu. ( Begitu menurut edisi lama sebelum ada bahasa Indonesia )
"Kangmas bisa pakai coro melayu?" Adistya balik tanya ke Raden Alit.
"Iya, aku bisa. Kami, aku dan putra putra Raja majapahit dibekali banyak bahasa. Melayu, Cina, Arab. Tuntutan dari Kraton. Njagani kalo sewaktu-waktu ada tamu dari mancanegara. Kami mampu berkomunikasi." Jelas Raden Alit sambil tersenyum menatap Adistya yang terlihat kagum.
"Ooh... begitu." Sahut Adistya sambil tersenyum.
"Pantesan Kakang Arya waktu itu fasih" Gumam Adistya dalam hati. Mengingat pertemuan pertamanya dengan Narendra yang ia kenal dengan nama Arya.
"Kapan kalian menikah?" Tanya Ulang Raden Alit.
"Insya Allah, minggu depan Kang?" Jawab Adistya sedikit gemetar ada ketakutan di dadanya.
"Oowwhh.. Dis, bisa gak kalo calon pengantin laki-lakinya diganti aku saja?" Ucap Raden Alit dengan suara berat namun ada sedikit gemetar.
π π π π π π π π π π π
__ADS_1
To be continue
jangan lupa kasih like, komen , rate dan vote yaa..