
Waktu terus berlalu, kini di kantin yang berada dikantor pusat kemiliteran terlihat Sean, David dan juga Nicko sedang menikmati makan siangnya. Mereka makan dengan tenang tanpa adanya perbincangan. Setelah selesai makan, mereka baru membuka suara untuk memulai obrolan.
"Oh ya, tumben banget tadi pagi kamu terlambat. Emang kenapa?" Tanya David tiba tiba dengan menatap Sean untuk mendapatkan jawabannya
"Iya, aku juga penasaran. Setahuku, kamu tuh orangnya gak pernah telambat." Ucap Nicko menimpali ucapan David
"Biasalah, ada insiden kecil." Balas Sean singkat dan dengan santainya
"Insiden apa?" Tanya Nicko sangat penasaran begitupun dengan David
"Tadi saat berangkat, aku ketemu sama cewek rese." Jawab Sean sedikit kesal jika mengingat kejadian tadi pagi
*****
"What?!! cowok rese? Siapa?" Pekik Yuki tiba tiba karena ternyata diwaktu yang sama juga, Olive sedang bercerita kepada kedua sahabatnya tentang kejadian tadi pagi, dan saat ini mereka sedang makan di kantin sekolah karena sekarang memang waktunya istirahat sekolah
"Gak tahu dan gak mau tahu." Balas Olive menekankan kata katanya
"Bagaimana bisa kalian bertemu?" Tanya Via penasaran
*****
"Dia kebut kebutan dijalan. Udah tahu jalanan rame, tapi malah main kebut kebutan aja, jadinya kita hampir tabrakan. Padahal kalau dilihat, dia sepertinya masih pelajar." Ujar Sean
"Pasti dia badgirl di sekolahnya, iyakan?" Tanya David menebaknya
"Dari penampilannya sih kayaknya iya." Balas Sean menerka nerka
"Dia cantik gak?" Tanya Nicko tiba tiba dengan tersenyum menggoda, seketika Sean dan David menatapnya penuh arti
*****
"Apaan sih, kenapa nanya gitu coba? Gak penting banget." Kesal Olive dengan pertanyaan sahabatnya yang menurut dia sangatlah konyol
"Tinggal jawab aja kali. Gak usah sewot gitu. Kalo ganteng ya bilang aja." Tukas Via tersenyum menggoda
"Dia... " Ucap Olive sengaja menggantungkan ucapannya agar membuat kedua sahabatnya semakin penasaran
"Lumayan." Seru Olive
*****
"Beneran?" Tanya Nicko seakan tak percaya dengan jawaban dari Sean
"Iya lah, dia emang lumayan aja." Balas Sean dengan santainya
"Terus, apa kesan kamu bertemu dengannya pertama kali?" Tanya David terus menerus layaknya seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat
"Dia ngeselin." Balas Sean singkat, padat dan jelas
****
"Tengil." Seru Olive mengutarakan pendapatnya tentang Sean
__ADS_1
*****
"Agak gesrek." Tambah Sean
*****
"Nyebelin pake banget." Lanjut Olive
*****
"Tapi dia beda dari cewek lain. Meski dia badgirl, tapi dia memiliki pola pikir yang cukup dewasa, padahal usianya masih terbilang sangat muda." Ucap Sean sedikit memuji Olive
*****
"Jujur saja, aku cukup salut sama dia, karna dia begitu peduli dengan lingkungan sekitar. Dia bahkan menegur aku karna kebut kebutan dijalan, karna kata dia itu membahayakan pengguna jalan lain dan aku juga memakluminya untuk itu." Ujar Olive yang juga sedikit memuji Sean
"Ciee... Kayaknya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih." Seru Yuki tersenyum menggoda Olive, begitupun dengan Via
"Siapa yang jatuh cinta coba? Aku kan cuma muji dia, gak lebih dari itu." Tukas Olive
*****
"Tapi biasanya kalau hari pertama ketemu udah ribut, pasti ujung ujungnya jadi cinta, iyakan Nicko?" Ujar David meminta pendapat Nicko dengan sesekali meliriknya
"Bener tuh. Kayak di film-film gitu, tadinya benci jadi cinta." Seru Nicko menimpali ucapan David
"Ya gak mungkin lah aku jatuh cinta sama dia, secara dia tuh juteknya minta ampun. Apalagi dia itu masih kecil." Balas Sean santai kek di pantai
"Tapi jika dia memang anak sma, bararti umur kalian tidak beda jauh dong. Palingan sekitar empat sampai lima tahun. Itu berarti cocok-cocok aja." Ujar David berpendapat
*****
"Uhhh... Bukan tipenya toh..." Ucap Via terus menggoda Olive
"Iyalah, selera aku tuh tinggi. Dan dia tidak apa apanya sama sekali." Balas Olive sedikit menyombongkan dirinya
"Apa tipe cowok idaman kamu?" Tanya Yuki
"Cowok idaman aku? Euummm... Dia harus gentleman." Jawab Olive mulai menyebutkan tipe cowok idamannya
*****
"Pola pikirnya harus dewasa." Ucap Sean yang juga menyebutkan ciri ciri cewek idamannya
*****
"Menerima aku apa adanya, jangan ada apanya." Lanjut Olive
*****
"Sayang sama keluarga." Tambah Sean
*****
__ADS_1
"Kuat, tangguh." Ucap Olive
*****
"Pantang menyerah." Seru Sean
*****
"Dan yang paling penting dia harus tulus dan juga setia." Seru Olive dan Sean bersamaan meski di tempat yang berbeda karena sepertinya mereka sudah sehati, sefrekiensi dan punya ikatan tersendiri
"Banyak maunya kamu." Tukas Via menatap Olive
"Biarin. Ini juga kan untuk masa depan aku sendiri." Balas Olive dengan santainya membuat kedua sahabatnya memutar bola matanya malas
*****
"Oh ya, gimana soal mereka?" Tanya Nicko tiba tiba kepada kedua sahabatnya dengan membicarakan hal yang lain
"Maksudnya The Scorpion King?" Tanya Sean memastikannya
"Yupz... Siapa lagi?" Balas Nicko dengan berbalik tanya
"Seperti yang sudah ku katakan tadi. Saat ini kita hanya bisa menunggu sampai mereka mengirimkan petunjuk yang lain. Tapi selama menunggu juga, kita harus terus berusaha untuk mengetahui markas utama mereka, agar kita bisa menghentikan kejahatan mereka semua sebelum semuanya terlambat." Jawab Sean penuh tanpa keraguan sedikitpun
"Gimana caranya kita mengetahui keberadaan markas mereka?" Tanya David penuh selidik
"Entahlah. Jujur aja, aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Tapi aku akan berusaha semampu aku." Balas Sean sembari menggidikkan bahunya
"Apa kalian tahu? Menurut informasi yang aku dapatkan, mereka juga terkenal sangat hebat dengan penyamarannya, mungkin itu sebabnya kita sangat sulit untuk mencari keberadaan mereka." Lanjut Sean dengan nada yang sangat serius
"Bisa jadi sih. Selama ini juga kita terus kehilangan jejak mereka, mungkin karena mereka selalu menyamar." Ucap David menimpali perkataan Sean
"Jadi mereka juga ahli dalam menyamar. Ck... Benar benar sangat cerdik." Seru Nicko tersenyum miris
Setelah percakapan itu, mereka semua pun melanjutkannya dengan perbincangan ringan untuk mengisi waktu luangnya yang masih tersisa.
Detik berganti dengan detik, menitpun silih berganti, hari haripun terus berubah. Sean dan semua anggotanya sudah mencari keberadaan markas mafia The Scorpion King, namun sayangnya semua itu hasilnya nihil. Kini di kantor kemiliteran pusat, terlihat beberapa tentara sedang melakukan rapat di ruangan yang cukup luas. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang.
Mereka semua duduk dengan mengitari meja besar yang berbentuk persegi panjang dan diatas meja terdapat mic sebagai pengeras suaranya. Selain itu juga, terlihat seseorang yang sepertinya sedang menjelaskan sesuatu yang sangat penting di hadapan semuanya dengan memperlihat sebuah layar yang cukup besar.
"Seperti yang kita tahu, saat ini mafia The Scorpion King terus menerus mengancam kita agar kita membebaskan rekannya. Bahkan mereka secara terang terangan mengirim ancaman tersebut dan kemarin salah satu anggota kita sudah ada yang terluka akibat dari ulah mereka. Beberapa hari yang lalu, mereka memberi kita waktu kurang dari satu minggu untuk membebaskannya atau akan ada jatuhnya korban dari orang yang tidak bersalah." Ujar tentara panjang kali lebar yang berdiri didepan dengan nada tegasnya sembari menatap semua orang di hadapannya.
"Coba perhatikan disini. Mereka sering mengirim ancaman dengan sesekali memberikan gambar binatang yang berbeda beda." Titah sang tentara sembari menunjuk layar besar dengan laser yang ia pegang sedari tadi, seketika semua tentara disana menatap layar tersebut untuk memperhatikannya
"Pada hari Senin tanggal 12 bulan Maret mereka mengirim gambar binatang Paus. Hari selasa tanggal 13 gambar Elang, Hari rabunya dengan gambar Naga, hari kamis gambar Tupai, berikutnya adalah hari jum'at dengan gambar Anaconda. Dan di setiap ancamannya selalu tertulis perhitungan hari secara mundur. Jika menurut perhitungan, ini adalah hari yang mereka tentukan. Itu berarti mereka akan memulai aksinya pada hari ini dan saat ini juga mereka tidak lagi mengirimkan ancamannya yang baru." Ujar tentara itu lagi sembari menunjuk beberapa foto yang tertera di layar tersebut, dan itu membuat semua tentara disana saling tatap dengan penuh kecemasan
Tiba tiba saja ada seorang tentara lain yang memasuki ruangan tersebut dan langsung membisiki sesuatu pada Jendral Buana yang sedang duduk di tempatnya. Seketika Jendral Buana memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya pelan. Sedangkan yang lainnya hanya memperhatikan dengan sedikit mengeryitkan keningnya bingung.
Seketika tentara itu keluar ruangan dan tak lama kemudian sang tentara kembali dengan membawa sebuah kotak yang berukuran cukup besar, lalu meletakkannya di atas meja dihadapan Jendral Buana. Setelah itu, dia pun kembali keluar setelah di beri isyarat tangan dari Jendral Buana.
**Bersambung...
...----------------...
__ADS_1
Bagaimana episode kali ini? Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
Salam manis dari author**...